Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Maret 18, 2020

Apa itu Google Classroom ? ayo belajar via Google Classroom.

Google Classroom media alternatif disaat situasi seperti ini, ya, kita tahu sekarang memang status kita belum Lock Down namun di beberapa daerah telah meliburkan proses belajar mengajar dan dialihkan ke pembelajaran mandiri di rumah dan guru tetap memberikan pembelajaran jarak jauh baik online maupun penugasan offline, dan Google Classroom ini sebagai salah satu media alternatif dalam proses pembelajaran disituasi seperti ini akibat merebaknya VIRUS COVID-19 atau lebih dikenal dengan wabah CORONA yang menggemparkan dunia.
Apa Itu Google Classroom ?
Google Classroom adalah sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Google untuk layanan pembelajaran (sekolah). Tambahan dari WikiPedia, Google Classroom ini dirancang untuk menyederhanakan pembuatan, pendistribusian, dan penetapan tugas dengan cara tanpa kertas.
Setiap dan guru dapat mendaftar akun disini, hanya bermodal akun Google (GMail) saja. Belum punya akun Google ? Klik disini untuk melihat cara membuatnya.
Google Classroom sangat membantu. Hanya bermodalkan sedikit internet, anda dapat membaca tugas, mengerjakan tugas, mengirim tugas, bahkan melihat nilai dari guru/dosen langsung di satu tempat tanpa khawatir kehilangan tugas ditengah jalan.

Cara Membuat Google Classroom

Membuat akun Google Classroom baik sebagai pengajar ataupun murid sangatlah mudah, cukup kaitkan akun Google (GMail) kamu dengan Google Classroom. Belum punya akun (GMail) Google ? Klik disini !
  • Silahkan buka browser dan kunjungi https://classroom.google.com untuk melihat halaman Google Classroom, pastikan kamu sedang login GMail di perangkat tersebut supaya lebih mudah
  • Kamu akan melihat halaman utama Google Classroom, terutama jika belum login GMail. Silahkan klik tombol SIGN IN di bagian tengah halaman tersebut maka akan membuka halaman login GMail, silahkan login akun GMail yang ingin digunakan
  • Karena belum pernah membuat akun Google Classroom, akan ada pertanyaan apakah akun tersebut ingin dikaitkan dengan Google Classroom, klik tombol Continue untuk menyetujui dan melanjutkan
Selesai, kamu sudah berhasil memiliki akun Google Classroom. Selanjutnya, silahkan ikuti kelas kamu atau mulai membuat kelas.
Lebih senang pakai smartphone ? Download aja aplikasinya, cara membuat akunnya tentu lebih mudah tapi harus pastikan kamu memiliki akun GMail yang mana GMail ini nantinya dihubungkan ke Google Classroom.

Panduan Google Classroom : PDF FILE
Panduan Google Classroom : YouTube




Membuat Kelas & Mengundang

Masuk ke halaman Google Classroom disini, pastikan sudah login. Selanjutnya:
  • Klik tanda taambah (+) di menu atas dan pilih Buat Kelas
  • Akan muncul layar munculan yang menanyakan persetujuan pemakaian, pastikan kamu sudah membaca ketentuan yang ada. Centang kotak dan klik tombol Lanjutkan
  • Setelah klik Lanjutkan, akan ke tahap berikutnya yaitu mengisi formulir awal pembukaan kelas ini
  • Silahkan isi Nama Kelas
  • Isi juga Bagian
  • Isi juga Subjek
  • Klik tombol Buat
  • Tunggu beberapa saat, Google Classroom sedang menyiapkan kelas…
Undang
Silahkan beralih ke tab Siswa pada kelas yang ingin ditambahkan siswa, di halaman itu akan menampilkan semua siswa yang sudah bergabung. Untuk menambah siswa, klik tombol Undang siswa di bagian atas. Masukkan nama kontak Google kamu jika ada, atau masukkan langsung alamat email lalu klik tombol Undang.
Dengan begitu, orang yang diundang akan menerima email dan diarahkan ke kelas ini.

Kode Kelas
Untuk cara ini akan dijelaskan lebih rinci dibawah, Kode Kelas tampil di halaman tab Siswa pada setiap kelas. Kamu bisa bagikan Kode Kelas ke siapapun, jadi orang yang mau bergabung cukup cari kelas dan masukkan Kode Kelas ketika diminta. Jika Kode Kelas benar, maka berhasil masuk tapi sebaliknya jika salah tidak dapat masuk kelas.

Bergabung Dengan Kelas

Ini sudah dijelaskan sedikit diatas, ya, cara ini menggunakan Kode Kelas. Silahkan masuk ke situs Google Classroom dan pastikan sudah login. Untuk mulai bergabung kelas, silahkan klik tanda tambah (+) dan pilih Gabung dengan kelas.
Akan muncul layar popup yang berisi bidang, bidang itu hanya dapat diisi dengan Kode Kelas yang benar. Jika ada Kode Kelas yang kamu masukkan terdaftar di Google Classroom, maka kamu berhasil masuk bergabung ke kelas tersebut tapi sebaliknya jika salah, maka kamu tidak bisa bergabung.
Bagaimana cara mendapatkan Kode Kelas ? Silahkan minta kepada pemilik kelas, dia mempunya akses untuk melihat, membuat, dan mengganti Kode Kelas kapanpun.



Sumber :

https://www.posciety.com/cara-membuat-google-classroom/



Maret 05, 2016

Gerhana Matahari dalam Sejarah Indonesia dan Mitos Gerhana di berbagai daerah


Gerhana matahari terjadi jika posisi bulan terletak antara bumi dan matahari,  Akibatnya bulan membentuk bayangan di bumi, sehingga orang yang tinggal di belahan bumi tersebut tidak dapat melihat matahari. Dalam kajian Astronomi hal tersebuat biasa terjadi dimana garis edar antara Bumi-Bulan-Matahari berada sejajar di satu garis sehingga menghasilkan fenomena alam tersebut.
Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang mempercayai bahwa terjadinya Gerhana adalah suatu pertanda buruk. Masyarakat Jawa dan Bali, percaya gerhana merupakan ulah Batara Kala (Batara Kala Rau), dimana sang Batara Kala yang hanya tinggal kepalnya saja menelan Dewi Ratih, hal tersebut menjadi kepercayaan turun-temurun dan menjadi cerita favorit kala gerhana.
” Dongeng Batara Kala dan asal muasal gerhana ; saat para Dewa diundang oleh Batara Guru untuk meminum Tirta Amartasari (Air Abadi), sang Bata Kala raksasa jahat suka membunuh manusia, diam-diam menyelinap untuk mencuri Tirta Amartasari, namun Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) mengetahui dan melaporkan ke Batara Guru,  Dan Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam/Pelindung) turun untuk merebut kembali Tirta Amartasari, ketika Batara Kala meminum Tirta Amartasari  dan baru sampai kekerongkongannya, Batara Wisnu keburu menebas batang leher Batara Kala dengan Chakra Batara Wisnu. Tubuh Batara Kala melayang jauh ke bumi menjalma menjadi lesung kayu, sementara kepalanya melayang di angkasa, tetap hidup abadi berkat Tirta Amartasari. Batara Kala dendam terhadap Batara Surya dan Batara Candra dan terus mengejar untuk memakan mereka, Batara Wisnu memerintahkan penduduk bumi agar memukul lesung kayu untuk membuat banyak suara saat terjadi gerhana, yang berarti sebagai pertanda munculnya Batara Kala dan agar Batara Surya dan Batara Candra dapat melarikan diri dari Batara Kala.”
Halmahera punya mitos serupa sebagaian masyarakat sana percaya gerhana terjadi akibat Suanggi atau Setan melahap matahari. Begitu juga masayarakat Palembang yang mempercayai ada Naga yang memakan matahari. Uniknya, masyarakat yang percaya mitos-mitos tersebut membuar reaksi yang sama ketika gerhana terjadi. Mereka baik di Jawa, Bali, Helmahera, maupun Palembang membuat bunyi-bunyian untuk mengusir roh jahat.
Batara Kala yang sedang melahap sang Surya
Diera Moderen saat ini fenomena gerhana mempunyai mitos lain, meraka percaya bahwa melihat gerhana matahari dapat menimbulkan kebutaan. Hal tersebut dapat di benarkan. Karena melihat cahaya matahari langsung sangat berbahaya karna intensitas cahaya dari pancaran matahari yang begitu besar dapat membahayakan mata terutama kornea mata yang terpapar sinar sebelum atau sesudah gerhana terjadi. Dalam kondisini gerhana matahari total kita memang biasa melihat dengan mata telanjang karena posisi matahari tertutup bulan dan menyisakan korona matahari namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Sehingga dibutuhkan alat bantu penglihatan semisal Teleskop ataupun kaca mata khusus yang dilengkapi filter khusus untuk melindungi mata dari paparan sinar matahari langsung.
Bagi Ummat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Karena gerhana mempunyai kekhususan bagi ummat Islam, maka saat gerhana terjadi dianjurkan menjalankan Shalat gerhana. Selain itu gerhana adalah momen yang tepat bagi para ahli hisab untuk mencocokan perhitungan waktu dalam kalender islam, karna proses gerhana merupakan ijtimak teramati (observable new moon), dalam keadaan biasa itjimak (segarisnya bulan dan matahari) tidak teramati. Salah satu tanda itjimak tidak teramati adalah munculnya hilal (bulan sabit pertama) pada saat magrib sebagai tanda awal bulan dalam kalender hijriah.

Gerhana Matahari 1983
11 Juni 1983 menjadi hari terburuk dalam catatan sejarah astronomi Indonesia, pada saat itu gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa. Para astronom maupun peminat astronomi berbondong-bondong datang ke Indonesia, untuk menyaksikan peristiwa langkah yang mungkin hanya sekali seumur hidup mereka alami. Sebaliknya, kita di Indonesia justru diam ketakutan dan mengurung diri kedalam rumah. Propaganda yang dilakukan  pemerintah saat itu seperti mematikan akal sehat masyarakat saat itu dengan juga kepercayaan sebagian masyarakat tentang bahaya gerhana bagi anak-anak maupun ibu hamil, membuat gerhana matahari total saat itu seperti suatu yang mengerikan.
  Entalah apa yang di pikirkan Pemerintah pada saat itu, minimnya informasi mengenai gerhana atau malah Pemerintah tidak mau ambil pusing mengenai gerhana. Namun dari kaca mata lain ini sebagai bergening untuk melihat posisi pemerintah saat itu sebagai uji kekuatan kekuasaan rezim Soeharto yang menujukan bagai mana superpowernya sang Presiden di mata rakyat. Pada gerhana matahari 1983 melalui Kementerian Penerangan dibawah komando Harmoko mewakili Presiden memerintahakan untuk masyarakat tetap di dalam rumah selama gerhana berlangsung dan tanpa perdebatan hal tersebut harus dijalankan oleh rakyat (rezim saat itu bersifat totaliter sihingga tidak ada yang berani mempertanyakan atau mengeluarkan pendapat mengapa Presiden bisa mengambil keputusan tersebut).
Presiden Soeharto dan Kebijakan terhadap
fenomena Gerhana Matahari di Indonesia
Pada Hari terjadi gerhana matahari total tersebut, kota-kota dan desa-desa di Indonesia menjadi sunyi senyap. Semua penduduk mengurung dirinya di rumah. Hingga salah satu majalah sain terkemuka memberitakan; “Sebuah ironi dan sungguh merupakan hal yang menyedihkan  ketika kalangan Internasional datang ke Indonesia untuk menyaksiakan proses gerhana terjadi, mala pemerintah Indonesia menyuruh rakyatnya untuk menjauh dan bersembunyi di kolong tempat tidur...” suatu yang terjadi hanya 300 tahun sekali di tempat yang sama.

Tanggal Lain Gerhana Matahari Total di Indonesia
Ramalan soal Kapan Terjadinya Gerhana matahari pertama kali tercatat pada era Babilonia. Mereka mengamati pergerakan bintang, bulan dan matahari untuk menemukan keberaturan fenomena alam gerhana matahari. Astronom asal Austria, Thomas Oppolzer, melanjutkan dengan membuat katalog gerhana matahari dan gerhana bulan sejak 1207 SM hingga 2162. Saat ini temuan temuan untuk meramal gerhana matahari dan bulan dapat ditemukan pada website NASA dan timeanddate. Berdasarkan data dari kedua sumber tersebut dapat dirangkum beberapa Gerhana Matahari Total pernah dan akan terjadi di Indonesia ;
Jalur Gerhana Matahari total
9 Maret 2016

18 MEI 1901
Lokasi ; Padang, Jambi, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Palu dan Ambon

14 JANUARI 1926
Lokasi ; Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dan Pontianak
9 MEI 1929
Lokasi ; Aceh dan Sumatera Utara

13 FEBRUARI 1934
Lokasi ; Manado dan Maluku Utara

4 FEBRUARI 1962
Lokasi ; Papua dan Palu

11 JUNI 1983
Lokasi ; Jawa , Makassar, Kendari, dan Papua

22 NOVEMBER 1984
Lokasi ; Papua

18 MARET 1988
Lokasi ; Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, dan Bangka Belitung

24 OKTOBER 1995
Lokasi ; Sangihe

9 MARET 2016
Lokasi ; Palembang, Palangkaraya, Balik Papan, Palu, dan Ternate

20 APRIL 2023
Lokasi ; Makassar dan Papua

19 APRIL 2042
Lokasi ; Jambi

24 NOVEMBER 2049
Lokasi ; Jakarta 

Januari 18, 2014

BESEMAH Dalam Lintasan Sejarah

Pendahuluan
Dari tinjauan kesejarahan, keberadaan Besemah (Sumber Belanda menyebutkanPasemah, merujuk bagian hikayat Pasemah Libagh) terutama dapat dilihat pada masa pra hingga masa kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa inilah dikenal istilah marga. Pada masa pemerintahan Sido Ing Kenayan yang nai tahta sekirtar tahun 1629, di buat semacam undang – undang yang mengatur hubungan antara Palembang dan daerah pedalaman. Selanjutnya hubungan ini makin efektif pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Khalipatul Mukminin Sayidul Iman (Sultan Pertama kesultanan Palembang), yang memerintah pada masa 1651 – 1706 M. setelah kesultanan Palembang dikalahkan oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal. De Kock, Sultan Mahmud Badaruddin II selaku penguasa kesultanan Palembang menyerah kalah. Kekalahan ini mempunyai arti penting dan merupakan babak baru bagi sejarah Besemah.

Asal Usul Suku Besemah
Besemah adalah suatu peradaban budaya yang sudah maju pada masa prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief yang terdapat pada monument nasional di Jakartaa. Besemah merupakan suku melayu, dalam kawi kuno memiliki arti : pelarian / pengungsian dari dataran tiongkok yang dikenal dengan mongolith dan Persia.
Mengenai asal usul suku besemah, hingga saat ini masih berupa legenda rakyat, yaitu atung bungsu, yang merupakan salah satu diantara 7 orang anak ratu (=Raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri suangai nusantara yang  berakhir disungai lematang, akhir memilih tempat bermukim di dusun Benua Keling. Atung Bungsu menikan dengan Putri Ratu Benua Keling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melaui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), Puyang Mandulike, Puyang Sakesemenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus, dan Sake Seketi yang menjadikan penduduk jagat Besemah (Lihat bagan Alir).
Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, tetapi unsure yang sangat penting dalam legenda adalah peran dan fungsinya sebagai pemersatu kehidupan suatu masyarakat (Jeme Besemah). Legenda ini dapat menjadi antisipasi Disenrtegrasi kesatuan dan persatuan jeme besemah kemana pun mereka berada. Hal ini sudah tampak dalam beberapa dekade, terutama setelah pemerintahan marga dihapuskan (UU No. 5 Tahun 1979). Perlu selalu ditanamkan perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah itu (termasuk jeme semende dan jeme kisam) berasala dari satu keturunan.

Berdirinya Dusun Jagat Besemah
Puyang Kunduran membuat dusun masam bulau (Ulu Manak) dan dikemuadian hari anak cucunya membuat dusun gunung kerte, termasuk sumbay besak (Sumbay Besar); Puyang Keriye Beraim membuat dusun Gunung Kaye, dan Sumur. Kemudian anak cucu keriye Beraim membuat dusun Talang Tinggi dan muara jauh ( Ulu Rurah ), Puyang Belirang membuat dusun Semahpure dan anak cucunya pindah pula membuat dusun di Ulu Manak. Puyang Raje Nyawe pindah juga membuat dusun perdipe, Petani, dan pajar Bulan. Anak cucunya pindah juga membuat dusun Alun Dua, Sandarangin, Selibar, Rambaai Kaca, Sukemerindu, Kutaraye, Babatan, Sadan, Nantigiri, Lubuk Saung, Serambi, Bandaraji, Ulu Lintang; Bangke, Singapure, Ulu Lebar, Gunung Liwat, Tanjung Beringin, Ayik Dingin, Muara Sindang, Tebat Benawa, Rempasai, Karang Anyar, Semua nya masuk sumbay besak. Puyang raje nyawe pindah ke semende, membuat dusun pajar bulan. Puyang raje nyawe kembali ke dusun Perdipe menyebarkan agama Islam dan adapt istiadat perkawinan secara Islami. Dari semende banyak penduduk yang pindah ke Kisam dan masih banyak cerita mengenai pendiria dusun – dusun di tanah Besemah ini.

Sistem Pemerintahan Tradisional
Sistem Pemeritahan tradisional di daerah Besemah disebut Lampik Empat Merdike Due yang dipimpin oleh kepala – kepala Sumbay. Besemah waktu itu merupakan suatu “REPUBLIK” yang paling demokratis. Tanggung jawab dan kesetiaan sangat ketat dibina oleh orang Besemah. Rasa Solidaritas dan Loyalitas yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan prajurit – prajurit Besemah dapat melakukan perlawanan terhadap kolonialisme hal yang mengiringi rasa solidaritas dan loyaalitas yang tinggi itu baik didalam keluarga batih, keluarga luas virilokal maupun pada suku besemah secara umum adalah konsep “dimak kepadunye” dan “dide beganti”.

Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas
Status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” dan system pemerintahan tradisional “Lampik Empat Merdike Dua”  menjadi terancam dan sirna setelah Kolonialis Belanda dapat melakukan perlawanan Sultan Mahmud Badarudin II. Pada perang Palembang pada tahun 1819 dan tahun 1821. Dalam hubugannya dengan  kesultanan Palembang, suku Besemah selalu menganggap dirinya sebagai orang yang bebas, orang merdsike. Hubungan Sultan Palembang dengan Suku Besemah lebih bersifat suzeverenitas(Hens, 1909 : 12 – 15) kewajiban “milir seba” Bukit Seguntang pada tiap tiga tahun sekali, lebih diartikan sebagai nggahi kelaway tue, Putri Sindang Biduk. Sultan Palembang yang cukup menghormati orang – orang besemah, terbukti dengan status yang diberikannya yaitu status “Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” (Grensbewakers).
Suku besemah sering melakukan (istilah belanda onlusten, woelingen, rustverstoring), yang berarti membuat “kerusuhan” membuat “huru-hara” atau mengganggu ketentraman. Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng – benteng pertahanan yang kuaat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya kute Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute Agung, Kute Munteralam, dan kute – kute lainnya. Pimpinan Militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang – orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866.

Belanda Mengalahkan Besemah
Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu per satu kute pertahanan prajurit – prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute-Agung, Kute Menteralam, dan lain – lain. Pada pertempuran di kute – kute tersebut terlihat bahwa prajurit – prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati dari pada mnyerah, terutama pada pertempuran di tebat seghut dan munteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Liagh (Besemah Lebar), pasukan belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh – tokoh pimpinan besemah yang bersembunyi di daerah ini.
Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah haarus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan dikeluarkan pemerintaah Belanda. Misalanya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peratuaan dan ketentuan – ketentuan ini merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang – orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” menjadi hilang. Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah di jajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ii berlangsung hamper selama 82 tahun.

Perang Pasifik dan Penjajahan Jepang
Kekuasaan Belanda yang tampak sangat kuat, dengan mudah dikalahkan oleh bala tentara Jepang pada perang Pasifik di bulan Februari 1942. pertahanan sekutu dilaut jawa dapat dipatahkana. Pasukan jepang mendaraat di beberapa tempat di kepulauan Indonesia. Menyerahnya Belanda kepada Jepaang pada tanggal 9 Maret 1942, menyebabkan Belanda kehilangan jajahannya di Indonesia.
Mulailah babak baru dalam sejarah Indonesia, yakni Indonesia di jajah oleh bangsa Jepang. Rakyat Indonesia semakin menderita di bawah kekuasaan jepang. Balatentara Jepang ternyata lebih kejam bila dibandingkan dengan kolonialis Belanda. Jepang yang pada awal perang Asia Timur Raya sangat opensif, berubah menjadi defensive dan tertekan oleh kekuatan sekutu, sehinggaa terdesak di berbagai front pertempuran, termasuk di wilayah Indonesia.

Ghuyun Kanbu
Untuk mengatasi kekurangan pasukan, Jepang membentuk satuan militer pribumi, yang disebut Ghuyun Kanbu (Infanteri Ghuyun). Angkatan pertama Ghuyun di latih di Kota Pagar Alam, tepatnya di Balai Istirahat, di Belakang rumah sakit Juliana (Juliana Hospital), di Jalan ke arah dusun Pematang bange. Dari pusat lathan Ghuyun di Pagar Alaam di hasilkan prajurit dan perwira – perwira yang cakap dan terampil menggunakan senjata, mengatur strategi perang serta teknik – teknik berperang yang kemudian sangat bermanfaat dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Faktor inilaha yang dapat dijadikan sebagai salah satu dasar kriteria untuk menyebut Pagar Alam sebagai “Kota Perjuangan”.

Proklamasi Kemerdekaan
Akhirnya jepang menyerah kepada ssekutu tanggal 14 Agustus 1945. kemerdekaan Indonesia di Proklamasikan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. tidak semua daerah mengetahuinya. Oleh karenanya upacara penaikan Benderaa Sang Merah-Putih, tidak sama waktunya antara satu daerah dengan daeraah lainnya, termasuk Kota Pagar Alam. Pada tanggal 21 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, pada pemuda pejuang mengibarkan bendera merah putih di Pagar Alam (Bastari 192 : 2005). Upacara penaikan Bendera dilaksanakan di halaman toko Datuk Seri Maharajo, rumah keluarga Sofjan Rasjad (Saat ini telaah menjadi Toko cuci cetak foto modern). Hadir dalam upacara penaikan bendera itu antara lain : Siddik Adiem, datuk Seri Maharajo, Depati M. Hasyim R, Kenasin, Agam, Almunir, Tjik Seman, Tjik Nunung, Djinal Genting, M. Sohan Sumur, M. Djahri, Ardjo Talang Kelape, dan beberapa anggota Hizbul Wathan
Pemerintah Indonesia kemudian membentuk pemerintahan hingga ke daerah – daerah. Terbentuklah kewedanaan Tanah Pasemah pada Oktober 1945. Kewedanaan ini membawakan empat kecamatan, yaitu Pagar Alam sebagai ibu kota kewedanaan Kecamatan Tanjung Sakti, Kecamatan Jarai, Kecamatan Kota Agung.

Pertemuan di Tebat Limau
Sebagai suatu Negara yang telah merdeka, Indonesia berusaha mengambil alih kekauasaan politik dan militer, terutama usaha untuk mengambil atau merebut senjata dari tangan jepang, Maayor Ruslan mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan di Tebatlimau, dekat dusun Pelang Kenidai yang dihadiri oleh semua unsure pemerintahan, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), Wedanaa, Polisi, Para Pesirah, Kepala – kepala Sumbay dan pimpinan tentara keanamanan rakyat (TKR) / lascar.
Terjadi pertempuran – pertempuran dengan tentara jepang di butai – butai jepang di Gununglilan, Bumi Agung, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Jerambah Beringin, dan Karang Dale. Pada pertempuraan – pertempuran di butai – butai Jepang tersebut telah gugur beberapa putera terbaik Besemah, antara lain mayor Ruslan, Sersan Ansori, Serma Wanar, Musalim, Zainal, Salam, Tulip, Dung, Marzuki, Zainawi, Jinal, Kamal, Abdullah, Siakip, dan beberapa orang lainnya yang tidak tercatat. Setelah balatentara menyelesaikan tugas yang diberikan sekutu dan mereka dikembalikan ketanah airnya. Perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Belanda (NICA) dating kembali ke Indonesia. Terjadi pertempuran dengan pihak sekutu / Belanda yang mencapat puncaknya pada pertempuran lima hari lima malam (PLHLM) tanggal (21 juli 1947) dan agrei  militer 11 (19 desember 1948).Rakyat sumatera latan melakukan per lawanan sengit,sangat heroik, dan semangat rela berkorban yang sangat tinggi baik harta maupun nyawa, demi unuk mempertahankan kemerdekaan .perlawanan yang demikian termasuk juga di kewedanan tanah pasemah.

Peran Rakyat Besemah dalam PLHLM DAN AM I
Pada Agresi Militer 1 Belanda,rakyat dikeweanan Tanah pasemah belum secara langsungt berperang karena Belanda  belum berhasil sampai ke Tanah Pasemah.namun Raktyat Besemah telah  ikut berperan pada pertempuran lima hari Lima malam  dan Agresi Militer 1,yaitu memberikan bantuan personil (prajurit) dan logistik (beras dan sayur-sayuran) .memang sudah ada usaha  Belanda untuk melakukan serangan ke pagaralam (ibukota kewedanaan Tanah Pasemah),tetapi niat ini tidak terealisasi Karena sudah persetujuan itu,ditetapkan  garis demarkasih pertempuran  di dusun  tanjung tebat.

Perlawanan Rakyat di tanah Besemah AM II
       Pada agresi militer II Belanda (Desember 1948), ada tiga daerah yang menjadi target sasaran yaitu, Muara Dau (Sekarang OKU Selatan) Tebing Tinggi, dan Pagar Alam. Pertahanan Kota Pagar Alam. Dibebankan kepada Balyon XVI STP (Sub Teritorium Palembang) yang berkekuatan enam kompi, yaitu kompi I kapten Satar, Kompi II Lettu Ichsan, Kompi III Lettu Yahya Bahar, Kompi IV Lettu Nahwi, Kompi V Lettu Adenan Ibrahim, dan Kompi VI H.S. Simanjutak. Untuk mempertahankan kota Pagar Alam ini, dibentuk tiga front yaitu front mingkik untuk menghadang pasukan belanda diluar ndikat, frony selangis untuk menghadapi belanda yang akan masuk simpang rantau-unji dan front padang kaghit (ordeming kopi yang dulu milik belanda) front padang kaghit di pimpin Lettu Yahya Bahar. Untuk menghambat pasukan belanda yang akan masuk lewat tanjung tebat, jeramba ndikat terpaksa dihancurkan. Penghancuran ini lakukan oleh prajurit agam dan kawan – kawan.
Pimpinan pasukan Belanda yang sejak awal memperkirakan bahwa luang ndikat sukar ditembus, juga melakukan pengiriman pasukan melalui jalan jepang yang bias tembus ke simpang rantau-unji, front selangis, front padang kaghit, kota Pagar Alam dan terus kedaerah impit Bukit. Pasukan TNI, lasakar pejuang dan rakyat melakukan perlawanan sengit di front selangis besar. Namun, karena persenjataan yang tidak seimbang, perlawanan ini dapat dipatahkan oleh belanda. Pasukan TNI, lascar dan rakyat pejuang terpaksa melakukan gerakan mundur ke hutan – hutan, untuk selanjutnya melakukan perang gurila (geriliya) melakukan penghadangan – penghadangan ditempat – tempat strategis dengan memasang landsmijn (ranjau darat).

Politik Bumi Hangus
Pihak TNI lascar dan rakyat pejuang melakukan politik bumi hangus, terutama pada bangunan – bangunan milik belanda, agar tidak dipergunakan lagi oleh pasukan Belanda. Misalnya Pembumihangusan bangunan dikompleks BPM Jeramba Beringin, Demporeokan, kantor wedana tangsi polisi dan bangunan – bangunan diperkebunan teh gunung dempo.

Peran Tanjung Sakti
Tanjung Sakti mempunyai peranan yang sangat besar terutama setelah pimpinan teras TNI yang sebelumnya bermarkas di Lubuk Linggau dipindahkan ke cughup, kemuara Aman, dan akhirnya ke Tanjung Sakti, pimpinan teras TNI ini di pimpin oleh Kolonel Bambang Otoyo dan kepala staf nya adalah Kapten M. Yunus. Tanjung Sakti juga menjadi pusat pemerintahan sipil keresidenan Palembang yang dipimpin residen Abdul Rozak. Demikian pula Bupati Amaluddin, Wedana Wangi, Wedana Ibrahim, Wedana Abdullah Sani, Siddiq Adem (Kepala penerangan) dan lain – lain berada di Tanjung Sakti. Dari kepolisian keresidenan palembang terdapat nama – nama Komisaris Polisi Sugondo, Inspekur Polisi Taslim Ibrahim, Inspektur Polisi Abdullah Amaludin. Inspektur Polisi palma, Yasin, dan Cek Umar. Kepala Penerangan dan Kepala Kesehatan juga berada di Tanjung Sakti, serta masih banyak tokoh pejuang lainnya, misalnya Rasyad Nawawi, Satar, Nurdin, Syamsul Bachri Umar (Tatung), Idham, Djarab, Nurdin Pandji Ibrahim, Bachrun Umar, Basri, Ali Syarief, Sahid, Munir, Cek Asim, dan lain – lainnya. Dari Tanjung Sakti dikendalikan pemerintahan, pengaturan taktik dan strategi melawan Belanda. Untuk mengatasi kesulitan alat tukar, dicetak uang kertas “OERIP” (Oeang Repoeblik Indonesia Perdjoeangan).
Pasukan Belanda mengetahui tentang keberadaan pemerintahan sipil dan kekuatan militer di Tanjung Sakti. Oleh karena itu, mereka melakukan serangan – serangan dengan menjatuhkan bom di beberapa tempat. Beberapa di antaranya meluluhlantakkan beberapa rumah. Tetapi banyak juga yang tidak meledak, yang kemudian digunakan oleh TNI sebagai bahan untuk merakit senjata guna melawan pasukan belanda. Dapat dikatakan, bahwa Tanjung Sakti tidak pernah di injak oleh kaki tentara Belanda yang ingin menjajah kembali dan Tanjung Sakti merupakan satu – satunya pertahanan di Kabupaten Lahat yang mampu bertahan sampai penyerahan kedaulatan bulan November 1949 (mendahului penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949).


Administratif dan Perjuangan
Seiring perkembangan pemerintahan pusat, system pemerintahan di daeraah – daerah juga mengalami perubahan. Presiden Soekarno mengeluarkan peraturan presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1963 tentang penghapusan keresidenan dan kewedanaan. Dengan demikian, tidak ada lagi pemerintahan kewedanaan tanah pasemah,sehingga mengubah posisi Pagar Alam sebagai Kecamatan Pagar Alam di bawah Kabupaten Lahat.
Awal tahun 1987, tokoh – tokoh masyarakat Pagar Alam berjuang mengusulkan agar kecamatan Pagar Alam menjadi Kota Administratif (Kotif). Terbentuklah panitia, yang kemudian mengajukan surat permohonan kepada Mendagri pada tanggal 15 April 1987. berkat dukungan semua pihak, akhirnya permohonan masyarakat Pagar Alam untuk menjadikan Pagar Alam sebagai kotif dikabulkan Pemerintah Pusat, dengan terbitnya peraturan pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang pembentukan kota Administratif Pagar Alam dan pemekaran wilayah Kecamatan Pagar Alam menjadi 4 kecamatan, yaitu kecamatan Pagar Alam Utara, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kecamatan Dempo Utara, dan Kecamatan Dempo Selatan. Mendagri yang saat itu adalah Rudini, meresmikan Pagar Alam sebagai kotif pada tanggal 15 januari 1992. Mendagri juga melantik Drs. Musrin Yasak sebagai Walikota Administratif Pagar Alam yang pertama dan menetapkan Kota Pagar Alam sebagai Kota Perjuangan.
Pagar Alam menjadi Kota Administratif melalui Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Pagar Alam dan peresmian dilakukan oleh Mendagri pada tanggal 17 Oktober 2001. Gubernur Sumatera Selatan H. Rosian Arsyad atas nama Mendagri melantik Pejabat Walikota Pagar Alam H. Djazuli Kuris pada tanggal 12 November 2001.
Demikianlah kilas balik perjuangan rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemaah, mulai dari zaman “Lampik Empat Merdike Due”, “Sindang Merdike”, dan “Si Penjaga Batas”hingga penyerahaan kedaulatan, yang karena perlawanan gigih, ulet, dan pantang menyerah dari TNI, lascar, Tentara Pelajar, Pemuda – Pemudi Besemah di Pagar Alam dan Sekitarnya, serta rakyat pejuang pada umumnya sehingga kita dapat menyebut kota Pagar Alam sebagai“Kota Perjuanagan”. Sejarah yang sangat heroic ini perlu selalu di kenang dan dijadikan pedoman dalam mengisi kemerdekaan, juga tidak lupa akan selalu menghormati jasa para pahlawan, khususnya yang gugur di Tanah Besemah.

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH SEMINAR NASIONAL PERADABAN BESEMAH KUNO SEBAGAI PENDAHULU KERAJAAN SRIWIJAYA

Arif, N. Permana, dkk. 2008. Kaleodoskop 5 Tahin Pembangunan Kota Pagar Alam.
Pemerintah Kota Pagar Alam. Palembang: Tavern Artwork

Bedur, Marzuki. Dkk. 2005. Sejarah BESEMAH dari Zaman Megalitikum, Lampik Empat Merdike Due, Sindang Merdike ke Kota Perjuangan. Pemerintah Kota Pagar Alam. Jakarta: KDT Perpustakaan Nasional RI.

Mahruf, Kamil, dkk. 1999. Pasemah Sindang Merdike 1821 – 1866. Jakarta: Pustaka Asri

Sumber Lain :
Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Pagar Alam (Lembaran Negara RI tahun 2001 Nomor 88, tambahan lembaran Negara Nomor 4115);

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif
Pagar Alam

Wawancara dengan :
Tumenggung Citra Mirwan (desa Pelajaran Jarai)
Satar (Beringin Jaya, Kota Pagar Alam).




September 05, 2013

Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak) : Netherland ? kami menyebutnya BELANDA.

Mengapa masyarakat di Nusantara, menyebut Nederland sebagai Belanda? Mungkin orang Nederland sendiri akan bingung menjawabnya…
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, mari kita kembali membuka lembaran sejarah, 360 tahun yang silam…

Mudzakarah Ulama se-rumpun Melayu

Tidak jauh dari kota Palembang, tepatnya di sekitar daerah Pagar Alam, pada tahun 1650 M (1072 H), pernah berkumpul sekitar 50 alim ulama dari berbagai daerah, seperti dari Kerajaan Mataram Islam, Pagaruyung, Malaka dan sebagainya.
Tokoh utama pertemuan itu, adalah Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak), salah seorang keturunan dari Sunan Gunung Jati. Trahnya adalah melalui puterinya Panembahan Ratu, yang menikah dengan Danuresia (Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang).
Hasil dari Mudzakarah Ulama abad ke-17, yang dipelopori oleh Syech Baharudin, antara lain:
1. Memunculkan perluasan dakwah Islam. Dengan demikian, paham animisme yang masih berkembang di masyarakat semakin berkurang dan terkikis.
2. Munculnya kader-kader mujahid, yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Eropa.

Dari peristiwa Mudzakarah inilah, munculnya istilah Belanda sebagai sebutan bagi bangsa Netherland, yang menjadi penjajah ketika itu. Adapun makna kata Belanda, berasal dari kata belahnde (belah = memecah, nde = keluarga).
Dan dengan menyebarnya, istilah Belanda ke seluruh pelosok Nusantara, menjadikan bukti bahwa hasil Mudzakarah tahun 1650M telah menjadi satu “Konsensus Nasional“.
Sementara disekitar tempat terjadinya peristiwa Mudzakarah, dinamai semende, yang bermakna satu keluarga (seme = same = sama = satu; nde = keluarga), yang merupakan lawan dari kata Belanda.

Siapakah Syaikh Nurqodim al-Baharudin

Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.
Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.
Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.
Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.
Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.
Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.
Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.
Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.
Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-ngayang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion….’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]
Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWTkepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.
Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].

Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati

Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.
Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” sertadiangkat sebagai pimpinannya.
Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.
Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.
Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.
Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.
Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damaratau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.
Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”…seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati…”.
Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumateratermasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.
 Sumber Pustaka :

September 01, 2013

Tan Malaka ; Perjalanan Panjang Ke Separuh Dunia

TAN MALAKA
Semula berniat menjadi guru, di separuh jalan Ibrahin Datuk Tan Malaka mengganti cita – cita itu, bermula ketika ia bersekolah di Rijks Kweekschool, Belanda. Di kota Haarlem yang nyaris bangkrut di tinggal ratusan pabrik Bir yang gulung tikar, ia berkenalan dengan sosialisme. Tapi ia menemukan “ Labolatorium”-nya sepulang dari Belanda tatkala menjadi guru anak-anak buruh perkebunan teh Belanda di Deli, Sumatera Utara. Inilah jejak perjungan Tan Malaka :


1. SUMATERA BARAT
Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Sebelum ke Belnda dihabiskan sebagai pemangku adat dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka. Dan di umur ke 16 Tan melanjutkan sekolah ke di Rijks Kweekschool, Belanda. Berangkat dari Teluk Bayur, Oktober 1913.
2. HAARLEM, BELANDA
Berkenalan dengan politik. Saat pulang kampung pada November 1919. Cita – cita Cuma satu ; mengubah nasib Bangsa Indonesia.
Haarlem, Belanda
teman - teman dekatnya di sekolah memenggil Tan dengan sebuatan Ieb atau Iple

3. DELI, SUMATERA UTARA
Menjadi guru sekolah rendah di perkebunan teh, Belanda. Hengkang ke Semarang pada 1912.
4. SEMARANG
Bergabung dengan Serekat Islam. Aktif menyatukan gerakan komunis dan Islam untuk menghadapi Imperealis Belanda. Gara – gara hal ini pada 13 februari 1922 Ia ditangkap Belanda di Bandung.
5. JAKARTA
1 mei 1922, Tan di buang ke Amsterdam.
6. BELANDA
Menjadi calon anggota perlemen nomor 3 di partai komunis Belanda.
7. JERMAN
Melamar menjadi legiun asing, tapi ditolak. Di Berlin bertemu Darsono, pentolan Partai Komunis Indonesia ( PKI ).
8. RUSIA
November 1922, mewakili Partai Komunis Indonesia dalam konfrensi komunis Internasional  (komintern) keempat di Moskow. Diangkat sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur di Kanton. Pindah kesana pada Desember 1923.
9. KANTON
Menerbitkan majalah the Dawn dan menuls buku “Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)”  pada 1925. Menerima kabar bahwa ayahnya meninggal.
10. FILIPINA
Juni 1925 menyelundupkan ke Manila untuk menyembuhkan sakit paru-parunya. Memakai nama Elias Fuentes, bekerja sebagai koresponden El Debate.
11. SINGAPURA
Awal 1926 masuk Singapura memakai nama Hasan Gozali, orang Mindanao. Menulis buku Massa Actie.
12. THAILAND
Juli 1927 mendirikan Partai Rpbulik Indonesia di Bangkok.
13. FILIPINA
Agustus 1927 ditangkap polisi Filipina. Tengah malam, September 1927 diusir dan di titipkan di kapal Suzanna tujuan pulau Amoy di Cina.
14. PULAU AMOY (XIEMEN)
15. SHANGHAI
Pada 1930 masuk Shanghai dengan menyamar sebagai Ossario, wartawan Filipina untuk majalah Bankers Weekly. Oktober 1923 pindah ke Hong Kong karna pecah perang antara Cina dan Jepang.
16. HONG KONG
Tan tertangkap. Pada Desember dibuang ke Shanghai.
17. PULAU AMOY
Kabur dari kapal. Pada 1936 mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman. Ketika Jepang menyerang Amoy setahun kemudian ia lari ke Burma.
18. SIANGAPURA
Ia bisa turun di singapura, “ namun saya tiada mau memakai kesempatan itu, karna dengan begitu saya akan kehilangan uang US$25.” tulis Tan. Ini unang yang diminta nahkoda sebagai jaminan bahwa dia akan turun di Rangoon.
19. BURMA
Tiba di Rangoon pada 31 agustus 1937. Sebulan di Rangoon, ia kembali ke Singapura.
20. SINGAPURA
Mengajar bahasa inggris dan matematika di sekolah Tionghoa. Ketika Jepang meyerbu, ia pulang ke Indonesia melalui penang pada mei 1942.
21. PENANG, MALAYSIA
Berlayar ke Medan pada 10 juni 1942 dengan mengaku sebagai Lagas Hussein.

PRIODE JAWA
Dari Medan Tan memulai petualangannya selanjutnya menujuh tanah Jawa hingga akhir hayat.

PADANG
Singgah di Padang, mengaku sebagai Ramli Hussein, lalu melanjutkan perjalanan ke Lampung.
JAKARTA
Tiba pada Juli 1942, tinggal di Rawajati. Disini menulis Mediolog dan Aslia.
BANTEN
Pada 1943 menjadi kerani di pertambangan batu bara di Bayah, Banten. Menggunakan nama Ilyas Hussein.
JAKARTA
Menggerakan pemuda menggelar rapat raksasa di lapangana IKADA, 19 September 1945.
PURWOKERTO
1 januari 1946, menggalang kongres ersatuan Perjuangan untuk mengambil alih kekuasaan dari tentara sekutu.
MADIUN
Tan dan Sukarni di tangkap di Madiun 17 maret 1946, karna persatuan perjunagn di anggap akan mengkudeta Soekarno-Hatta. Sejak itu, keduanya hidup dari penjara ke panjara di Jawa tengah dan Jawa timur.
MAGELANG
Juni 1948, keduanya di pindahakan ke penjarah magelang. Tan Menulis Dari Penjara ke Penjara. Pada 16 september 1948 dibebaskan.
YOGYAKARTA
Tan dan Sukarni mendirikan Partai Murba. 7 November 1948.
GUNUNG WILIS, KEDIRI
Tentara Republik Indonesia / TKR menangkap dan mengeksekusi Tan pada 21 Februari 1949 di desa Selopanggung, karna dituduh melawan Soekarno-Hatta. Kala itu Tan bersama Jenderal Soedirman –yangberjuang di Yogyakarta- sedang melawan agresi Belanda.  
Sumber Ilustrasi Perajalanan Tan Malaka
TEMPO, 17 Agustus 2008


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14