November 16, 2012

Arti Penting Pemanfaatan Media bagi Pembelajaran di Indonesia


Belajar tidak selamanya bersentuhan dengan hal - hal yang kongkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitasnya. Karena itu media memiliki andil untuk menjelaskan hal - hal yang abstrak dan menunjukan hal - hal yang tersembunyi. Ketidak jelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal - hal tertentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran. Namun perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaanya tidak sejalan dengan esensi tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Sebagai pentingnya peran media dalam pengajaran, namun tetap tidak bisa menggeser peran guru, karena media hanya berup alat bantu yang memfasilitasi guru dalam pengajaran. Oleh karena itu guru tidak dibenarkan menghindar dari kewajibannya sebagai pengajar dan pendidik untuk tampil di hadapan anak didik dengan seluruh kepribadiannya.

Dalam proses belajar mengajar ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainaya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran. Pada kenyataannnya, apa yang terjadi dalam pembelajaran seringkali terjadi proses pengajaran berjalan dan berlangsung tidak efektif. Banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang sia-sia sedangkan tujuan belajar tidak dapat tercapai bahkan terjadi noises dalam komunikasi antara pengajar dan pelajar. Hal tersebut diatas masih sering dijumpai pada proses pembelajaran selama ini.

Dengan adanya media pembelajaran maka tradisi lisan dan tulisan dalam proses pembelajaran dapat diperkaya dengan berbagai media pembelajaran. Dengan tersedianya media pembelajaran, guru pendidik dapat menciptakan berbagai situasi kelas, menentukan metode pengajaran yang akan dipakai dalam situasi yang berlainan dan menciptakan iklim yang emosional yang sehat diantara peserta didik. Bahkan alat/media pembelajaran ini selanjutnya dapat membantu guru membawa dunia luar ke dalam kelas. Dengan demikian ide yang abstrak dan asing (remote) sifatnya menjadi konkrit dan mudah dimengerti oleh peserta didik. Bila alat/media pembelajaran ini dapat di fungsikan secara tepat dan proforsional, maka proses pembelajaran akan dapat berjalan efektif.

Begitu juga di indonesia seiring perkembangan zaman dan perkembangan Indonesia untuk menyaingi pesetnya perkembangan di dunia maju. Di butuhkan pemanfaatan media secara optimal di dukung tenaga kerja yang handal untuk mengimbangi deresnya moderisasi.

 Pendidikan di Indonesia

Dalam setiap olimpiade pendidikan internasional, delegasi pelajar Indonesia selalu dapat meraih sebuah medali untuk dibawa pulang. Hal tersebut menandakan bahwa dalam ajang tersebut Indonesia tidak pernah lebih rendah dari peringkat 30 dunia. Namun tahukah Anda, dengan tingginya prestasi tersebut, pendidikan Indonesia hanya berada di peringkat 187 dunia? Hal ini tentu menunjukkan sebuah ketimpangan. Padahal dalam tinjauan perannya, menurut Profesor Canedy, sebuah pendidikan di suatu negara adalah sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan dan memajukan peradaban bangsa dalam jangka yang berkesinambungan. Untuk itulah saya di sini hendak menyampaikan sebuah pembahasan Kedudukan dan Peluang Pendidikan Indonesia dalam Tarik Ulur Peradaban Bangsa-Bangsa di Dunia.

Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. EDI dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80, sedangkan kategori rendah di bawah 0,80.

Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu:


·         Angka partisipasi pendidikan dasar,
·         Angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas,
·         Angka partisipasi menurut kesetaraan jender,
·         Angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar (SD).

Di tingkat Asia Saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunai Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu Asia. Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia.Meskipun demikian posisi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).

Dalam Republika Online di babarakan 7 faktor yang membuat Mutu Pendidikan di Indonesia masih saja tergolong randah yakni ;

1.      Pembelajaran yang hanya pada buku paket
Di indonesia telah berganti beberapa kurikulum dari KBK menjadi KTSP. Hampir setiap mentri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum baru. Namu adakah perubahan yang terjadi di pendidikan di Indonesia ? tidak, karena sejak dulu sampai sekarang masih menggunakan kurikulum buku paket. Sejak era 60-70an, pembelajaran di sekolah tidak jauh dari sebelumnya. Apa pun kurikulumnya guru hanya mengenal buku paket menjadi acuan dan guru todak mencari referensi lain.

2.      Mengaajar satu arah
Metode yang menjadi favorit guru hanya satu, yaitu metode ceramah satu arah. Karena berceramah itu mudah ringan dan tanpa modal dan tanpa persiapan yang rumit. Metode ceramah itu yang paling banyak di lakukan guru dan itulah metode yang paling banyak di kuasai oleh para Guru-guru. Pernakah guru mengajak anak keliling sekolah untuk belajar ? pernakah guru mengajak ssiswanya melakukan percobaan alam di lingkungan sekitar ? atau guru pernah membawa ilmuan langsung detang ke kelas untuk menjalankan profesinya ?

3.      Kurangnya sarana belajar
Sebenaranya, perhatian pemerintah ini sudah cukup, namun masih kurang cukup. Masih banyak saran belajar di sekolah terutama di dearah, tertinggal jauh terutama dengan daerah perkotaan.

4.      Aturan yang mengikat
Ini tentang Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). Skolah harus memeliki kurikulum tersendiri sesuai dengan karektristiknya.

5.      Guru tidak menanamkan diskusi dua arah
Lihat pembelajaran di ruang kelas. Seperti sudah diseragamkan. Anak-anak duduk rapi tangan dilipat dimeja, mendengar guru mengajar. Seolah anak-anak “Dipaksa” mendengar dan mendapatkan informasi sejak pagi sampai siang, belum lagi ada sekolah yang menerapakan full day. Anak di ajarkan menyimak dan mendengar penjelasan guru dan kompetensi bertanya tidak tersentu. Anak-anak di ajarkan sejak TK diam saat guru menerangkan,untuk mendengarkan guru. Akibatnya siswa tidak dilatih untuk bertanya. Siswa tidak di biasakan bertanya, akibatnya anak tidak berani bertanya. Selesai mengajar,guru meminta anak bertanya. Heninglah suasana kelas dan yang biasa bertanya anak itu itu saja.

6.      Metode pertanyaan terbuka tidak di pakai
Contoh negara menggunakan pertanyaan terbuka adalah Finlandia ( Negara dengan mutu Pendidikan no.1 Dunia ). Dalam setiap ujian siswa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Guru di Indonesia masih belum siap untuk ini karna masih kesulitan menciptakan pertanyaan terbuka.

7.      Budaya mencontek
Siswa mencontek itu biasa terjadi. Tapi apa kita tahu kalau “guru juga menyontek” ? ini lebih parah, lihat pada tes-tes yang di ikuti guru, tes pegawai negri yang di ikuti guru. Menyontek menjadi Budaya tersendiri.
Untu adalah sekelimit masalah yang di hadapi di dunia pendidikan di Indonesi, tapi apa hubungan hal tersebutdengan makalah kali ini, disini saya akan membahas pada poin 3 yakni sarana belajar yang melibatkan media-media belajar untuk dapat mengejar dan memperbaiki mutu pendidikan di Negeri ini.


 Kesiapan Indonesia dengan tuntutan perkembangan zaman

Di ulasan sebelumnya sedikit di ceritakan bagai mana gambaran pendidikan di Indonesia ini. Sesuai dengan judul makah yakni  “pentingnya media pembelajaran di indonesia” penjaban hal di atas hanya salah satu pentingnya media belajar untuk mendukung kekurangan yang terjadi di Indonesia terutama ketimpangan yang terjadi di pendidikan Kota-dearah dalam bentuk saran belajar. Tapi bukan itu saja banyak arti penting Media pembelajaran yang di gunakan terutama manyangkut kwalitas hasil pendidikan di indonesia.

Di era Moderan dan Globalisasi saat ini teknologi berperan penting bagi kehidupan hal yang tak dapat di pungkiri dan tak bisa di hindari. Oleh itu sekolah merupakan salah satu tempat pengenal teknologi via media pembelajaran dan pembelajaran teknologi (TIK) agar siswa tidak buta teknologi.

Kita tengok terlebih dahulu pemanfaatan teknologi di laur negri seperti di negara tetangga , Australia, seperti pemberian kesempatan pendidkan di derah jauh yang sulit terjangkau dengan bekerja sama The Australian Broadcesting Commision (ABC) sebagai pemberi sarana pendidikan jarak kau. Begitu juga di Cina dengan Program UTC-nya ( Universitas Televisi Cina ). Hal ini mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidkan di wilaya mereka yang luas dan sulit ter jangkau untuk pemerataan pendidikan. Hal itu yang juga harus di pelajari Indonesia yang mempunya Latar Geografis yang sama. Sehingga tetjadi ketimpangan Pendidikan dan juga sebai kebutuhan perubahan Zaman yang terus berkembang pesat.

 Alasan nilai kepentingan Penggunaan media pada proses pendidikan

Belajar tidak selamanya bersentuhan dengan hal - hal yang kongkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitasnya. Karena itu media memiliki andil untuk menjelaskan hal - hal yang abstrak dan menunjukan hal - hal yang tersembunyi. Ketidak jelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal - hal tertentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran. Namun perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaanya tidak sejalan dengan esensi tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Sebagai pentingnya peran media dalam pengajaran, namun tetap tidak bisa menggeser peran guru, karena media hanya berup alat bantu yang memfasilitasi guru dalam pengajaran. Oleh karena itu guru tidak dibenarkan menghindar dari kewajibannya sebagai pengajar dan pendidik untuk tampil di hadapan anak didik denganseluruh kepribadiannya.

Dalam proses belajar mengajar, fungsi media menurut Nana Sudjana ( 1991 ) yakni: :


1.   Penggunaan media dalam proses mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

2.     Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yangintegral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru.

3.      Media dalam pengajaran penggunaannya bersifat integral dengan tujuan dan isi pelajaran.

4.    Penggunaan media bukan semata - mata sebagai alat huburan yang digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

5.   Penggunaan media dalam proses pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar dan membantu siswa dalam menagkap pengertian yang diberikan guru.

6.      Pengguna media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.


Lebih detil lagi penggunaan media dalam proses pembelajaran adalah:

1.      Menarik perhatian siswa.
2.      Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran.
3.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis ( dalam bentuk kata - kata tertulis atau lisan ).
4.      Mengatasi keterbatasan ruang.
5.      Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif.
6.      Waktu pembelajaran lebih dikondisikan.
7.      Menghilangakn kebosanan siswa dalam belajar.
8.      Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu/ menimbulkan gairah belajar.
9.      Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam.
10.  Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.


Berawal dari penjelasan di atas bahwa guru sangat diharapkan memahami terhadap media semakin jelas, sehingga dapat memanfatkan media secara tepat. Oleh karena itu, guru perlu menentukan media secara terencana, sistematis dan sistemik ( sesuai dengan sistem belajar mengajar ).

Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

·         Fiksatif (fixative property) Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.

·         Manipulatif (manipulatif property) Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.

·         Distributif (distributive property) Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.

Peranan Media, diantaranya:
1.      Mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik.
2.      Mengatasi batas-batas ruang kelas.
3.      Mengatasi kesulitan apabila suatu benda yang diamati terlalu kecil.
4.      Mengatasi gerak benda secara cepat atau lambat.
5.      Mengatasi hal-hal yang terlalu kompleks untuk dipisahkan.
6.      Mengatasi suara yang terlalau halus untuk didengar.
7.      Mengatasi peristiwa-peristiwa alam.
8.      Memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan masyarakat atau alam.
9.      Memungkinkan terjadinya kesamaan dalam pengamatan (Rohani, 1997:6).


Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme. Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran.

1 komentar:

kingkong mengatakan...

Thank's gan infonya !!!

www.bisnistiket.co.id

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14