Juni 08, 2011

PAOLO MALDINI “ SATU FINAL, DUA REKOR “

TIDAK banyak yang menyangka gol pertama di final Liga Champions 2004-05 akan dicetak oleh seorang defender. Apa lagi gol tersebut menjadi gol tercepat dalam sejarah Final Liga Champions. Namun, kapten AC MILAN, Paolo Maldini mampu melakukannya.


Stadion Ataturk Olimpiyat, Istambul, menjadi saksi bisu bagaimana seoarang Paolo Maldini bias mencetak Gol dalam tempo waktu 52 detik saja. Bola Kick-off sebanarnya di miliki Liverpool. Namun, The Reds hanya menguasai Bola sekitar 10 detik saja untuk kemudian serangan dikuasai skuad Milan.

Berawal dari sebuah serangan dari sisi kiri pertahanan Liverpool, Djimi Traore terpaksa menjatuhkan KAKA’ yang berusaha menerobos ke kotak Penalti. Ini awal terjadinya gol cepat Maldini. Bola Tendangan bebas yang dilakukan Andrea Pirlo melesat ke arah ruang kosong di depan barisan pertahanan Liverpool.

Maldini yang berdiri sedikit di luar kotak penalty langsung berlari menyambut umpan Pirlo. Sebuah tendangan voli Maldini yang memantul ke tanah tak kuasa dibendung Jerzy Dudek. Gol itu tidak hanya menjadikan Maldini sebagai pencetak gol tercepat di laga final. Namun sekaligus menjadi pemain tertua yang mampu mencetak gol di sebuah Final Liga Champions. Saat mencetak Gol di Istanbul, Maldini sudah berumur 36 tahun.

Juni 07, 2011

kerajaan sriwijaya


1.     Sejarah dan Lokasi
      Pengetahuan mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika George Coedes menulis karangannya berjudul Le Royaume de Crivijaya pada tahun 1918 M.
      Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. Lebih lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya adalah Palembang, dengan bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source, yang menyatakan bahwa, San-fo-ts‘I adalah Palembang yang terletak di Sumatera Selatan, yaitu tepatnya di tepi Sungai Musi atau sekitar kota Palembang sekarang
2.     Sumber Sejarah
      Sumber-sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti.
B.     Sumber Asing
Sumber Cina
            Kunjungan I-sting, seorang peziarah Budha dari China pertama adalah tahun 671 M. Dalam catatannya disebutkan bahwa, saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Aturan dan upacara para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di India. I-tsing tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu, baru ia berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685 I-tsing kembali ke Sriwijaya  dan tinggal selama beberapa tahun untuk menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.
            Catatan Cina yang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara rutin ke Cina, yang terakhir adalah tahun 988 M
Sumber Arab
            Arab, Sriwijaya disebut Sribuza. Mas‘udi, seorang sejarawan Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar, dengan tentara yang sangat banyak. Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi lainya.

Sumber India
            Kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti dengan Kerajaan Nalanda, dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda

Sumber lain
            Pada tahun 1886 Beal mengemukakan pendapatnya bahwa, Shih-li-fo-shih merupakan suatu daerah yang terletak di tepi Sungai Musi, Sumber lain, yaitu Beal mengemukakan pendapatnya pada tahun 1886 bahwa, Shih-li-fo-shih merupakan suatu daerah yang terletak di tepi Sungai Musi.

            Pada tahun 1913 M, Kern telah menerbitkan Prasasti Kota Kapur, prasasti peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di Pulau Bangka. Namun, saat itu, Kern menganggap Sriwijaya yang tercantum pada prasasti itu adalah nama seorang raja, karena Cri biasanya digunakan sebagai sebutan atau gelar raja


 C.     Sumber Lokal atau Dalam Negeri
            Sumber dalam negeri berasal dari prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu antara lain sebagai berikut.
 Prasasti Kota Kapur
            Prasasti ini merupakan yang paling tua, bertarikh 682 M, menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minana dengan perahu, bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.213 tentara yang berjalan kaki.
 Prasasti Kedukan Bukit
            Prasasti berangka tahun 683 M itu menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan
 Prasasti Talangtuo
            Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.
 Prasasti Karang Berahi
            Prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.
 Prasasti Ligor
            Prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.
 Prasasti Nalanda
            Prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.
 Prasasti Telaga Batu.
            Prasasti ini Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M. Berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan., maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya
            Prasasti-prasasti dari Kerajaan Sriwijaya itu sebagian besar menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.
KEJAYAAN KERAJAAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Balaputradewa. Ia mengadakan hubungan dengan raja Dewapaladewa dari India. Dalam prasasti Nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M disebutkan bahwa Balaputradewa mengajukan permintaan kepada raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Balaputradewa adalah putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812 – 824 M.

Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Budha. Seorang biksu Budha dari Cina bernama I-tsing pada tahun 671 berangkat dari Kanton ke India untuk belajar agama Budha. Ia singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa sansekerta. Di Sriwijaya mengajar seorang guru agama Budha terkenal bernama Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra. Para biksu Cina yang hendak belajar agama ke India dianjurkan untuk belajar di Sriwijaya selama 1 – 2 tahun. Pada masa berikutnya, yaitu pada tahun 717 dua pendeta Tantris bernama Wajrabodhi dan Amoghawajra datang ke Sriwijaya. Kemudian, antara tahun 1011-1023 M datang pula pendeta dari Tibet bernama Attisa untuk belajar agama Budha kepada mahaguru di Sriwijaya bernama Dharmakirti.

Kehidupan Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya Ekonomi
Menurut catatan asing, Bumi Sriwijaya menghasilkan bumi beberapa diantaranya, yaitu cengkeh, kapulaga, pala, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah dan penyu. Barang-barang tersebut dijual atau dibarter dengan kain katu, sutera dan porselen melalui relasi dagangnya dengan Cina, India, Arab dan Madagaskar.
Politik
Untuk memperluas pengaruh kerajaan, cara yang dilakukan adalah melakukan perkawinan dengan kerajaan lain.  Hal ini dilakukan oleh penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang pada tahun 664 M, dengan menikahkan Sobakancana, putri kedua raja Kerajaan Tarumanegara.
Saat kerajaan Funan di Indo-China runtuh, Sriwijaya memperluas daerah kekuasaannya hingga bagian barat Nusantara. Di wilayah utara, melalui kekuatan armada lautnya, Sriwijaya mampu mengusai lalu lintas perdagangan antara India dan Cina, serta menduduki semenanjung malaya. Kekuatan armada terbesar Sriwijaya juga melakukan ekspansi wilayah hingga ke pulau jawa termasuk sampai ke Brunei atau Borneo. Hingga pada abad ke-8, Kerajaan Sriwijaya telah mampu menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara.
Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Ada tiga syarat utama untuk menjadi raja Sriwijaya,   yaitu :
1.      Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya
2.      Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya
3.      Ekachattra, artinya mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya

Berikut daftar silsilah para Raja Kerajaan Sriwijaya :
  1. Dapunta Hyang Sri Yayanaga (Prasasti Kedukan Bukit 683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)
  2. Cri Indrawarman (berita Cina, 724 M)
  3. Rudrawikrama (berita Cina, 728 M)
  4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
  5. Maharaja (berita Arab, 851 M)
  6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)
  7. Cri Udayadityawarman (berita Cina, 960 M)
  8. Cri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)
  9. Cri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)
  10. Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
  11. Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)   

Sosial dan Budaya
Sriwijaya yang merupakan kerajaan besar penganut agama Budha telah berkembang iklim yang kondusif untuk mengembangkan agama Budha. Itsing, seorang pendeta Cina pernah menetap selama 6 tahun untuk memperdalam agama Budha. Salah satu karya yang dihasilkan, yaitu Ta Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan yang selesai ditulis pada tahun 692 M.
Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di daerah Palembang, Jambi, Riau, Malaysia, dan Thailand. Ini disebabkan karena Sriwijaya merupakan kerajaan maritim selalu berpindah-pindah, tidak menetap di satu tempat dalam kurun waktu yang lama.
Prasasti dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu Prasasti Boom Baru (abad ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talangtuo (684 M), Prasasti Telaga Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa.
Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya lainnya yang ditemukan di jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono dan Kolam Telagorajo, Situs Muarojambi.
Di Lampung, prasasti yang ditemukan, yaitu Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung). Di Riau, Candi Muara Takus yang berbentuk stupa Budha.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya
Akibat dari persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan, Raja Rajendra Chola melakukan dua kali penyerangan ke Kerajaan Sriwijaya. Bahkan pada penyerangganya yang kedua, Kerajaan Chola berhasil menawan Raja Cri Sanggrama Wijayatunggawarman serta berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya.
Pada abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran yang luar biasa. Kerajaan besar di sebelah utara, seperti Siam. Kerajaan Siam yang juga memiliki kepentingan dalam perdagangan memperluas wilayah kekuasaannya ke wilayah selatan. Kerajaan Siam berhasil menguasai daerah semanjung Malaka, termasuk Tanah Genting Kra. Akibat dari perluasan Kerajaan Siam tersebut, kegiatan pelayaran perdagangan Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, pada abad ke-13 Kerajaan Sriwijaya di hancurkan oleh Kerajaan Majapahit.

Mei 24, 2011

” BIAYA PENDIDIKAN YANG TINGGI DAN DAMPAKNYA BAGI FISIOLOGIS ANAK ”


Keadaan ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk sejak krisis moneter tahun 1998, disusul kenaikan bahan bakar minyak dan harga beras pada awal tahun 2005 menyebabkan jumlah orang-orang miskin bertambah banyak. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui penduduk miskin pada Maret 2006 mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75 persen dari total jumlah penduduk (Berita Resmi Statistik, 2006). Bertambahnya penduduk miskin secara otomatis berarti semakin manambah banyak keluarga yang sulit untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Bila melihat fakta yang ada di Indonesia, selain merupakan permasalahan ekonomi, kemiskinan juga menjadi akar permasalahan berbagai aspek kehidupan. Kemiskinan mempengaruhi bidang kesehatan masyarakat. Ketidakmampuan finansial menyebabkan masyarakat miskin sering tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, sulit untuk membiayai pengobatan ketika sakit, keterbatasan dana untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang baik dan bahkan menyebabkan kejadian yang cukup ekstrim seperti kelaparan di beberapa daerah di Indonesia yang menyebabkan banyak balita menderita gizi buruk. Prasetyo (2006:10) menulis “setiap hari lahir sekitar 11.000 anak Indonesia, namun 800 di antaranya meninggal sebelum usia lima tahun oleh penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah”.
Kemiskinan membatasi kesempatan anak-anak memperoleh pendidikan seperti yang diungkapkan dalam Kompas (2007:1) “sejumlah warga negara kurang mampu menyatakan pesimis bisa memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak mereka, minimal hingga jenjang SLTA. Umumnya, kendala yang mereka hadapi adalah belitan kemiskinan sehingga prioritas pendidikan tergeser oleh kebutuhan sehari-hari”.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari latar belakang yang telah di jelaskan, maka dapat di rumuskan maslah sebagai berikut ;
a.       Gambaran kemiskinan dan Pendidikan di negri ini ?
b.      Kaitan masalah biaya pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik ?


ARGUMENTASI& ALASAN


Permasalahan pendidikan merupakan suatu kendala yang menghalangi tercapainya tujuan pendidikan, untuk saat ini banyak yang berargument bahwa masalah pendidikan di negri in ilebih di lihat dari 3 halpokok, yakni ; Pemerataan Pendidikan, Mutudan Relevansi Pendidikan, Efisiensi dan Efektifitas Pendidikan. Tetapi untuk saat ini saya lebih menitik berat kanpada bidang perekonomian yang menjadi bagian tolak ukur kehidupan bermasyarakat. Tak bisa kita pungkiri untuk saat ini bahwa biaya pendidikan bukan lagi hal yang murah terutama apa bila kita menyangkut masalah perguruaan tinggisaat ini dengan kebijakan “ BADAN HUKUM PENDIDIKAN-nya " yang mambebankan pendanaannya kepada para-Mahasiswanya. Mungkin bagi masyarakat umum biaya di perguruaan tinggi adalah hal yang mahal itu di anggab wajar, tapi kita menilik di bagian sekolah tingkat dasar baik di tingkat SD, SMP memang gratis. Tapi bagaimana biaya sekolah SMA. Sebagai contoh ada SMA Negeri kabupaten di Jawa Tengah yang pada tahun ini uang pangkal Rp 3juta-Rp 5juta ditambah SPP Rp 250.000,-/bulan atau Rp 1,5juta/semester (6 bulan). Bayangkan petani atau tukang becak bagaimana bisa menyekolahkan anaknya ke SMA tersebut. Mau menjual ternak atau sawah ? Itu tidak mungkin karena barang tersebut adalah sumber penghidupan. Akhirnya biarpun nilai bagus tapi akhirnya harus gigit jari.
Bagaimana nasib anak orang miskin, anak petani, anak nelayan, anak buruh. Bukankah mereka juga berhak mengenyam pendidikan tinggi. Apa mereka hanya berhak sekolah sampai SMP saja? Atau merekahanya berhak kuliah di sekolah-sekolah atau kampus “pinggiran”. Apakah mereka tak panta suntuk sekolah di UI, ITB, UGM? Lantas dimana bagimana amanat pembukaan UUD 1945 tentang mencerdaskan kehidupan bangsa. Atau yang berhak cerdasanya mereka yang kaya saja. Yang miskin biar tetap bodoh dan miskin.

Ini sebuah ironi. Anggaran pendidikan dinaikkan, tetapi biaya untuk mengakses pendidikan semakin mahal. Saya secara pribad imenyedihkan kejadian ini. Tulisan ini diilhami kejadian nyata yang terjadi di negeriini. Semoga dapat menjadi pemikiran bagi pemimpin bangsa yang telah kita pilih. Mendapatkan kesempatan pendidikan adalah hak semua warganegara.
Bukankah negara ini didirikan untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya ?

PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN

a.   Gambaran kemiskinan di Indonesia
Keadaan ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk sejak krisis moneter tahun 1998, disusul kenaikan bahan bakar minyak dan harga beras pada awal tahun 2005 menyebabkan jumlah orang-orang miskin bertambah banyak. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui penduduk miskin pada Maret 2006 mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75 persen dari total jumlah penduduk (Berita Resmi Statistik, 2006). Bertambahnya penduduk miskin secara otomatis berarti semakin manambah banyak keluarga yang sulit untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Bila melihat fakta yang ada di Indonesia, selain merupakan permasalahan ekonomi, kemiskinan juga menjadi akar permasalahan berbagai aspek kehidupan. Kemiskinan mempengaruhi bidang kesehatan masyarakat. Ketidakmampuan finansial menyebabkan masyarakat miskin sering tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, sulit untuk membiayai pengobatan ketika sakit, keterbatasan dana untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang baik dan bahkan menyebabkan kejadian yang cukup ekstrim seperti kelaparan di beberapa daerah di Indonesia yang menyebabkan banyak balita menderita gizi buruk. Prasetyo (2006:10) menulis “setiap hari lahir sekitar 11.000 anak Indonesia, namun 800 di antaranya meninggal sebelum usia lima tahun oleh penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah”.
Kemiskinan membatasi kesempatan anak-anak memperoleh pendidikan seperti yang diungkapkan dalam Kompas (2007:1) “sejumlah warga negara kurang mampu menyatakan pesimis bisa memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak mereka, minimal hingga jenjang SLTA. Umumnya, kendala yang mereka hadapi adalah belitan kemiskinan sehingga prioritas pendidikan tergeser oleh kebutuhan sehari-hari”.
Kemiskinan dapat mempengaruhi stabilitas keamanan dan kenyamanan masyarakat karena kebutuhan yang tidak terpenuhi membuat keresahan masyarakat bertambah sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial. Seperti demonstrasi menuntut kebijakan pemerintah, pelegalan larangan-larangan umum dengan alasan ketidakmampuan ekonomi, tipisnya rasa nasionalisme bangsa oleh karena ketidakpuasan terhadap pemerintah dan sebagainya.
Kemiskinan mempengaruhi tindak kriminalitas. Aristoteles (dalam Haba, 2005) seorang filsuf Yunani kuno mengungkapkan “Kemiskinan adalah orang tua dari revolusi dan kriminalitas”. Banyak tindak kriminalitas diakibatkan oleh kemiskinan, seperti kasus pencurian, penjualan anak bahkan pembunuhan yang disebabkan kerena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam hal ini jelas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyakit bangsa yang sangat menghambat pembangunan dan harus terus diatasi apabila tidak menginginkan bangsa menjadi semakin terpuruk. Data perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak (UNICEF) menyatakan, dua sampai tiga juta anak Indonesia akan disebut sebagai generasi yang hilang akibat kekurangan pangan, penyakitan dan tidak berpendidikan (Prasetyo, 2006:11).
Beberapa ahli juga mengatakan bahwa kemiskinan adalah patologi sosial. Menurut Matza dan Miller (dalam Haba, 2005) tentang kemiskinan “Above all it is social pathology, which is to say that disrepute is the imputation or stigma that goes along with being sub-employed” oleh karena itu pemerintah, segenap elemen masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat perlu mencurahkan perhatian khusus untuk mengentaskan kemiskinan.
Pandangan akan batasan dan faktor-faktor penyebab kemiskinan memang beragam. Scarpitti (1992:209) menulis bahwa masyarakat Amerika memiliki pandangan tentang kemiskinan yang khas dan keras. Pandangan masyarakat ini meyakini bahwa orang miskin menjadi miskin karena kegagalan mereka sendiri. Akibatnya, kemiskinan dilihat sebagai permasalahan individual dengan solusi-solusi individual.
Scarpitti (1992:211-212) juga menguraikan pandangan masyarakat Amerika yang tertuang dalam American dream mengenai pandangan terhadap budaya kemiskinan. Budaya kemiskinan didefinisikan sebagai suatu cara hidup yang dilambangkan dalam masyarakat urban dan perkampungan kumuh. Hal ini terdiri dari banyak jalinan sosial, ekonomi dan faktor-faktor psikologis, termasuk disorganisasi keluarga dan tidak merencanakan masa depan. Pendapat budaya kemiskinan masyarakat Amerika ini mendorong banyak stereotip terkemuka, seperti orang-orang miskin tidak mau bekerja, mereka tidak dapat menunda kepuasan dan mereka malas. Asumsi ini menganggap kemiskinan berasal dari moral yang miskin, bukan karena kurangnya uang mereka. Anggapan dominan tentang kemiskinan ini dihasilkan dari budaya etika kerja Protestan masyarakat Amerika dan American dream yang berpikir bahwa dengan berkerja keras dan keyakinan, seseorang dapat mengusahakan kesuksesan. Menurut keyakinan ini, orang-orang mengendalikan hidup mereka sendiri dan hanya membutuhkan aplikasi diri untuk menghindari menjadi miskin.
Hasbullah (2006:16) juga mengungkapkan bahwa kemiskinan terjadi bukan semata karena pendidikan yang rendah, akses sumberdaya ekonomi terbatas, dan kurang modal melainkan manusia juga hidup dengan tingkat survival yang banyak ditentukan oleh spektrum yang lebih luas yaitu nilai-nilai dan struktur organisasi sosial dimana mereka ada di dalamnya. Seseorang itu menjadi miskin tidak terpisahkan dari sitem sosial yang berlaku yang telah membentuk budaya kemiskinan.
Tetapi tidak semua orang menyetujui pandangan ini. Masih banyak faktor seperti masalah ekonomi, politik, struktur sosial, bencana alam, dan hal-hal lain yang dapat menyebabkan kemiskinan.
Namun salah satu penelitian McClelland (dalam Buck, 1988:383) ternyata mendukung pandangan masyarakat Amerika bahwa kemiskinan berkaitan dengan kualitas psikis individu. McClleland mencoba menunjukkan bahwa ajaran Protestan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kebutuhan berprestasi di antara para pengikutnya. Ia mengemukakan bahwa ideologi Protestan yang cenderung mendorong orang tua untuk menekankan kemandirian dan keunggulan sejak usia awal membuat kebutuhan berprestasi semakin tinggi. Dia juga berpendapat bahwa hal ini dapat digeneralisasikan pada kebudayaan lain dan tingkat ekonomi lainnya.
McClelland melakukan beberapa penelitian dengan tempat dan subyek yang berbeda untuk membuktikan hubungan tingkat pertumbuhan ekonomi dan achievement motivation (motivasi berprestasi) seperti menggunakan nilai-nilai dalam buku cerita anak-anak, analisis literatur Yunani kuno, tingkat konsumsi listrik dan lain-lain. Secara keseluruhan hasil penelitian yang dilakukan McClelland konsisten dengan tesis bahwa nilai-nilai budaya tertentu mendorong kebutuhan berprestasi dan kebutuhan ini merupakan salah satu faktor penting mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Buck,1988:384). Sehingga dari hal ini, dapat disimpulkan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan meningkatkan motivasi berprestasi seseorang untuk keluar dari kemiskinan.
McClelland (1953:79) memberikan pengertian motivasi berprestasi sebagai suatu usaha untuk mencapai kesuksesan, yang bertujuan berhasil dalam persaingan dengan berpedoman pada ukuran keunggulan tertentu. Eccles (2002) menyatakan bahwa motivasi berprestasi memiliki hubungan dengan nilai dan ekspektansi kesuksesan.
Menurut Rokeach (1980:160) nilai merujuk pada kriteria untuk menentukan tingkat kebaikan, keburukan dan keindahan. Nilai (Value) merupakan pikiran-pikiran yang dimuat secara afektif tentang objek, ide-ide, tingkah laku, dan lainnya, yang menentukan tingkah laku, tapi tidak wajib untuk melakukannya. Nilai-nilai kemadirian, keunggulan dan semangat berprestasi, perlu ditanamkan sedini mungkin, sehingga pada saat usia seseorang memasuki usia produktif mereka dapat menghasilkan keluaran yang baik disertai sikap dan ketahanan mental berusaha yang matang.
Eccles (dalam Eccles & Wigfield, 2002, Wigfield, Tonks, & Eccles, 2002) memberikan definisi ekspektansi kesuksesan (expectatancy for success) sebagai keyakinan individu tentang bagaimana mereka dapat melakukan sesuatu di masa depan di mana keyakinan tersebut didasari oleh kemampuannya yang dimiliki. Keyakinan seperti ini sangat penting untuk memotivasi seseorang meraih keberhasilan. Dukungan terhadap pernyataan ini sampai sekarang dapat dilihat dengan banyaknya buku tentang kesuksesan yang mengemukakan bahwa kunci kesuksesan ditentukan oleh keyakinan, harapan, keinginan, motivasi, impian (Elfiki, 2003, Schwartz, 1996).
Seperti telah diungkapkan kemiskinan memang merupakan permasalahan yang pelik. Kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor dan memberi dampak negatif pada banyak sektor, di mana beberapa faktor membentuk siklus bolak-balik yang sukar putus. Hasbullah (2006:17) mengatakan bahwa penaggulangan kemiskinan hanya akan membawa hasil jika dilakukan gerakan bersama oleh setiap komponen pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, LSM dan masyarakat. Dan mengingat bahwa penting bagi masyarakat miskin memiliki komponen psikologis yang kuat seperti motivasi berprestasi yang tinggi, nilai-nilai yang positif dan harapan yang tinggi untuk sukses sebagai kekuatan dorongan untuk keluar dari kemiskinan, maka upaya pembentukan kualitas psikologis demikian penting untuk dilakukan.

b.      Pendidikan di Indonesia
Kualitaspendidikan di Indonesia saatinisangatmemprihatinkan.Inidibuktikanantara lain dengan data UNESCO (2000) tentangperingkatIndeksPengembanganManusia (Human Development Index), yaitukomposisidariperingkatpencapaianpendidikan, kesehatan, danpenghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurutsurvei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasiona ltetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.
Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.
Kualitaspendidikan Indonesia yang rendahitujugaditunjukkan data Balitbang (2003) bahwadari 146.052 SD di Indonesia ternyatahanyadelapansekolahsaja yang mendapatpengakuanduniadalamkategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dandari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antaralain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
  1. Rendahnyasaranafisik,
  2. Rendahnyakualitas guru,
  3. Rendahnyakesejahteraan guru,
  4. Rendahnyaprestasisiswa,
  5. Rendahnyakesempatanpemerataanpendidikan,
  6. Rendahnyarelevansipendidikandengankebutuhan,
  7. Mahalnyabiayapendidikan.
BIAYA PENDIDIKAN DAN DAMPAKNYA BAGI PESERTA DIDIK

Seperti telah diungkapkan kemiskinan memang merupakan permasalahan yang pelik. Kemiskinan disebabkan oleh banyak faktor dan memberi dampak negatif pada banyak sektor, di mana beberapa faktor membentuk siklus bolak-balik yang sukar putus. Hasbullah (2006:17) mengatakan bahwa penaggulangan kemiskinan hanya akan membawa hasil jika dilakukan gerakan bersama oleh setiap komponen pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, LSM dan masyarakat. Dan mengingat bahwa penting bagi masyarakat miskin memiliki komponen psikologis yang kuat seperti motivasi berprestasi yang tinggi, nilai-nilai yang positif dan harapan yang tinggi untuk sukses sebagai kekuatan dorongan untuk keluar dari kemiskinan, maka upaya pembentukan kualitas psikologis demikian penting untuk dilakukan.
Compassion merupakan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau yayasan sosial yang bergerak dalam usaha mengentaskan kemiskinan melalui program Pusat Pengembangan Anak (PPA). Program ini membiayai, membina, memberikan bantuan pendidikan intelektual dan pembinaan psikologis kepada anak-anak (tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar) dan remaja (tingkat sekolah menengah pertama dan mengengah atas) yang orang tuanya masuk dalam kategori miskin. Sasaran program ini adalah untuk mengusahakan pengembangan rohani, pengembangan jasmani, pengembangan kognitif serta pengembangan sosio-emosional anak. Dengan usaha ini diharapkan agar anak-anak dan remaja miskin tersebut dapat memperoleh penghidupan yang lebih baik di masa depan dan dapat ikut membangun bangsa.
Namun berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, pada kenyataannya banyak remaja miskin yang di bina dalam Pusat Pengembangan Anak Yayasan Compassion masih memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Ada kemungkinan keterbatasan ekonomi dianggap sebagai halangan besar bagi masyarakat miskin untuk berambisi merealisasikan dorongan dan kebutuhan untuk maju sehingga ekspektansi remaja ini terhalangi. Karena mereka menderita kemiskinan maka seolah-olah mereka tidak berdaya untuk mencapai cita-cita yang tinggi, sehingga cenderung memilih cara hidup pasrah, mengalir dan hanya menjalani apa yang ada. Bahkan hal ini lebih diperparah dengan adanya strereotipe budaya yang cenderung membatasi. Kuntoro (1995:44) mengungkapkan bahwa “dalam budaya masyarakat miskin seperti di Jawa, motivasi dan kebutuhan untuk maju yang melebihi batas seolah-olah tidak disetujui umum, sebagaimana ungkapan “Cebol Nggayuh Lintang”. Ungkapan ini menunjukkan sesuatu yang tak masuk akal jika orang miskin mempunyai cita-cita tinggi”. Atau mungkin salah satu penyebab kurangnya motivasi berprestasi miskin ini dikarenakan nilai-nilai budaya kemiskinan yang terinternalisasi dari lingkungan.
Menurut Mahmud (1989) masa remaja merupakan masa yang penting bagi perkembangan prestasi karena selama masa remaja inilah remaja membuat keputusan penting sehubungan dengan masa depan pendidikan dan pekerjaan. Prestasi di sekolah dan di dalam pekerjaan sangat terkait. Berprestasi baik di sekolah dan di dalam pekerjaan sangat terkait. Berprestasi baik di sekolah pada umumnya meratakan jalan untuk memperoleh pekerjaan yang baik pula.
Selain mementingkan prestasi, Piaget (dalam Santrock, 1995:10) menambahkan bahwa salah satu ciri pemikiran operasinal formal remaja adalah bahwa pada tahap perkembangannya, remaja memiliki pemikiran idealis. Dalam pemikiran yang idealis ini, remaja mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal mereka dan orang lain dengan menggunakan standar-standar. Sementara pada masa anak-anak lebih berpikir tentang apa yang nyata dan apa yang terbatas, selama masa remaja, pemikiran-pemikiran sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan. Sukanto (1996:10) juga menambahkan salah satu ciri remaja adalah menginginkan sistem nilai dan kaidah yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya tidak selalu sama dengan sistem nilai dan kaidah yang dianut oleh orang dewasa. Bila melihat ciri-ciri remaja ini ada kemungkinan remaja miskin tidak tergantung pada keadaan yang ada di lingkungan karena cenderung menuruti pemikiran dan nilai-nilai pribadi.
Berdasarkan uraian di atas terdapat pemikiran yang bertentangan. Apakah budaya kemiskinan (culture of poverty) yang umumnya ada dalam lingkungan masyarakat miskin dan stereotip orang miskin sulit maju mempengaruhi ekspektansi kesuksesan dan nilai kesuksesan serta motivasi berprestasi remaja miskin atau tidak mempengaruhi ekpektansi kesuksesan, nilai kesuksesan, serta motivasi berprestasi remaja miskin karena dalam tahap perkembangannya remaja cenderung memiliki pemikiran idealis yang sering berupa fantasi yang mengarah ke masa depan dan mengikuti sistem nilai pribadi sesuai keinginannya meskipun bertentangan dengan yang dianut oleh orang dewasa.

KESIMPULAN DAN SARARAN

Karena motivasi berprestasi berhubungan dengan nilai dan ekspektansi terhadap kesuksesan, maka remaja miskin disarankan mulai banyak mengimajinasikan keinginan di masa depan, banyak membaca / memperhatikan pengalaman orang-orang sukses sehingga menemukan inspirasi, mulai menyusun rencana masa depan, memupuk keyakinan diri dengan berfikiran positif, mendiskusikan dengan orang tua atau pihak yang dapat membantu menemukan solusi guna mengatasi kesulitan untuk sukses dan lainnya.
Hubungan keluarga yang positif beserta dorongan orang tua yang simpatik dapat mengatasi pengaruh negatif dari keadaan sosial-ekonomi yang tidak baik, maka adalah penting bagi orang tua remaja miskin untuk menunjukkan sikap yang hangat dan suka memotivasi, menaruh minat pada kemajuan anak-anaknya, dan menunjukkan gairah melihat anak-anaknya berhasil melakukan sesuatu sehingga walaupun kondisi kemiskinan membelenggu namun motivasi berprestasi anak tetap bisa tinggi.
Seperti yang telah diuraikan di atas, beberapa contoh saran penanaman nilai kesuksesan, maupun ekspektansi anak terhadap kesuksesan yang dapat dilakukan orang tua diantaranya adalah agar orang tua sering membicarakan contoh-contoh kesuksesan kepada anak, mendiskusikan harapan-harapan anak di masa depan dan menghin dari diri untuk mematahkan keyakinan diri anak meskipun terkadang terlihat mustahil sebaliknya mendorong semangat anak atau bahkan memberi solusi agar anak berhasil melakukan apa yang dicita-citakannya.
Aspek psikologis negatif seperti culture of poverty atau mental miskin bangsa Indonesia diakui beberapa kalangan terdapat dalam masyarakat Indonesia, untuk itu adalah pentingnya menerapkan pendekatan psikologi untuk mengentaskan kemiskinan sebagai salah satu solusi yang perlu ditangkap oleh pemerintah, sehingga pemerintah / pemerhati masalah lingkungan tidak hanya memikirkan pembangunan apek fisik seperti lapangan pekerjaan, gedung sekolah, area transmigrasi sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan namun juga memikirkan program pengentasan kemiskinan melalui pembinaan psikologis. Salah satu contoh sederhana yang dapat dilakuakan pemerintah adalah dengan menggalakan iklan layanan masyarakat yang memberipesan agar memacu keinginan untuk sukses, menekankan pentingnya keyakinan diri dan lainnya.

MAHATMA GANDHI

Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni

Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan., sebuah pekan kecil di wilayah Gujarat. Keluarganya dari kelas pertengahan dari kasta Vaishya. Bapanya, Karamchand, merupakan seorang Dewan atau Perdana Menteri di pekan tersebut. Manakala ibunya bernama Putlibai, adalah seorang wanita yang lemah lembut dan warak, dan menjadi sumber inspirasi bagi beliau.
Masa anak-anak Mahatma Gandhi
Mohandas Karamchand Gandhi adalah nama yang diberikan ketika seorang bayi laki-laki dilahirkan di Porbander, sebuah kota di pesisir pantai yang sekarang dikenal dengan nama Gujarat, India Barat pada tanggal 2 oktober 1869. Ayahnya bernama Karamchand Gandhi berasal dari komunitas Hindu Modh adalah seorang diwan atau perdana menteri dari kerajaan Porbander. Ibunya bernama Putlibai, berasal dari komunitas Hindu Pranami Vaishnava dan merupakan istri keempat dari Karamchand Gandhi. Sedangkan 3 istri terdahulunya meninggal ketika melahirkan bayi.
Tumbuh dengan ibu yang beriman dan tradisi agama yang kuat, Mahatma Gandhi muda telah menyerap nilai-nilai kehidupan yang kelak menjadi dasar hidupnya, diantaranya rasa belas kasihan terhadap makhluk hidup, vegetarian, puasa untuk pemurnian diri, dan toleransi antar umat beragama.
Di bulan Mei 1883, Mahatma Gandhi (13 tahun) menikah dengan Kasturbai Makhanji (14 tahun) dalam pernikahan yang diatur oleh orang tuanya. Berdasarkan kepercayaan pengantin wanita lebih banyak tinggal di rumah orang tua mempelai wanita dan jauh dari suaminya, Mahatma Gandhi. Pada tahun 1885, Mereka dikaruniai seorang anak namun hanya bertahan beberapa hari. Pada tahun itu juga ayah dari Mahatma Gandhi meninggal dunia.
Masa dewasa Mahatma Gandhi
Mohatma dan Kasturba memiliki 4 anak lagi yaitu Harilal, lahir tahun 1888; Manilal, lahir tahun 1892; Ramdas, lahir tahun 1897; dan Devdas, lahir tahun 1900. Walaupun sudah menikah, Mahatma Gandhi tetap mendapatkan pendidikan SMP dan SMA. Bahkan Beliau melanjutkan kuliah di Universitas Samaldas, Bhavnagar, Gujarat, walaupun dengan beberapa kesulitan. Selama kuliah, Beliau tidak merasa senang karena keluarganya menginginkan Beliau menjadi seorang pengacara.
Tanggal 4 September 1888, saat itu Beliau hampir berumur 19 tahun, Beliau pergi ke London untuk belajar hukum di universitas London dan berlatih untuk menjadi seorang pengacara. Ketika di inggris, Mohatma Gandhi tetap mematuhi janjinya kepada ibunya untuk mempertahankan pantangan Hindu untuk tidak makan daging, alkohol dan persetubuhan yang tidak sah.
Walaupun demikian Mohatma Gandhi tetap belajar kebiasaan di Inggris seperti dansa. Namun tetap saja perutnya tidak bisa memakan daging domba yang disediakan oleh pemilik rumah. Kemudian Beliau ditunjukkan pada beberapa restauran vegetarian di London. Ia bahkan kemudian menemukan komunitas vegetarian dan hal ini memberikan pengalaman berorganisasinya.
Kebanyakan vegetarian yang ia jumpai adalah anggota dari Theosophical Society yang mempelajari literatur Buddha dan Hindu. Mereka menyarankan Gandhi untuk membaca Bhagavad Gita. Namun Gandhi tidak berhenti sampai disana, Beliau membaca tulisan-tulisan tentang Buddha, Hindu, Kristen, Islam dan Kepercayaan lainnya.
Kemudian Mohatma Gandhi balik ke India untuk bekerja. namun ia belum mendapatkan sukses dalam pekerjaan hukum di Bombay. Kemudian setelah menjadi pengajar paruh waktu SMA, beliau kembali ke Rajkot untuk menulis naskah petisi hidup sederhana untuk penggugat. Namun usaha ini ditutup paksa oleh pemerintah inggris karena diangap menentang. Dalam biografinya, Mohatma Gandhi menyebut insiden ini sebagai kegagalan melobi.
Kemudian di tahun 1893, beliau menerima kontrak jangka panjang dengan perusahaan India untuk dipindahkan ke Natal, Afrika Selatan.
Pergerakan sipil di Afrika selatan (1893–1914)
Di afrika selatan, Mahatma Gandhi merasakan diskrimasinasi bagi warga negara India. Beliau pernah dikeluarkan dari kereta karena melawan ketika dipindahkan dari kelas 1 ke kelas 3 walaupun Beliau memiliki tiket resmi kelas 1. Dan banyak lagi kejadian yang Beliau rasakan sangat mendiskriminasi orang-orang India.
Mohatma Gandhi adalah pendiri dari kongres warga india di Natal dan menuntut beberapa hal kepada pemerintah. Walaupun tidak berhasil tetapi gerakan ini mendapat perhatian di Afrika Selatan. Tahun 1906, di Johannesburg Beliau menerapkan pertama kali konsep kepercayaan satyagraha yaitu protes tanpa kekerasan. Walaupun dengan cara ini Beliau bersama ribuan warga India lainnya masuk penjara. Beberapa orang yang berhubungan dengan gerakan ini ditembak atau dibakar identitasnya.
Keliatannya pemerintah Afrika Selatan berhasil menekan pengunjuk rasa. Namun publik ternyata tergerak hatinya untuk meminta pemerintah Afrika Selatan untuk berunding dengan Mohatma Gandhi. Ide perjuangan Gandhi ini telah terbentuk dan konsep satyagraha awal sudah muncul dalam pergerakan ini.
Pergerakan kemerdekaan India
Pergerakan di Afrika Selatan tersebut membuka jalan bagi pergerakan memperjuangkan kemerdekaan India. Beliau bahkan mengambil peran dalam perang Zulu di afrika. Di tahun 1915 Mohatma Gandhi pulang ke India. Beberapa pergerakan dilakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan India. Gandhi menjalankan konsep tanpa kekerasaan dan perdamaian sebagai “senjata” untuk melakukan pergerakan terhadap Inggris.
Tahun 1946, Gandhi menyarankan anggota kongres untuk menolak proposal yang diajukan oleh pemerintah Inggris. Walaupun demikian ini adalah salah satu dari beberapa kali kongres menolak nasihatnya. Walaupun Nehru dan Patel mengetahui jika kongres menolak proposal itu maka kontrol pemerintah akan berpindah ke Liga Muslim. Antara tahun 1946-1948 ini, sekitar 5000 orang terbunuh dalam kekerasan ini.
Gandhi sangat menentang ide untuk membagi India menjadi 2 negara. Pertumbuhan penduduk muslim di India yang hidup berdampingan dengan Hindu dan Sikh menjadi tersekat. Apalagi Muhammad Ali Jinnah, pemimpin liga Muslim, mendukung penyebaran di Punjab Barat, Sindh, Propinsi frontier barat daya, dan Bengal Timur.
Rencana penyekatan disetujui oleh kongres untuk menghindari perang sipil di India. Walaupun demikian kongres tetap berusaha untuk meminta dukungan dari Mahatma Gandhi yang pasti menolaknya. Dengan bantuan kolega terdekat Gandhi, Beliau akhirnya luluh dan menyetujui petisi tersebut.
Mohatma gandhi sering memimpin pertemuan antara pemimpin Muslim dan Hindu. Namun dalam perang India-Pakistan tahun 1947, Gandhi mempermasalahkan pemerintah yang menolak membayar 250juta rupee kepada Pakistan. Pemimpin seperti Sardar Patel takut Pakistan menggunakan uang untuk membiayai perang melawan India.
Perasaan Gandhi hancur ketika ada permintaan untuk mengirim balik warga Muslim ke Pakistan. Saat itu pemimpin Hindu dan Muslim frustasi karena tidak mencapai kesepakatan. Gandhi kemudian mengeluarkan pernyataan di Delhi untuk menghentikan seluruh kekerasan dan membayar 25juta rupee kepada pakistan. Gandhi takut ketidakstabilan dan ketidakamanan di Pakistan dapat meningkatkan kemarahaan untuk melawan India dan kekerasaan akan menyebar di seluruh perbatasan. Beliau juga menyadari akan kemungkinan Muslim dan Hindu untuk melakukan perang sipil di India.
Setelah melalui perdebatan yang panjang dan emosional, Gandhi menolak untuk memindahkan warga ke Pakistan dan akhirnya pemerintah membayar ke Pakistan. Pemimpin komunitas Hindu, Muslim, Sikh dan beberapa aliran kepercayaan lainnya menjamin bahwa mereka akan meninggalkan kekerasaan dan menjalankan perdamaian.
Pembunuhan Mahatma gandhi
Tanggal 30 January 1948, Mahatma Gandhi tertembak dan meninggal dunia dalam perjalanan publik malam di New Delhi. Pembunuhnya adalah Nathuram Godse, seorang penganut Hindu Radikal yang kesal karena menganggap Gandhi sebagai penyebab India membayar ke Pakistan. Memorial Gandhi di New Delhi berisi prasasti bertuliskan “He Ram” atau bisa diartikan “Oh God”. Banyak yang percaya bahwa itu adalah kata terakhir yang diucapkan oleh Mahatma gandhi ketika tertembak.
Penutup
Perjalanan hidup seorang manusia agung bernama Mahatma Gandhi ini diharapkan menginspirasi kehidupan seluruh manusia di bumi ini. Bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan tanpa kekerasaan, dengan mengutamakan perdamaian dan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.
Kita hidup dalam bumi yang sama tentunya harus bisa saling menghargai dan tolong menolong. Jika tidak maka kehidupan ini akan dipenuhi dengan kekacauan karena kita saling menyalahkan orang lain. Tentunya bumi ini akan lebih baik jika kita bisa duduk bersama untuk memecahkan sebuah masalah. Tanpa menggunakan kekerasaan, niscaya semua masalah bisa terpecahkan bersama.

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14