Agustus 31, 2020

PEMBABAKAN ZAMAN PRASEJARAH : KAJIAN GEOLOGI


Zaman prasejarah yang juga dikenal dengan sebutan zaman praaksara atau zaman nirleka (nir: tidak, leka: tulisan/aksara), adalah suatu zaman ketika manusia belum mengenal tulisan atau aksara. Dengan demikian, pengertian zaman prasejarah adalah zaman yang berlangsung sebelum memasuki zaman sejarah dan belum mengenal aksara. Pembabakan Prasejarah bisa dilakukan melalui dua disiplin ilmu, yaitu Geologi  dan Arkeologi.

Kajian Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan, berdasarkan komposisinya, struktur, sejarah, sifat-sifatnya, dan juga proses pembentukannya, dan orang yang memelajari dan mendalami ilmu geologi disebut geolog.



Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari :

1.      Zaman Arkaekum (Zaman Tertua)

Zaman arkaekum atau Arkaezoikum berlangsung selama kira – kira 2,5 miliar tahun. Zaman ini berlangsung pada saat kulit bumi masih berada dalam keadaan panas sehingga tidak ada kehidupan yang bisa tumbuh. Udara di bumi pada waktu itu masih berupa bola gas yang sangat panas sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan. Di zaman ini aktivitas vulkanik dan tektonik bumi berjalan masif dimana zaman ini bumi sedang dalam proses pembentukan muka bumi (geomorfologi).



2.      Zaman Paleozoikum (Zaman Primer atau Zaman Hidup Tua)

Pada zaman prasejarah berdasarkan geologi ini adalah zaman dimana kehidupan untuk pertama kalinya muncul di bumi dan banyak Flora dan Fauna Pada Zaman Paleozoikum. Kata Paleozoikum diambil dari bahasa Yunani yang artinya Palaio (tua) dan Zolon (Hewan) atau kehidupan purba. Waktu berlangsungnya zaman Paleozoikum adalah kurang lebih antara 542 – 251 juta tahun lalu. Ada enam Pembagian Zaman Paleozoikum yaitu:

Periode Kambrium – Kata Kambrium berasal dari Cambria, nama klasik dari Wales yang menjadi wilayah asal batuan yang dipelajari dari periode ini.

Periode Ordovisum – Nama periode ini diambil dari nama salah satu suku di Wales. Periode Ordovisum diberi definisi oleh Chales Lapworth untuk menyelesaikan adanya perdebatan antara pengikut Roderick Murchison dan Adam Sedgwick pada 1897. Lapisan batuan yang sama di Wales Utara dikelompokkan dalam periode Kambrium dan Silur, dan ditemukan fosil fauna yang tidak memiliki kesamaan dengan lapisan batuan pada kedua periode tersebut sehingga diberi nama sendiri sebagai batuan dari periode Ordovisum. Pada zaman ini hampir semua daerah di sebelah utara dari garis balik adalah lautan, sementara daratannya membentuk benua super bernama Gondwana, yang gerakannya menuju Kutub Selatan.

Periode Silur – Awal dari periode dalam prasejarah berdasarkan geologi ini ditandai dengan adanya peristiwa besar dari kepunahan sekitar 60 persen spesies laut.

Periode Devon – Nama periode ini berasal dari suatu daerah di Inggris dimana batuan Exmoor pertama kali dipelajari. Periode ini juga disebut sebagai masa kejayaan dari ikan tidak berahang dan placoderma yang hidup di periode Devon. Ada dua alur evolusi ikan pada akhir periode ini yaitu ikan bersirip pipih dan ikan bersirip bulat.

Periode Karbon – Nama pada periode prasejarah berdasarkan geologi ini berasal dari lapisan tebal kapur yang ditemukan di Eropa Barat. Selama dua pertiga periode ini disebut subperiode Mississippian dan sisanya disebut sebagai subperiode Pennsylvanian. Kehidupan berupa pohon – pohon konifer sudah muncul pada periode ini. Hutan penuh dengan serangga raksasa, reptil pertama dan berbagai anthropoda. Akhir periode ini ditandai ketika mulainya zaman es di seluruh belahan bumi selatan.

Periode Perm – Ini adalah periode terakhir dari zaman Paleozoikum yang terbagi menjadi tiga periode lagi yaitu Lopongian, Guadalupian dan Cisuarian. Periode ini berakhir dengan punahnya 95 persen spesies di bumi yang memberikan kesempatan berkembangnya kelompok hewan jenis lain seperti mamalia dan burung.




 

3.      Zaman Mesozoikum (Zaman Sekunder atau Zaman Hidup Pertengahan)

Zaman prasejarah berdasarkan geologi ini berlangsung pada waktu 250 hingga 66 juta tahun lalu, dimana pada zaman ini perkembangan reptil berlangsung paling besar. Periode ini juga dikenal dengan nama zaman reptil dan terbagi menjadi tiga periode yaitu:

Periode Triasic – Berlangsung sekitar 250 – 200 juta tahun lalu, merupakan masa transisi dari kepunahan di periode Perm yang gersang menuju periode Jurassic yang subur dan rimbun. Periode ini juga terbagi menjadi tiga, yaitu Triasic Awal pada 250 – 247 juta tahun lalu ketika daratan masih berupa gurun yang gersang dan benua besar belum terpecah. Kemudian Triasic Tengah pada 247 – 237 juta tahun lalu dimana Pangea pecah dan laut Tethys tercipta. Ekosistem pada masa ini telah pulih dari kehancuran dengan pulihnya karang, fitoplankton dan krustacea, juga semakin besarnya spesies reptil. Lalu periode Triasic Akhir pada 237 – 200 juta tahun lalu yang ditandai dengan gelombang panas dan curah hujan sedang yang memicu ledakan evolusi reptil di darat dan munculnya dinosaurus pertama hasil evolusi, dan menyebabkan kepunahan besar yang disebut Trias-Jura.

Periode Jurassic – Berlangsung kira – kira 200 – 145 juta tahun lalu dan juga terbagi tiga yaitu Jurassic Awal pada 200-175 juta tahun lalu dengan iklim yang menjadi jauh lebih lembab dan tropis. Ichthyosaurus, plesiosaurus dan ammon adalah spesies dominan di laut. Di daratan, dinosaurus dan reptil adalah spesies dominan. Jurassic Tengah, 175 – 163 juta tahun lalu dengan perkembangan reptil seperti diplodocus dan brachiosaurus. Hutannya sebagian besar adalah hutan konifer dan merupakan masa puncak hidup reptil. Kemudian Jurassic Akhir pada 163 – 145 juta tahun lalu yang terjadi kepunahan besar karena Pangea terpisah menjadi Laurasia dan Gondwana sehingga permukaan air laut naik dan padang pakis hancur. Mamalia mulai berkembang dalam bentuk yang relatif masih kecil.

Periode Cretaceous – Disebut juga dengan periode kapur sebagai periode terpanjang di zaman Mesozoikum yang terbagi menjadi dua yaitu Cretaceous Awal sekitar 145 – 100 juta tahun lalu ketika dinosaurus berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Lalu periode Cretaceous Akhir pada 100 – 65 juta tahun lalu ketika bumi mengalami pendinginan dan diperkirakan dihantam meteor besar sehingga 75 persen kehidupan di bumi punah.

 



               4. Zaman Neozoikum (Zaman Hidup Baru)

Zaman ini adalah hidup baru yang berlangsung selama 60 juta tahun lalu hingga sekarang. Pada masa ini kondisi bumi sudah lebih baik dan cuaca sudah mulai stabil. Zaman Neozoikum terbagi menjadi dua yaitu:

Periode Tertier – Berkurangnya jenis binatang raksasa pada zaman ini dan munculnya jenis hewan menyusui (mamalia) dan jenis kera, bahkan jenis kera manusia pada akhir zaman tertier.

Periode Kuartier – Zaman prasejarah berdasarkan geologi yang paling penting karena mulai ada tanda – tanda kehidupan manusia, berlangsung selama sekitar 2 juta tahun lalu. Terbagi lagi menjadi :

1. Kala Pleistosen atau zaman Diluvium/zaman esvsekitar 600 ribu tahun lalu yang terjadi perubahan iklim besar di daerah kutub sehingga air laut surut menjadi es dan mengeringkan laut – laut dangkal dan mulai berkembang spesies manusia kera (manusia purba).

2. Kala Holocen atau zaman Alluvium/zaman banjir pada 20 ribu tahun lalu yang membanjiri daratan yang semula sudah kering, ditandai dengan kemunculan Homo Sapiens yang berciri – ciri mirip dengan manusia zaman sekarang.




 

SUMBER :

https://sejarahlengkap.com/pra-sejarah/prasejarah-berdasarkan-geologi

https://history1978.wordpress.com/2011/09/20/pembabakan-zaman-prasejarah-berdasarkan-geologi/

https://geograph88.blogspot.com/2018/04/pengertian-pembabakan-zaman-prasejarah.html

Agustus 28, 2020

PEMERINTAHAN VOC DI INDONESIA (1602-1799)


VOC atau Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti Persekutuan Perusahaan Hindia Timur. Kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur. Rakyat Indonesia kala itu menyebut VOC dengan sebutan Kompeni. Pemanggilan itu didasari dari kata Compagnie. Karena penyebutannya yang susah maka rakyat Indonesia menyebut memanggil mereka dengan sebutan itu. Namun rakyat Nusantara lebih mengenal Kompeni sebagai tentara Belanda bukan sebagai sebuah kongsi dagang.

 

Latar Belakang Berdirinya VOC

 

Keinginan Belanda untuk melakukan monopoli di bidang perdagangan di kawasan Nusantara tidak hanya diinginkan oleh Belanda. Inggirs pun menginginkan hal yang sama untuk mendapatkan rempah-rempah. Sebelum VOC dibentuk, Inggris terlebih dahulu telah membentuk kongsi dagangnya di kawasan Asia pada tahun 1600 yang diberi nama EIC singkatan dari East India Company. Pembentukan EIC telah menimbulkan kekhawatiran dikalangan pedagang Belanda. Awalnya persaingan dagang diantara mereka, kini menjadi kesepakatan untuk menyaingi EIC dan saling bekerja sama.


Penggagas berdirinya kongsi dagang para pedagang Belanda adalah Anggota Parlemen bernama Johan Van Oldebanevelt. Van Oldebadenevel mengajukan usulan agar para pedagang Belanda bersatu untuk membentuk sebuah sarikat dagang. Maka pada tanggal 20 Maret 1602, atas prakarsa Pangeran Maurits dan Oldebanevelt didirikanlah kongsi dagang pertama di Belanda yang disebut Verenigde Oost-Indische Compagnie disingkat VOC atau Perkumpulan Dagang India Timur. Pengurus untuk di pusatnya terdiri dari 17 anggota (Heren Zeventien ).


Untuk mengusung kepentingan VOC diangkatlah gubenur jendral VOC yang pertama yaitu Pieter Both (1610-1614) dengan pusat pemerintahan pertamanya di Ambon, Maluku. Dan pada masa perintahan Jaan Pieterszoon Coen ( 1619-1629 ) setelah merebut wilayah Jayakarta memindahakan pusat pemerintahanya ke wilayah tersebut dan di ubah namanya menjadi Batavia atau Jakarta yang kita kenal Sekarang. nama batavia sendiri di ambil dari salah satu suku asli di Belanda.

 

Kebijakan VOC di Indonesia

Pemerintah Belanda untuk mendukung lancarnya usaha VOC dalam menguasai perdagangan di Indonesia dan dapat melaksanakan tugasnya dengan leluasa. VOC diberikan beberapa hak istimewa (Hak Octroi).  Hal ini dilator belakangi dukungan dari negara Belanda sendiri. Kewenangannya sangat luas dan mendapat fasilitas dari pihak kerjaan Belanda kala itu.

Hak Istimewanya (Hak Octroi) yang diberikan Ratu Wilhelmina pada tanggal 20 Maret 1602 meliputi: 

1.      Hak monopoli perdagangan

2.      Hak mencetak dan mengedarkan uang

3.      Hak mengangkat dan memperhentikan pegawai

4.      Hak mengadakan perjanjian dengan raja-raja

5.      Hak memiliki tentara sendiri

6.      Hak mendirikan benteng

7.      Hak menyatakan perang dan damai

8.      Hak mengangkat dan memperhentikan penguasa-penguasa setempat.

9.      Hak menjalankan kekuasaan kehakiman

 


Dengan wewenang tersebut VOC dapat leluasa untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan manusianya di Indonesia. Untuk mendapatkan keuntungan besar adalah dengan cara melakukan monopoli perdagangan. Oleh sebab itu VOC melakukan pemberlakuan beberapa peraturan dalam menjalankan niatnya namun sangat memberatkan pribumi.

Peraturannya tersebut di antara lain:

Verplichte Leverantie : Memaksa pribumi untuk menjual hasil bumo dengan harga yang telah ditetapkan oleh pihak VOC. Hasil bumi tersebut antara lain lada, kapas, kayu manis, gula, beras, nila serta binatang ternak. Pemberlakuan peraturan ini memaksa rakyat untuk menjual hasil bumi hanya kepada pedagang-pedagang VOC.

Contingenten Stelsel : Kewajiban rakyat untuk membayar pajak hasil bumi mereka

Hak Ektripasi : Hak VOC untuk mengatur peredaran bahan rempah dengan cara menebang pohon rakyat agar harga tidak merosot tajam

Pelayaran Hongi (hongi tochten): Pengawasan perdagangan menggunakan perahu kora-kora untuk menghalangi terjadinya penyelundupan dan pasar gelap. Pelayarn ini untuk mengawasi pelaksanaan perdagangan yang VOC lakukan. Bagi yang melanggar VOC akan menyita barang dagangannya, pelaku akan dipencara, dijual ke pasar budak bahkan terkadang ada yang dibunuh.

Preanger Stelsel : Peraturan ini juga disebut Sistem Priangan. Sistem ini diterapkan di wilayah Priangan pada tahun 1677-1871. Peraturan ini menjelaskan wajib pajak harus membayar pajak bukan berbentuk uang tetapi dalam bentuk hasil bumi yang setara dengan nilai pajak. Bagi yang tidak mempunyai lahan wajib kerja di lahan milik VOC dengan sistem kerja paksa atau rodi tanpa upah.

Penerapan Politik Ekonomi VOC di Indonesia adalah hasil bumi Indonesia menjadi primadona di pasar Internasional khususnya Eropa. Dampak negatifnya terjadi penindasan bagi pribumi kala itu. Dampak positif bagi VOC adalah mereka mendapat keuntungan sebesar-besar untuk mengisi kas pemerintah Belanda. 

 

Sistem Birokrasi dalam Tubuh VOC

Untuk menjalankan wilayah-wilayah di Indonesia. VOC mengangkat seorang Gubernur Jendral yang dibantu oleh empat orang anggota yang disebut Raad van Indie atau Dewan India. Dibawah Gubernur Jendral ada Gubernur yang memimpin daerah. Dibawah Gubernur terdapat residen yang dibantu asisten residen. Ada beberapa Gubernur yang dianggap berhasil mengembangkan usaha dagan dan kolonisasi di Indonesia:

Jaan Pieterszoon Coen ( 1619-1629 )

Antonio van Diemen ( 1636-1645 )

Joan Maetsycker ( 1653-1678 )

Cornelis Speelman ( 1681-1684 )

 


Dalam melaksanakan sistem pemerintahan VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung dengan memanfaatkan sistem feodalisme (pejabat pribumi)  yang sudah berkembang di Indonesia.

 

Kemunduran VOC

Setalah hampir 200 tahun berkuasa dan memberikan keuntungan besar pada pimerintah Belada. Namun hal itu dikotori oleh tindakan korupsi yang dilakukan beberapa pejabat tinggi VOC.  Bahkan pejabat kecil pun melakukan tindakan korupsi. Walaupun pendapatannya besar namun karena korupsi mengurangi kas pemasukan untuk Belanda. Bahkan hutang-hutang pun menumpuk sampai Belanda pun melakukan peminjaman. Pemerintah Belanda akhirnya memutuskan untuk membubarkan VOC pada tanggal 31 Desember 1799. Semua hutang-hutang dan kekayaan VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda. Runtuhnya disebabkan oleh hal-hal berikut :

Banyak pegawai VOC yang korupsi

VOC terjerat banyak hutang

Pengeluaran VOC yang semakin besar akibat melukakan perang

Adanya persaingan yang ketat dari pedagang Eropa

Penggunaan tentara sewaan yang membebani kas VOC

Adanya perang yang terus menerus oleh VOC sehingga memakan biaya yang cukup besar.

Pembagian deviden (laba dari kegiatan perdagangan) kepada pemilik saham walaupun kas VOC mengalami defisit


VOC kemudian diambil alih oleh Belanda (repubik Bataaf / Bataafche Republiek). Pada awal pemerintahannya, Belanda menghadapi permasalahan yang kacau balau akibat dari sistem VOC yang kurang baik. Selain adanya perang yang berkepanjangan di Eropa, Belanda juga ketergantungan terhadap pemasukan berupa impor perak dari VOC yang pada saat itu terhambat oleh blokade yang dilakukan Inggris di Eropa.

 

Perlawanan bengsa Indonesia terhadap VOC

Sejak kedatangan VOC ke Indonesia banyak melakukan penindasan kepada pribumi. Kerajaan-kerajaan yang ada pada saat itu juga merasa terusik. Sudah banyak perlawanan yang dilakukan oleh kerajaan untuk mengusir VOC khususnya di Tanah Jawa. Beberapa perlawanan yang sudah dilakukan diantaranya:

Perlawanan Rakyat Maluku pada 1635 dibawah pimpinan Kapten Hitu menolak Praktik monopoli dengan sistem pelayaran hongi menimbulkan kesengsaran rakyat.

 Perlawanan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung (1613-1645) untuk mengusir VOC dari pulau Jawa.

Perlawanan Kesultanan Makkasar dibawah Pimpinan Sultan Hasanuddin (1654-1670), yang menolak tunduk pada VOC.

Perlawanan Rakyat Banten di bawah pimpinan  Sultan Ageng Tirtoyoso ( 1651 - 1682)

Perlawanan Untung Suropati (1868-1706)

Perlawanan Trunojoyo (1674-1680)


 

Sumber :

https://sejarahlengkap.com/organisasi/sejarah-voc-belanda

https://fkhnissaa.weebly.com/blog/sejarah-voc

https://www.plengdut.com/2012/10/perlawanan-rakyat-dan-bangsa-indonesia.html

 

 

 

 

 


Agustus 24, 2020

KOLONIALISASI PORTUGIS DAN SPANYOL DI INDONESIA

 

Kapal-kapal dagang Eropa
Pada awal abad XVI Bangsa Eropa mulai menjelajahi kawasan Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia yang pada zaman tersebut mungkin nama Indonesia bukanlah nama dari kawasan tersebut, biasanya sering disbut Nusantara oleh rakyat Indonesia zaman dahulu. Pada abad XV bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa yang mencapai kemajuan di bidang teknologi. Salah satunya adalah membuat kapal untuk menyebrangi luasnya samudra untuk meluaskan daerah kekuasaan mereka. Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa, bangsa Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik. Saat itu rempah-rempah menjadi kebutuhan yang vital bagi bangsa Eropa. Selama musim dingin di Eropa, tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup. Kerena itu banyak hewan ternak yang disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan. Untuk itulah diperlukan sekali banyak garam dan rempah-rempah.

Salah satu rempah-rempah yang berharga adalah Cengkeh dari Indonesia Timur. Indonesia juga menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala. Kekeyaan alam nusantara menjadi daya tarik Portugis untuk mengambil kekayaan sumber daya alam yang ada sehingga dapat menguasai pasar rempah-rempah di Eropa.

 

Masa Penjajahan Portugis

Pada bulan April 1511, Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang bulan Juli hingga awal Agustus. Pihak Malaka terhambat oleh pertikaian antara Sultan Mahmud dan putranya, Sultan Ahmad yang baru saja diserahi kekuasaan atas negara namun dibunuh atas perintah ayahnya.

Alfonso de Albuquerque
Malaka akhirnya berhasil ditaklukan oleh Portugis. Albuquerque menetap di Malaka sampai bulan November 1511, dan selama itu dia mempersiapkan pertahanan Malaka untuk menahan setiap serangan balasan orang-orang Melayu. Dia juga memerintahkan kapal-kapal yang pertama untuk mencari Kepulauan Rempah.

Pada awalnya bangsa Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun 1512 dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan, dimana Portugis diperbolehkan membangun benteng di wilayah Sunda Kelapa. namun perjanjian koalisi tersebut gagal akibat sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten.

Bangsa Portugis mengalihkan perhatiannya ke Kepulauan Maluku, yang terdiri atas berbagai kumpulan negara yang awalnya berperang satu sama lain. Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, Portugis mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur, termasuk Pulau Ternate, Ambon, dan Solor, berikut Periode Kejayaan dan pendudukan Portugis di Nusantara:

  • Pada 1511-1526, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi Bangsa Portugis, yang secara rutin menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Maluku, Jawa, Sumatera dan Banda.
  • Pada 1511 Portugis menaklukkan Kerajaan Malaka.
  • Pada 1512 Portugis menjalin Hubungan dengan Kerajaan Sunda untuk menandatangani perjanjian dagang. Perjanjian dagang ini kemudian diimplementasikan pada tanggal 21 Agustus 1522 dalam bentuk dokumen kontrak. Pada hari yang sama dibangun juga sebuah prasasti yang disebut Prasasti Perjanjian Portugal-Sunda. Dengan perjanjian ini maka Portugis dibolehkan membangun benteng dan gudang di Sunda Kelapa.
  • Pada 1512 juga Afonso de Albuquerque mengirim Franscisco Serrao serta Antonio Albreu untuk memimpin armadanya mencari jalan ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing di bawah pimpinan Franscisco Serrao serta Antonio Albreu, mendarat di Kepulauan Penyu dan Kepulauan Banda. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis mendapat izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berjalan lama, sebab Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen. Pertemanan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah berlangsung selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus menyingkir dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon. Kemudian Perlawanan rakyat Maluku akan Portugis digunakan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku.
  • Pada 1605, Belanda berhasil membuat Portugis menyerahkan pertahanannya di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz dan di Ambon kepada Steven van der Hagen. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak itu Belanda dapat menguasai sebagian besar wilayah Maluku. Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada 1602, kemudian sejak itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku.

Sejatinya Bangsa Indonesia meluncurkan berbagai perlawanan kepada Portugis. Salah satu perlawan yang terkenal ialah perlawan Fatahillah yang berasal dari Demak di Sunda Kelapa (Jakarta). kala itu Fatahillah dapat menyapu bangsa Portugis dan merebut kembali Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Kemudian oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta, berikut beberapa perlawanan rakyat nusantara terhadap Portugis:

Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis

Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku hal itu karena rakyat maluku merasa dirugikan oleh Portugis karena keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan rempah-rempah. Pada 1570, Sultan Hairun memimpin rakyat Ternate menjalankan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun berkat kelicikan Portugis Sultan Hairun akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya perlawanan dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis kemudian dapat diusir dari maluku dan kemudian bermukim di Pulau Timor. 

Perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis

Pada saat Sultan Iskandar Muda berkuasa, Kerajaan Aceh pernah menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1615 dan 1629.


Perlawanan Rakyat Malaka terhadap Portugis

Pada 1511, dipimpin oleh Albuquerque armada Portugis menyerang Kerajaan Malaka. Saat itu perlawanan rakyat terhadap kolonial Portugis di Malaka mengalami kegagalan sebab kekuatan dan persenjataan Portugis lebih kuat dari Rakyat Malaka. Pada 1527, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa, Banten dan Cirebon. kala itu Portugis dapat ditumpas oleh Fatahillah dan kemudian Fatahillah merubah nama Sunda Kelapa jadi Jayakarta yang memiliki makna kemenangan besar.

Perlawanan Rakyat Minahasa terhadap Portugis

Perjuangan perlawanan Rakyat Perserikatan Minahasa melawan Portugis telah berlangsung dari tahun 1512-1560, dengan gabungan perserikatan suku-suku di Minahasa maka mereka dapat mengusir Portugis.

 

Pengaruh Bangasa Portugis di Indonesia

Selama berada di Maluku, orang-orang Portugis meninggalkan beberapa pengaruh kebudayaan mereka seperti balada-balada keroncong romantis yang dinyanyikan dengan iringan gitar berasal dari kebudayaan Portugis. Kosa kata Bahasa Indonesia juga ada yang berasal dari bahasa Portugis yaitu pesta, sabun, bendera, meja, Minggu, dll. Hal ini mencerminkan peranan bahasa Portugis disamping bahasa Melayu sebagai lingua francadi seluruh pelosok nusantara sampai awal abad XIX. Bahkan di Ambon masih banyak ditemukan nama-nama keluarga yang berasal dari Portugis seperti da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendoza, Rodriguez, da Silva, dll. Pengaruh besar lain dari orang-orang Portugis di Indonesia yaitu penanaman agama Katolik di beberapa daerah timur di Indonesia.

 

Masa Penjajahan Spanyol

Tibanya portugis di indonesia membuat bangsa eropa lain bergerak mencari keuntungan. Keberhasilan Portugis mendorong bangsa Eropa yang lain untuk ikut mencari untung. Seandainya Portugis lebih memusatkan perhatian di Ternate, Spanyol lebih tertarik bersekutu dengan Tidore. Kemudian persaingan pun terjadi di daerah Maluku.

Spanyol memilih untuk membangun benteng di tidore. Pembangunan benteng membuat persaingan semakin memanas. Dan pada tahun 1527 terjadilah pertempuran antara Ternate dengan bantuan Portugis melawan Tidore yang dibantu oleh Spanyol. Benteng yang dibangun Spanyol di Tidore dapat dirampas oleh persekutuan Portugis dan Ternate. Dan pada tahun 1534 spanyol dan portugis menyepakati diadakan perjanjian Zaragoza, diadakannya perjanjian Zaragoza karena kedua belah pihak menyadari dampak negatif yang ditibukan sangat besar akibat persaingan itu. isi perjanjian itu antara lain:

  1. Maluku menjadi daerah portugis untuk berkegiatan
  2. Spanyol harus meninggalkan portugis dan memusatkan diri di Filipina

Perjanjian ini semakin mengokohkan kedudukan Portugis di Maluku. Dalam melaksanakan monopoli perdagangan, Portugis juga memiliki ambisi untuk menanamkan kekuasaan di Maluku. Itulah sebabnya, rakyat dan raja Ternate kemudian menentang penuh kebijakan Portugis tersebut.

Setalah perjanjian Zaragoza Spanyol memindahkan pusat pemerintahan di Indonesia ke Sulawesi Utara di wilayah Manado dan Minahasa. Minahasa memegang peranan sebagai lumbung beras bagi Spanyol ketika melakukan usaha penguasaan total terhadap Filipina.

 

Pergerakan Mengusir Penjajahan lawan Spanyol

Minahasa juga pernah berperang dengan Spanyol yang dimulai tahun 1617 dan berakhir tahun 1645. Perang ini dipicu oleh ketidakadilan Spanyol terhadap orang-orang Minahasa, terutama dalam hal perdagangan beras, sebagai komoditi utama waktu itu. Perang terbuka terjadi nanti pada tahun 1644-1646. Akhir dari perang itu adalah kekalahan total Spanyol, sehingga berhasil diusir oleh para waranei (ksatria-ksatria Minahasa).

 

Sumbar :

http://www.markijar.com/2016/08/4-masa-penjajahan-negara-asing-di.html

https://insulinda.wordpress.com/2015/09/08/penjajahan-bangsa-portugis-dan-spanyol-di-indonesia/

http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/portugis.html

 

 

Proses Interaksi Masyarakat di Berbagai Daerah dengan Tradisi Hindu-Buddha

Masuknya suatu kebudayaan asing ke dalam lingkup suatu masyarakat dapat menimbulkan tiga kemungkinan: kedua kebudayaan itu akan berakulturasi, berjauhan, atau salah satu hancur. Akulturasi kebudayaan adalah pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang melakukan kebudayaan baru. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat Nusantara ketika terjalin hubungan dagang antara India, Cina, dan Indonesia, terjadilah akulturasi budaya. Akulturasi budaya Hindu-Buddha India dengan budaya asli Nusantara secara damai melahirkan budaya baru yang disebut budaya Hindu-Buddha Nusantara. Menghadapi proses akulturasi tersebut, menurut para ahli, bangsa Indonesia bersikap pasif maupun aktif. Pada awalnya bersikap pasif menerima ajaran-ajaran baru, di kemudian hari aktif mencari ilmu hingga mengirim pelajarnya ke luar negeri dan mengundang brahmana dari luar negeri untuk memberi pelajaran.

Proses akulturasi selama berabad-abad menimbulkan sinkretisme antara kedua agama tersebut dan unsur budaya asli hingga lahirlah agama baru yang dikenal sebagai Syiwa Buddha. Sinkretisme adalah paham atau aliran baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham untuk mencari keserasian dan keseimbangan. Aliran ini berkembang pesat pada abad ke-13 M. Penganutnya, antara lain, Raja Kertanegara dan Adityawarman.

Akulturasi budaya paling mudah kita lihat dalam bentuk kesenian, seperti seni rupa, seni sastra, dan seni bangunan yang merupakan unsur kebudayaan material. Akulturasi budaya ini juga dapat kita saksikan dalam upacara-upacara ritual. Pelaksanaan proses akulturasi tersebut dilakukan oleh para cendekiawan, agamawan, arsitek, sastrawan istana maupun rakyat, dan para seniman.

 

1. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni bangunan

Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dalam bidang arsitektur atau seni bangunan dapat kita lihat dengan jelas pada candi-candi. Ada perbedaan fungsi antara candi dalam agama Hindu dan candi dalam agama Buddha. Dalam agama Hindu, candi difungsikan sebagai makam. Adapun dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan atau peribadatan.

Meski difungsikan sebagai makam, namun tidak berarti bahwa mayat atau abu jenazah dikuburkan dalam candi. Benda yang dikubur- kan atau dicandikan adalah macam-macam benda yang disebut pripih. Pripih ini dianggap sebagai lambang zat jasmaniah yang rohnya sudah bersatu dengan dewa penitisnya. Pripih ini diletakkan dalam peti batu di dasar bangunan, kemudian di atasnya dibuatkan patung dewa sebagai perwujudan sang raja. Arca perwujudan raja itu umumnya adalah Syiwa atau lambang Syiwa, yaitu lingga. Pada candi Buddha, tidak terdapat pripih dan arca perwujudan raja. Abu jenazah raja ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Bangunan candi terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap.

  • Kaki candi berbentuk persegi (bujur sangkar). Di tengah-tengah kaki candi inilah ditanam pripih.
  • Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudan. Dinding luar sisi bilik diberi relung (ceruk) yang berisi arca. Dinding relung sisi selatan berisi arca Guru, relung utara berisi arca Durga, dan relung belakang berisi arca Ganesha. Relung-relung untuk candi yang besar biasanya diubah.
  • Atap candi terdiri atas tiga tingkat. Bagian atasnya lebih kecil dan pada puncaknya terdapat lingga atau stupa. Bagian dalam atap (puncak bilik) ada sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat dengan gambar teratai merah, melambangkan takhta dewa. Pada upacara pemujaan, jasad dari pripih dinaikkan rohnya dari rongga atau diturunkan ke dalam arca perwujudan. Hiduplah arca itu menjadi perwujudan almarhum sebagai dewa.

Bangunan candi di Indonesia yang bercorak Hindu, antara lain, candi Prambanan, candi Sambisari, candi Ratu Boko, candi Gedongsongo, candi Sukuh, candi Dieng, candi Jago, candi Singasari, candi Kidal, candi Panataran, candi Surawana, dan gapura Bajang Ratu. Bangunan candi yang bercorak Buddha, antara lain, candi Borobudur, candi Mendut, candi Pawon, candi Kalasan, candi Sewu, candi Sari, dan candi Muara Takus.

Beberapa peninggalan bangunan lain yang menyerupai candi sebagai berikut:

  • Patirtan atau pemandian, misalnya, patirtan di Jalatunda dan Belahan (lereng Gunung Penanggungan), di candi Tikus (Trowulan), dan di Gona Gajah (Gianyar, Bali).
  • Candi Padas di Gunung Kawi, Tampaksiring. Di tempat ini terdapat sepuluh candi yang dipahatkan seperti relief pada tebing-tebing di Pakerisan.
  • Gapura yang berbentuk candi dan memiliki pintu keluar masuk. Contoh candi semacam ini adalah candi Plumbangan, candi Bajang Ratu, dan candi Jedong.
  • Jenis gapura lainnya yang berbentuk seperti candi yang dibelah dua untuk jalan keluar masuk. Contoh candi semacam ini adalah candi Bentar dan candi Wringin Lawang.

 

2. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni rupa

Seni rupa Nusantara yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha dari India adalah seni pahat atau ukir dan seni patung. Seni pahat atau ukir umumnya berupa hiasan-hiasan dinding candi dengan tema suasana Gunung Mahameru, tempat kediaman para dewa. Hiasan yang terdapat pada ambang pintu atau relung adalah kepala kala yang disebut Banaspati (raja hutan). Kala yang terdapat pada candi di Jawa Tengah selalu dirangkai dengan makara, yaitu sejenis buaya yang menghiasi bagian bawah kanan kiri pintu atau relung.

Pola hiasan lainnya berupa daun-daunan yang dirangkai dengan sulur-sulur melingkar menjadi sulur gelung. Pola ini menghiasi bidang naik horizontal maupun vertikal. Ada juga bentuk-bentuk hiasan berupa bunga teratai biru (utpala), merah (padam), dan putih (kumala). Pola-pola teratai ini tidak dibedakan berdasarkan warna, melainkan detail bentuknya yang berbeda-beda. Khususnya pada dinding candi di Jawa Tengah, terdapat hiasan pohon kalpataru (semacam beringin) yang diapit oleh dua ekor hewan atau sepasang kenari.

Beberapa candi memiliki relief yang melukiskan suatu cerita. Cerita tersebut diambil dari kitab kesusastraan ataupun keagamaan. Gaya relief tiap-tiap daerah memiliki keunikan. Relief di Jawa Timur bergaya mayang dengan objek-objeknya berbentuk gepeng (dua dimensi). Adapun relief di Jawa Tengah bergaya naturalis dengan lekukan-lekukan yang dalam sehingga memberi kesan tiga dimensi. Pada masa Kerajaan Majapahit, relief di Jawa Timur meniru gaya Jawa Tengah dengan memberikan latar belakang pemandangan sehingga tercipta kesan tiga dimensi.

Relief-relief yang penting sebagai berikut.

  • Relief candi Borobudur menceritakan Kormani-bhangga, menggambarkan perbuatan manusia serta hukum-hukumnya sesuai dengan Ganda- wyuha (Sudhana mencari ilmu).
  • Relief candi Roro Jonggrang menceritakan kisah Ramayana dan Kresnayana.

Seni patung yang berkembang umumnya berupa patung atau arca raja pada sebuah candi. Raja yang sudah meninggal dimuliakan dalam wujud arca dewa. Contoh seni patung hasil kebudayaan Hindu-Buddha kini dapat kita saksikan di candi Prambanan (patung Roro Jonggrang) dan di Museum Mojokerto (Jawa Timur). Salah satu koleksi museum tersebut yang terindah adalah patung Airlangga (perwujudan Wisnu) dan patung Ken Dedes.

 

3. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni sastra

Wiracarita atau kisah kepahlawanan India yang memasyarakat di Indonesia dan memengaruhi kehidupan serta perkembangan sosial budaya adalah cerita Mahabharata dan Ramayana. Kitab Mahabharata terdiri atas delapan belas jilid (parwa). Setiap jilid terbagi lagi menjadi beberapa bagian (juga disebut parwa) yang digubah dalam bentuk syair. Cerita pokoknya meliputi 24.000 seloka. Sebagian besar isi kitab ini menceritakan peperangan sengit selama delapan hari antara Pandawa dan Kurawa. Kata Mahabharatayudha sendiri berarti peperangan besar antarkeluarga Bharata. Menurut cerita, kitab ini dihimpun oleh Wiyasa Dwipayana. Akan tetapi, para ahli sejarah beranggapan bahwa lebih masuk akal jika kitab itu merupakan kumpulan berbagai cerita brahmana antara tahun 400 SM sampai 400 M.

Kitab Ramayana dikarang oleh Walmiki. Kitab ini terdiri atas tujuh jilid (kanda) dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 seloka. Kitab ini berisi perjuangan Rama dalam merebut kembali istrinya, Dewi Sinta (Sita), yang diculik oleh Rahwana. Dalam perjuangannya, Rama yang selalu ditemani Laksmana (adiknya) itu mendapat bantuan dari pasukan kera yang dipimpin oleh Sugriwa. Selain itu, Rama juga dibantu oleh Gunawan Wibhisana, adik Rahwana yang diusir oleh kakaknya karena bermaksud membela kebenaran (Rama). Perjuangan tersebut menimbulkan peperangan besar dan banyak korban berjatuhan. Di akhir cerita, Rahwana beserta anak buahnya gugur dan Dewi Sinta kembali kepada Rama.

Akulturasi di bidang sastra dapat dilihat pada adanya modifikasi cerita-cerita asli India dengan unsur tokoh-tokoh Indonesia serta peristiwa-peristiwa yang seolah-olah terjadi di Indonesia. Contohnya adalah penambahan tokoh punakawan (Semar, Bagong, Gareng, Petruk) dalam kisah Mahabharata. Bahkan, dalam literatur-literatur keagamaan Hindu-Buddha di Indonesia sulit kita temukan cerita asli seperti yang ada di negeri asalnya. Pengaruh kebudayaan India yang dipertahankan dalam kesusastraan adalah gagasan, konsep, dan pandangan-pandangannya.

 

4. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap sistem pemerintahan

Salah satu contoh nyata pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah perubahan sistem pemerintahan. Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, struktur sosial asli masyarakat Indonesia berbentuk suku-suku dengan pimpinannya ditunjuk atas prinsip primus inter pares. Setelah pengaruh Hindu-Buddha masuk, sistem pemerintahan ini berubah menjadi kerajaan. Kepemimpinan lalu diturunkan kepada keturunan raja. Raja dan keluarganya kemudian membentuk kalangan yang disebut bangsawan.

Dalam perkembangannya, ada dua corak kerajaan berdasarkan budaya HinduBuddha. Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu, antara lain, Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram Hindu (Mataram Kuno), Kahuripan (Airlangga), dan Majapahit. Kerajaan Majapahit dikenal sebagai kerajaan Hindu terbesar. Adapun kerajaan-kerajaan bercorak Buddha, antara lain, Kerajaan Holing (Kalingga), Melayu, Sriwijaya, dan Mataram Buddha. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Buddha terbesar di Indonesia.

 

5. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap sistem kepercayaan

Pada saat budaya Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat masih menganut kepercayaan asli, yaitu animisme dan dinamisme. Akibat adanya proses akulturasi, agama Hindu dan Buddha lalu diterima penduduk asli. Dibandingkan agama Hindu, agama Buddha lebih mudah diterima oleh masyarakat kebanyakan sehingga dapat berkembang pesat dan menyebar ke berbagai wilayah. Sebabnya adalah agama Buddha tidak mengenal kasta, tidak membeda-bedakan manusia, dan menganggap semua manusia itu sama derajatnya di hadapan Tuhan (tidak diskriminatif). Menurut agama Buddha, setiap manusia dapat mencapai nirwana asalkan baik budi pekertinya dan berjasa terhadap masyarakat.

 

6. Sistem perdagangan dan transportasi

Kekayaan bumi Nusantara telah dikenal luas sejak dahulu. Kemenyan, kayu cendana, dan kapur barus dari Indonesia telah dikenal di Cina menyaingi bahan wangi-wangian lainnya dari Asia Barat. Begitu pula berbagai jenis rempah-rempah, seperti lada dan cengkih, serta hasil-hasil kerajinan dan berbagai jenis binatang khas yang unik. Awalnya, pedagangpedagang dari India yang singgah di Indonesia membawa barang-barang tersebut ke Cina.

Seiring dengan perkembangan perdagangan internasional, hubungan dagang antara Indonesia – India – Cina pun berkembang. Wolters berpendapat bahwa perkembangan ini akibat dari sikap terbuka dan bersahabat dengan orang asing serta penghargaan terhadap barang dagangan yang dibawa orang asing. Sikap ini pula yang memungkinkan agama Hindu-Buddha dapat berkembang di Indonesia.

Dalam berbagai prasasti yang ditemukan, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Masehi, bangsa Indonesia telah mampu turut serta dalam perdagangan maritim internasional Asia. Perkembangan ini dipicu pula oleh perkembangan teknologi transportasi pelayaran. I-Tsing, musafir dan pendeta Buddha dari Cina yang mampir ke Indonesia pada abad ke-7 dalam perjalanannya ke India dengan menumpang kapal milik Sriwijaya, mengatakan bahwa pada awalnya bangsa Indonesia memang telah akrab dengan dunia pelayaran, meski baru terbatas pada pulau-pulau yang berdekatan. Alat transportasi yang digunakan adalah kapal cadik berukuran kecil. Bersamaan dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya, Singasari, dan Majapahit, mulailah dikenal teknologi pembuatan kapalkapal yang lebih besar dan pelayaran yang dilakukan dapat menjangkau jarak yang lebih jauh. Bangsa Indonesia jadi dapat berperan lebih aktif dalam perdagangan internasional dengan berlayar sendiri ke negara-negara yang biasanya berdagang dengan Indonesia. Hal ini tergambar dalam relief candi Borobudur. Tiga jenis kapal yang digambarkan dalam relief tersebut adalah perahu lesung, kapal besar tidak bercadik, dan kapal bercadik.

 

7. Sistem penguasaan tanah

Tanah dalam lingkungan sebuah kerajaan secara umum menjadi milik kerajaan. Namun, pengolahan atau pemanfaatan diserahkan kepada rakyat yang hidup dalam lingkup kerajaan tersebut. Hak pemanfaatan lahan ini disebut hak anggaduh, artinya rakyat hanya dipinjami tanah oleh raja. Tanah garapan itu dapat dipindahtangankan kepada rakyat lainnya dalam lingkup kerajaan yang sama dan hak anggaduh tersebut dapat digunakan secara turun temurun. Akan tetapi, jika sewaktu-waktu raja memintanya kembali, misalnya, untuk keperluan pendirian candi atau bangunan milik kerajaan atau suatu kepentingan umum lainnya, rakyat tidak dapat menolak.

 

8. Sistem pajak

Pengembangan dan jaminan kelangsungan suatu kerajaan tentu memerlukan biaya. Biaya ini diambil dari hasil perdagangan, pertanian, dan pungutan pajak kepada rakyat. Pajak dipungut oleh pejabat di tingkat daerah dari desa-desa yang ada di wilayahnya. Setiap habis panen, pajak tersebut wajib diserahkan pada kerajaan. Di tingkat pusat, ada petugas khusus yang bertugas mencatat luas tanah di wilayah kerajaan untuk dijadikan dasar perhitungan penetapan pajak yang wajib dipungut. Rakyat diwajibkan untuk membayar pajak tepat waktu.

 

9. Tenaga kerja

Tenaga kerja berasal dari rakyat. Dalam hal ini, rakyat merupakan abdinya yang harus menaati semua perintahnya. Hal ini dikarenakan pada masa itu, kekuasaan raja merupakan kekuasaan tertinggi dan mutlak sebab raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di bumi dan memerintah atas nama dewa. Oleh karena itu, rakyat dituntut untuk bersikap setia kepada raja.

 

10. Perkembangan tradisi Hindu-Buddha

Pada masa berkembangnya agama Hindu-Buddha di Nusantara, tradisi Hindu- Buddha mengalami perkembangan yang cukup pesat di wilayah Nusantara dalam berbagai sektor sebagai berikut.

a. Sistem struktur sosial masyarakat

Masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia memengaruhi sektor kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk sistem dan struktur sosial masyarakatnya. Pengaruhnya dapat dilihat melalui diterapkannya sistem pembagian kasta pada masyarakat Indonesia. Sistem pembagian kasta di Indonesia tidak seperti yang ada di India, akan tetapi merupakan sistem pengelompokan masyarakat melalui tingkatantingkatan kehidupan masyarakat dan berlaku turun temurun. Hal ini untuk menunjukkan status sosial dalam masyarakat Indonesia. Sementara itu, di India perbedaan sistem kasta sangat mendasar sebab untuk membedakan status sosial antara golongan Arya dan Dravida.

Pada masyarakat Indonesia yang mendapat pengaruh Buddha muncul pembagian kelompok masyarakat bhiksu dan bhiksuni, yaitu kelompok masyarakat yang tinggal di wihara-wihara dan hidup mementingkan rohani saja, tata kehidupan duniawi mulai ditinggalkan. Kelompok masyarakat yang lain adalah kelompok masyarakat umum, yakni kelompok masyarakat yang masih mementingkan hidup duniawi. Sistem dan struktur masyarakat Indonesia yang mendapat pengaruh Hindu-Buddha berkembang pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Mataram. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim di mana kehidupan rakyatnya banyak bergantung pada kelautan. Sriwijaya banyak menguasai jalur-jalur dan pusat perdagangan maka Sriwijaya menjadi kerajaan yang besar dan penting, karenanya menjadi kerajaan nasional yang pertama di Nusantara.

Kerajaan Mataram Hindu terdiri atas daerah pusat yang dikenal dengan ibu kota kerajaan (tempat tinggal raja, putra raja, kerabat dekat raja, serta pejabat tinggi kerajaan) dan daerah watak, yaitu daerah yang dikuasai para rakai atau pamgat yang berkedudukan sebagai pegawai tinggi kerajaan yang berkedudukan turun-temurun.


b. Pemerintahan

Sebelum pengaruh Hindu ke Nusantara, bangsa Indonesia sudah mengenal sistem pemerintahan, yakni dari seorang kepala suku dikenal bentuk kesukuan, seorang kepala suku menduduki jabatannya berdasarkan kemampuan yang dimiliki, maka ia pemimpin yang dipilih oleh kelompok sukunya secara demokratis. Mereka memiliki kelebihan dalam anggota kelompoknya. 

Masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Indonesia membawa pengaruh yakni mulai lahirnya kerajaan. Kerajaan Hindu pertama di Indonesia adalah Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman. Raja berkuasa secara turun temurun sehingga keluarga raja memiliki kehormatan di tengah-tengah masyarakat negara. Raja memiliki kekuasaan tunggal, tidak ada lembaga yang mampu menandingi kekuasaan raja.


c. Kesenian

Perkembangan bidang kesenian tampak sekali dalam seni bangunan, seni rupa, dan seni sastra.

  • Seni bangunan yakni adanya bangunan candi Hindu dan candi Buddha yang banyak ditemukan di Nusantara. Dasar pembangunan candi berasal dari zaman megalitikum sehingga candi-candi yang ada di Nusantara memiliki bentuk bangunan yang megah serta punden berundak seperti yang tampak pada candi Borobudur.
  • Seni rupa, seni lukis yang masuk ke Nusantara berkembang, ditandai dengan ditemukannya patung Buddha berlanggam Gandara di Kota Bangun Kutai, dan patung Buddha berlanggam Amarawati yang ditemukan di Sulawesi, adanya hiasan perahu yang menunjukkan majunya seni di Nusantara saat itu serta pada dinding candi Prambanan kita jumpai relief Ramayana.
  • Dalam bidang sastra, seni sastra Hindu banyak kita jumpai pada prasasti-prasasti serta kitab-kitab sastra. Banyak prasasti di Nusantara menggunakan bahasa Sanskerta bahkan kitab-kitab sastra zaman Hindu dominan menggunakan bahasa tersebut dan tulisan Palawa. 


d. Perkembangan teknologi

Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara bangsa Indonesia sudah memiliki teknologi yang tinggi khususnya dalam pembuatan alat kehidupan baik yang terbuat dari batu atau logam. 

Setelah adanya pengaruh Hindu, teknologi semakin maju, misalnya pembuatan candi. Jika dibandingkan dengan candi-candi di India maka candi di Indonesia jauh lebih megah dan kokoh seperti candi Borobudur, candi Prambanan. Dengan demikian, bangsa Indonesia memiliki pengetahuan teknologi yang sudah tinggi.

 

e. Perkembangan pendidikan

Pendidikan berkembang pesat setelah adanya pengaruh Hindu, yakni masyarakat mendapat pendidikan yang dilakukan para pendeta Hindu dan Buddha. Mereka ada yang berguru kepada pendeta dengan pergi ke rumah-rumah pendeta atau berada di tempat khusus seperti wihara-wihara. Kaum Brahmana yang memberikan pendidikan serta mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat di daerah-daerah membuka tempat-tempat pendidikan yang dikenal Pasraman. Di Pasraman inilah, masyarakat Indonesia mendapatkan berbagai pengetahuan yang diajarkan para Brahmana.

 

Sumber :

http://www.markijar.com/2015/05/pengaruh-perkembangan-hindu-buddha-pada.html

 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14