Januari 20, 2011

Atung Bungsu & Sejarah Besemah



sejarah Besemah ini menurut cerita yang kami dapat dari orang tua-tua dahulu, Besemah ini adalah penemuan Atung Bungsu yang datang dari Jawa. Nah dia datang ke Besemah ini, menjelajahi Besemah ini masih rimba legun dalam. Rimba legun dalam ini artinya hutan yang belum ada seorang manusia pun yang tinggal disana, kecuali hutan lebat hutan belantara. Yang dikatakan legun dalam itu hutan yang belum ditemukan oleh manusia.
Nah setelah Atung Bungsu selesai mengelilingi hutan-hutan yang sangat lebat, yang belum ada manusianya itu. Maka ditinggalkannya kembali hutan itu, sebab dia belum sanggup belum ada manusia. Maka dia di dalam meninggalkan daerah artinya Besemah ini, dia entah merantau lagi entah meneruskan perjalanannya. Maka beberapa tahun kemudian dia kembali lagi ke daerah Besemah. Nah dia kembali membuat tenda disitu, setelah istrinya mengambil air itu masak sambil mencuci beras, maka bakul berasnya tadi dimasuki oleh ikan. Oleh istrinya ditanyakan pada Atung Bungsu.
“Ai...Atung Bungsu apa nama ikan ini?”
dijawabnya oleh Atung Bungsu
“Oi...ikan ini ikan semah, kalau seperti ini air ini Besemah Putri Senantan Buih”.
Nah sampai sekarang ini air itu dinamakan air Besemah
Beberapa hari Atung Bungsu bersama istrinya berkemah di tepi sungai tadi, maka terlihatlah oleh Atung Bungsu kapae atau bekas orang membukus nasi, bekas pembalut sayur segala macam, itu kapae kata kami di Besemah ini dengan buloh dasan. Buloh dasan ini bambu muda artinya untuk masak sayur, masak lemang umpamanya. Nah, Atung Bungsu pada waktu itu terkejut melihat itu, nah katanya kalau seperti ini sudah ada orang di ulu ini. Nah lantas di esok harinya dia langsung mudiki air Besemah. Nah setelah dimudukinya maka dia bertemu dengan sebuah desa yang sangat ramai. Maka Atung Bungsu masuk, dia berkata dengan petua desa itu.
“Kenapa kamu sudah ada disini, tanah ini milik saya”
Dijawabnya oleh orang Rejang, desa itu desa Rejang. Boleh dikatakan di Besemah itu telah dikuasai oleh orang Rejang pada waktu itu. Jadi pada waktu Atung Bungsu pertama kali datang ke Besemah ini belum ada orang Rejang ini. Nah maka diperkirakan empat lima puluh tahunnya Atung Bungsu kembali kesana. Sampai dia yang mengatakan kata Atung Bungsu itu miliknya kata orang Rejang itu kepunyaannya. Nah maka petua desa Rejang itu berkata.
“Apa ciri tanah ini, kalau tanah ini milikmu Atung Bungsu”
Nah disini Atung Bungsu terbentur, sebab dia belum membuat ciri khas pada waktu datang pertama kali itu.
“Sedang milik kami katanya, lihatlah sendiri dusun sudah sebesar ini. Bukan hanya satu dusun ini saje mungkin telah dua tiga puluh desa lain disini. Maka katamu milik mu tanah ini. Kami datang kemari seorang pun belum ada orang disini”
Kata orang rejang tadi, itu memang benar. Sebab Atung Bungsu selesai mengelilingi tanah Besemah ini, dia kembali pergi dia tidak menetap disitu. Setelah dia datang kedua kalinya maka daerah itu telah banyak orang disana. Tetapi Atung Bungsu bersih keras sebab dia benar, dia lebih dahulu menemukan Besemah ini. Maka disini Atung Bungsu mungkin dia kalah, karena orang banyak dia sendirian, kedua milik Atung Bungsu  belum ada ciri-ciri yang mutlak. Lantas Atung Bungsu pulang lagi ke Jawa. Di Jawa ini dia minta petunjuk Ratu Sinuhun.
“Bagaimana bahwa tanah yang ku temukan itu, oleh karena waktu itu masih kosong maka ku tinggalkan lagi. Maka sekarang oleh karena aku mau membukanya tapi daerah itu telah dikuasai oleh orang lain, orang itu ditanyakan orang Rejang Berige. Oleh karena sekarang aku mau perkara, tetapi aku belum memiliki bukti. Tetapi oleh karena memang benar aku yang lebih dahulu menemukan daerah itu, belum ada orang lain pada waktu aku mengelilingi rimba-rimba itu”
Lantas kata Ratu Sinuhun.
Kau kembalilah ke Besemah. Seandainya dia mau bersumpah, maka kau kemari lagi dan apa ciri-ciri milik orang itu?”
Maka kata Atung Bungsu.
“Ai...ciri miliknya niur telah menjatuhkan kelapanya, artinya telah jatuh masak, artinya itu kan memang sudah lama. Sedangkan milikku semua cerita itu tidak ada”
“Nah kau pulanglah dahulu ke Besemah. Kau buatlah dahulu ciri, sebatas mana tanah itu yang akan kau ambil. Kalau milik orang itu baru menjatuhkan kelapanya, kau carilah tunggulnya. Tunggul pinang, tunggul kepala, arang dan jangan lupa kulit kemiri. Nah itu kau kuburkan ke batas-batas tanah yang akan kau ambil”
Nah setelah itu Atung Bungsu kembali lagi ke Besemah tidak sepengetahuan orang Rejang, dia mencari tunggul kelapa yang sudah buruk, tunggul pinang, arang setelah itu dibuat untuk menyatakan tempat-tempat itu bekas-bekas yang telah ditinggalkan. Kalau milik orang Rejang masih berbuah, kalau milik Atung Bungsu sudah menjadi tunggulnya.
Setelah Atung Bungsu selesai membuat ciri-ciri tadi di daerah Besemah sampai ke Ulu Musi, nah itu masih berbatasan dengan Bengkulu. Nah maka Atung Bungsu kembali ke desa yang dijumpainya tadi.
“Ai...kamu tidak akan pergi”
“Oi...tidak” kata orang Rejang “ini dusun kami”
“Kalau seperti ini terpakasa kita musyawarah, musyarwarah ini kita panggil orang dari Jawa. Kita bersumpah itulah hakimnya”
“Ai...jadi”
“Dan kita lihat ciri-ciri milikku, ai...kalau cuma kelapa milikku tinggal tunggulnya saja, dan tunggul pinang”
“Ai...jadi kalau seperti itu”
Maka Atung Bungsu kembali lagi ke Jawa, sampai di Jawa dia berceritalah.
“Ciri-ciri yang kamu suruh buat itu telah selesai ku kerjakan”
“Nah...kau ambillah bambu dua ruas, bambu dua ruas itu seruas kau isi dengan air seruas lagi kau isi dengan tanah uuntuk bahan kau nanti bersumpah. Nanti kami datang, hari apa kau menetapkan akan melaksanakan sumpah itu?”
“Kalau tidak salah satu minggu lagi, kamu jangan tidak datang di desa orang Rejang itu, aku akan menunggu disana”
Maka Atung Bungsu kembali lagi ke Besemah. Setelah sampai waktu yang ditetapkan, maka orang Jawa tadi telah datang. Dia menjadi saksi waktu sumpah dilaksanakan, karena pada waktu itu belum hakim seperti sekarang ini untuk menyelesaikan perkara. Nah setelah semuanya telah datang Atung Bungsu dengan orang Rejang di saksikan orang dari Jawa tadi, dia bersama-sama melihatkan ciri-ciri yang dikatakan oleh Atung Bungsu. Seperti tunggul kelapa, tunggul pinang, lubang arang dan kulit kemiri. Ternyata apa yang dikatakan Atung Bungsu benar-benar ada. Nah...maka di dalam hal ini kalau milik orang Rejang ini agak kualahan dengan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh Atung Bungsu, setelah terbukti bahwa memang benar ada tanda-tanda itu, orang Rejang ini mulau lesu. Nah maka rombongan ini kembali lagi kedusun induk. Tapi aku tidak tahu namanya, tapi dusun disekitar di ulu air Besemah tempatnya. Setelah sampai di dusun induk itu orang Rejang ini belum puas, dia belum mau meninggalkan tanah ini, maka dilaksanakan sumpah oleh Atung Bungsu.
“Nah...aku bersumpah, bahwa menyatakan ini milikku”
Jadi ambilnya bambu dua ruas tadi yang di bawanya dari Jawa. Bambu itu telah diisinya dengan tanah seruas dan seruas lagi dengan air dan bambu itu dibuatnya menjadi tongkat, nah maka bambu itu disumpahkan oleh Atung Bungsu.
“Kalau tanah dan air ini bukan milikku maka binasalah aku”
Tapi waktu dia bersumpah itu, bambu tongkat itu cuman digantungkannya dan yang disumpahinya bukan tanah yang dipijaknya melainkan yang disumpahinya itu tanah dan air yang dipegangnya di dalam tongkat.
Nah maka orang Rejang mengakui kekalahan, setelah irang Rejang ini mengakui kekalahannya maka diusirnya oleh Atung Bungsu orang Rejang itu. Sampai sekrang daerah Rejang itu di daerah Rawas, ulu lagi daerah Curup, nah maka orang Rejang itu bermukim di daerah itu.
Nah inilah arti kata peran Atung Bungsi mudik Besemah. Setelah Atung Bungsu ini membuat dusun segala macam, maka telah beberapa lama dia menjadikan Besemah ini menjadi lima buah sumbai. Antara lain pertama-tama yang disebut Besemah, mungkin kalau putra Besemah tahu walaupun tidak akan paham benar, tetapi tahu dengan semboyan itu. Arti kata semidang ialah orang suku Pelang Kenidai, pejalang ialah orang daerah Benua Keling, Ulu Lurah, Sumbai Besar, Mangku Anom terbentuklah lima buah. Jadi Besemah ini telah jadi, sudah cukup ramai karena sudah ada lima buah sumbai bukan dusun. Arti sumbai itu suku, ini kan pecahannya suku. Jadi Besemah ini telah lengkap sudah penuh sampai ke Lintang sekarang ini telah penuh oleh manusia.
Nah maka  di dalam hal ini kelima sumbai ini menyatakan ingin membuat undang-undang, untuk peninggalan kepada anak cucu. Pejalang dan Semidang dimerdekakan karena sesuai dengan Pejalang selalu njalang sama saja dengan tidak di dusun merantau. Jadi dukuasakannya oleh Semidang dan Pejalang ini untuk membuat undang-undang itu kepada tiga buah sumbai yaitu sumbai Ulu Lurah, Mangku Anom dan Sumbai Besar. Nah pada suatu hari waktu sidang ketiga sumbai ini sumbai besar, mangku anom, ulu lurah ini berebut ingin menjadi ketua. Karena orang ini Ulu Lurah, Mangku Anom dan Sumbai Besar ini masih keturunan Semidang dan Pejalang, jadi masih berhak semua menjadi ahli waris.
Pejalang dan Semidang merupakan orang satu itulah. Nah pada waktu Pejalang silam maka timbulan Semidang jadi gelarnya sama. Jadi kalau kita motivasikan Pejalang dengan Semidang itu orang satu itulah timbul tenggelam-timbul tenggelam. Sesuai dengan Atung Bungsu karena Atung Bungsu bukan anak manusia biasa, dia turun sendiri ke dunia. Jadi dia itu dewa, dewa Atung Bungsu. Hanya saja dia itu mengikuti Ratu Sinuhun waktu dia melahirkan Ratu Sandang Biduk telah selesai semua dikemasi dimandikan segala macam, dibedung oleh kerajaan itu oleh Ratu Sinuhun. Nah waktu akan membangunkannya untuk memberinya makan, maka anak itu telah menjadi dua. Jadi yang kedua Atung Bungsu, kalau orang Jawa mengatakannya kalau Atung itu bujang, bungsu belakangan. Nah inilah maka dia dinamakan Atung Bungsu, tetapi dia menjadi anak Ratu Sinuhun semua. Jadi anak Ratu Sinuhun waktu itu menjadi tujuh, namun anak Ratu Sinuhun yang sebenarnya enam orang. Lima laki-laki satu perempuan, tetapi pendatangnya yang mendampingi Putri Sandang Biduk ialah Atung Bungsu. Nah ini sejarah yang kami dapat di Besemah ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14