November 30, 2010

MANUSIA DAN STATUSNYA


Banyak keajaiban di dunia ini, tetapi tidak ada sesuatu yang lebih ajaib daripada manusia. Keajaiban dan misteri kehidupan manusia masih banyak yang belum terungkapkan. Socrates yang hidup 25 abad yang silam sudah  mempersoalkannya, mengatakan bahwa, “manusia hendaklah mengenal diri dengan dirinya sendiri”(dikutip oleh Jahja, 1962:47). Memang mengenal diri merupakan masalah asasi yang menyangkut kehidupan manusia secara keseluruhan. Diantara persoalannya adalah menyangkut kedudukan manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan di antara makhluk-makhluk lainnya.
“... manusia itu binatang tertawa atau binatang menangis, mendoa, berjalan tegak, yang dapat membuat api, yang dapat menciptakan alat-alat,yang mempunyai bahasa tertulis, yang dapat merasa bangga, yang dapat mencapai kemajuan, yang dapat menuju kepada maksud  sendiri, yang mempunyai rasa menyesal dan yang ingin di dunia” (Rasjidi, 1975:208).
Abdul Karim al-Khatib (1982: ) menguraikan tentang kedudukan manusia dalam islam mengatakan manusia sebagaimana ALLAH Ta’ala ciptakan adalah makhluk yang teristimewa, yang tegak di atas kakinya sendiri di antara makhluk-makhluk lainnya, dalam kejadiannya telah terkumpul unsur-unsur makhluk yang lain, tapi ia bukan bagian daripadanya dan tidak serupa dengannya.
Untuk mendapatkan gambaran yang benar tentang manusia menurut ajaran islam, kita perlu memperhatikan keterangan-keterangan al-Quran sebagai rujukann pertama dalam sistem pemikiran islam.  Abul ‘Ala Maududi mengatakan bahwa “pokok pembicaraan al-Quran adalah manusia dan tema sentral pembicaraan al-Quran adalah manusia sendiri” (dikutip oleh Rahardjo, 1987:212). Dengan kata lain, ALLAH melalui wahyu-Nya  menjelaskan kepada manusia tentang dirinya dan dunianya.
Dalam surah al-Quran yang pertama kali di turunkan, yaitu surah al-alaq ayat 1-5 :
Artinya :” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar(manusia)dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Ternyata, dalam ayat-ayat tersebut, Tuhan, di samping memperkenalkan diriNya sebagai Rabb, yaitu Tuhan Yang Menciptakan, Yang Pemurah, dan Yang Mengajar manusia, juga telah menyebut istilah al-insan sebanyak 2 kali. Pertama, manusia dalam konteks yang berhadapan dengan ALLAH,  sebagai makhluk yang di ciptakan, yaitu dari segumpal darah. Kedua,  manusia juga disebut dalam konteks, juga berhadapan dengan ALLAH, sebagai makhluk yang menrima pelajaran,  yang memperoleh pengetahuan, dengan perantaraan suatu alat, yaitu al-qalam (pena). Ayat terakhir menyebutkan suatu proses perpindahan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Di situ tampak sekali makna penyadaran oleh ALLAH kepada manusia bahwa al-insan itu bukan hanya sekedar makhluk biologis, tetapi juga makhluk rohaniah, yakni makhluk yang menerima ilmu dari ALLAH, makhluk yang belajar.
Dalam surah al-Mu’minun ayat 15:
Artinya: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak di kembalikan kepada kami”.
Dari ayat di atas kita peroleh 3 unsur pokok yang perlu di perhatikan dan memberikan pengertian manusia, yaitu: makhluk, tidak sia-sia, pertanggungan jawab. Dari 3 unsur itu, dapat dirumuskan pengertian manusia menurut al-Quran adalah makhluk fungsional yang bertanggung  jawab.
Sekarang, apa dan bagaimana kedudukan manusia itu menurut ajaran islam??? Al-Quran menjelaskan bahwa manusia itu adalah penguasa (khalifah) di muka bumi yang mengemban amanat dari ALLAH SWT. (QS. 2:30 dan 33:72). Untuk keperluan itu manusia di beri kemampuan dan kekuatan untuk menggunakan laut sebagai sarana komunikasi, sungai-sungai sebagai sarana kemakmuran hidup, bulan-matahari dan siang-malam di tundukan kepada manusia untuk di jadikan sarana memenuhi dan mengembangkan kehidupannya. Dan segal usaha manusia untuk itu di bentangkan jalannya (QS. 14:32-34). Manusia sebagai khalifah di anjurkan untuk mengolah dan mengembangkan segala macam bentuk sarana kehidupan yang sesuai dengan jalan yang sudah di tetapkan oleh ALLAH SWT. (QS. 20:53 dan 43:10).
Selanjutnya ALLAH bekali manusia berupa kemampuan untuk mengembangkan kehidupan dengan perantaraan ilmu pengetahuan(QS. 96:1-5). Dalam surah al-Baqarah ayat 30-33, ketika para malaikat memprotes Tuhan dan meminta agar tidak menciptakan manusia, “yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi”. Tuhan menolak permintaan mereka dan berfirman: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Kemudain para malaikat diminta untuk “menyebut” nama-nama benda; dan ketika mereka mengakui ketidaksanggupan mereka untuk melaksanakannya, Adam bisa memberitahukan “nama-nama” benda; lalu ALLAH berkata kepada para malaikat, “Bukankah sudah Aku katakan bahwa Aku lebih mengetahui (mengapa Aku ciptakan manusia?)”
Hal di atas -Kata fazrul rahman- (1987:82) “menunjukan suatu keistimewaan karakteristik manusia yang membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya, yaitu kepastiannya untuk “memberi nama” kepada benda-benda. Memberi nama kepada benda-benda menunjukan kapasitas untuk menemukan sifat-sifat benda, hubungan timbal balik, dan hukum-hukum perilakunya. Ketika saya menamakan itu sebuah batu, saya mengetahui sesuatu mengenai perilakunya. Dengan kata lain, manusia berbeda dari makhluk lainnya karena dia memiliki pengetahuan kreatif dan ilmiah mengenai benda-benda (ilmu eksakta) mengenai susunan batinnya (ilmu kejiwaan) dan mengenai perilaku luar manusia sebagai suatu proses yang berjalan terus dalam masa (ilmu kesejarahan).”
Dengan demikian, hal yang perlu diingat, yaitu segala aktivitas manusia dalam menjalankan amanat itu (sebagai khalifah), ia tidak boleh melupakan akan status hakikatnya sebagai pengabdi kepada ALLAH SWT. Ingat firman-Nya dalam surah al-Zariat ayat 56:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.





Daftar Pustaka
Asmaran, As.1994.Pengantar Studi Akhlak.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Muchtar,  jahja.1962.Pokok-pokok Filsafat Junani.Jakarta:Widjaja
Rasidji.1975.Filsafat Agama.Jakarta:Bulan Bintang
Rahman, Fazrul.1987.Neo Modernisme Islam.Bandung:Mizan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14