Juli 22, 2020

Pengertian Sejarah : Definisi Etimologi & Menurut Para Ahli

Silsila Raja-raja Singasari dan Majapahit

DEFINISI SEJARAH

PENGERTIAN SEJARAH SECARA ETIMOLOGI (ILMU BAHASA)

Sejarah secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu Shajarah – Syajaratun yang artinya pohon. Akan tetapi secara garis besar, di Indonesia sejarah yang berarti asal-usul, silsilah, riwayat, dan apabila dibuat skema akan menyerupai pohon dengan ranting, cabang, serta daun. Dengan penjelasan di atas bahwa pengertian sejarah bermakna sebagai pertumbuhan ataupun perkembangan dari pohon, dimana sejarah adalah sebagai akarnya.

Sejarah dalam bahasa Inggris disebut history, kata ini berasal dari bahasa Yunani, Istoria yang berarti Informasi/cerita/pencarian. atau yang lebih mengarah pada segala cerita yang berkaiatan dengan aktifitas manusia.

Dalam bahasa Belanda , Sejarah disebut geschiedenis yang mempunyai arti segala sesuatu yang telah terjadi.

PENGERTIAN SEJARAH MENURUT PARA AHLI

Sejarah sangat berperan aktif dalam kehidupan manusia yang pernah terjadi di masa lampau, agar generasi setiap manusia tidak kehilangan referensinya untuk hidup dimasa depan. Apabila ditelaah secara umum manfaat sejarah itu untuk mengetahui hal-hal dimasa lalu yang bersifat menunjang berbagai pengetahuan. Berikut beberapa pengertian sejarah menurut para ahli ataupun sejarawan dimasa lalu:

1. Herodotus
Herodotus yang dikenal sebagai bapak sejarah. Mengemukakan bahwa sejarah adalah suatu kajian yang menjabarkan suatu perputaran antara kaitan tokoh, waktu, perilaku yang dapat memunculkan peradaban.
Hal ini bermaksud menjadikan sejarah sebagai bahan mentah yang dikelola dan diteliti kaitannya antar tokoh masyarakat dalam sebuah peradaban di masa lampau.

2. Sartono Kartididjo
Pengertian Sejarah menurut Sartono Kartididjo merupakan sebuah deskripsi penggambaran pengalaman secara gabungan terhadap peristiwa yang terjadi di masa lalu. Serta menceritakan berbagai kejadian yang membuat hadir kembali peristiwa di masa lalu ke masa sekarang. Namun bentuk pengungkapannya melalui aktualisasi dan proses pengalaman dimasa lalu, yang menjadi bahan ajar terhadap kehidupan dimasa sekarang.

3.  Ibnu Khaldun
Pengertian sejarah menurut Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa sebagai catatan masyarakat terdahulu tentang masyarakat umum manusia ataupun peradaban manusia yang terjadi dari watak ataupun sifat masyarakat tersebut. Hal ini menjadikan sejarah sebagai catatan dari sifat ataupun watak dari masyarakat serta peradaban di masa lalu.

4.  Ariestoteles
Pengertian sejarah menurut Ariestoteles yang mengemukakan bahwa sejarah adalah suatu sistem yang mengelola kedalam penelitian suatu yang pernah terjadi, yang disusun dengan secara teratur, tersusun serta berbentuk kronologi.
Kemudian ariestoteles juga mengatakan bahwa sejarah adalah kejadian ataupun peristiwa yang menjadi cacatan, record , sebagai bukti yang nyata yang akurat. Hal ini akan sangat berpengaruh dengan pengertian sejarah yang dapat menunjang pengetahuan dari segala aspeknya.

5.  Muhammad Yamin
Sejarah merupakan berbagai ilmu pengetahuan yang disusun atas dasar penyelidikan dari beberapa peristiwa, yang dapat diteliti kebenarannya serta dapat dibuktikan sebagai bahan kenyataan yang benar-benar terjadi.
Hal ini menjelaskan bahwa sejarah adalah sebuah pondasi dari ilmu pengetahuan yang didapatkan dari berbagai penyelidikan beberapa peristiwa lampau yang dapat dicari kebenarannya.

6. Taufik Abdullah
Taufik Abdullah berpendapat bahwa pengertian sejarah adalah tindakan manusia yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu pada masa lalu di tempat tertentu

7. Moh Ali

Berbeda dengan pendapat Moh Ali tentang penjabaran pengertian sejarah. Moh Ali mengatakan bahwa sejarah merupakan keseluruhan dari perubahan dan unsur kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi. Nah dengan maksud tujuan bahwa sejarah adalah ilmu perubahan-perubahan yang menyelidiki suatu kejadian ataupun peristiwa yang pernah terjadi dimasa lampau.

PENGERTIAN SEJARAH SECARA UMUM

Dari berbagai pengertian sejarah yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sejarah merupakan kejadian atau peristiwa di masa lampau yang memiliki bukti nyata dan dibuktikan dengan berbagai macam penelitian. Sejarah menjadi sesuatu yang bermakna, di mana pengetahuan tentang suatu peristiwa akan lahir darinya, tentang berbagai jenis makhluk hidup yang ada di masa lampau.


Sumber:
Hapsari, Ratna dan M Aidl : Sejarah Indonesia Kelas X SMA, Penerbit Erlangga 2016
https://www.mypurohith.com/pengertian-sejarah/



Maret 18, 2020

Apa itu Google Classroom ? ayo belajar via Google Classroom.

Google Classroom media alternatif disaat situasi seperti ini, ya, kita tahu sekarang memang status kita belum Lock Down namun di beberapa daerah telah meliburkan proses belajar mengajar dan dialihkan ke pembelajaran mandiri di rumah dan guru tetap memberikan pembelajaran jarak jauh baik online maupun penugasan offline, dan Google Classroom ini sebagai salah satu media alternatif dalam proses pembelajaran disituasi seperti ini akibat merebaknya VIRUS COVID-19 atau lebih dikenal dengan wabah CORONA yang menggemparkan dunia.
Apa Itu Google Classroom ?
Google Classroom adalah sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Google untuk layanan pembelajaran (sekolah). Tambahan dari WikiPedia, Google Classroom ini dirancang untuk menyederhanakan pembuatan, pendistribusian, dan penetapan tugas dengan cara tanpa kertas.
Setiap dan guru dapat mendaftar akun disini, hanya bermodal akun Google (GMail) saja. Belum punya akun Google ? Klik disini untuk melihat cara membuatnya.
Google Classroom sangat membantu. Hanya bermodalkan sedikit internet, anda dapat membaca tugas, mengerjakan tugas, mengirim tugas, bahkan melihat nilai dari guru/dosen langsung di satu tempat tanpa khawatir kehilangan tugas ditengah jalan.

Cara Membuat Google Classroom

Membuat akun Google Classroom baik sebagai pengajar ataupun murid sangatlah mudah, cukup kaitkan akun Google (GMail) kamu dengan Google Classroom. Belum punya akun (GMail) Google ? Klik disini !
  • Silahkan buka browser dan kunjungi https://classroom.google.com untuk melihat halaman Google Classroom, pastikan kamu sedang login GMail di perangkat tersebut supaya lebih mudah
  • Kamu akan melihat halaman utama Google Classroom, terutama jika belum login GMail. Silahkan klik tombol SIGN IN di bagian tengah halaman tersebut maka akan membuka halaman login GMail, silahkan login akun GMail yang ingin digunakan
  • Karena belum pernah membuat akun Google Classroom, akan ada pertanyaan apakah akun tersebut ingin dikaitkan dengan Google Classroom, klik tombol Continue untuk menyetujui dan melanjutkan
Selesai, kamu sudah berhasil memiliki akun Google Classroom. Selanjutnya, silahkan ikuti kelas kamu atau mulai membuat kelas.
Lebih senang pakai smartphone ? Download aja aplikasinya, cara membuat akunnya tentu lebih mudah tapi harus pastikan kamu memiliki akun GMail yang mana GMail ini nantinya dihubungkan ke Google Classroom.

Panduan Google Classroom : PDF FILE
Panduan Google Classroom : YouTube




Membuat Kelas & Mengundang

Masuk ke halaman Google Classroom disini, pastikan sudah login. Selanjutnya:
  • Klik tanda taambah (+) di menu atas dan pilih Buat Kelas
  • Akan muncul layar munculan yang menanyakan persetujuan pemakaian, pastikan kamu sudah membaca ketentuan yang ada. Centang kotak dan klik tombol Lanjutkan
  • Setelah klik Lanjutkan, akan ke tahap berikutnya yaitu mengisi formulir awal pembukaan kelas ini
  • Silahkan isi Nama Kelas
  • Isi juga Bagian
  • Isi juga Subjek
  • Klik tombol Buat
  • Tunggu beberapa saat, Google Classroom sedang menyiapkan kelas…
Undang
Silahkan beralih ke tab Siswa pada kelas yang ingin ditambahkan siswa, di halaman itu akan menampilkan semua siswa yang sudah bergabung. Untuk menambah siswa, klik tombol Undang siswa di bagian atas. Masukkan nama kontak Google kamu jika ada, atau masukkan langsung alamat email lalu klik tombol Undang.
Dengan begitu, orang yang diundang akan menerima email dan diarahkan ke kelas ini.

Kode Kelas
Untuk cara ini akan dijelaskan lebih rinci dibawah, Kode Kelas tampil di halaman tab Siswa pada setiap kelas. Kamu bisa bagikan Kode Kelas ke siapapun, jadi orang yang mau bergabung cukup cari kelas dan masukkan Kode Kelas ketika diminta. Jika Kode Kelas benar, maka berhasil masuk tapi sebaliknya jika salah tidak dapat masuk kelas.

Bergabung Dengan Kelas

Ini sudah dijelaskan sedikit diatas, ya, cara ini menggunakan Kode Kelas. Silahkan masuk ke situs Google Classroom dan pastikan sudah login. Untuk mulai bergabung kelas, silahkan klik tanda tambah (+) dan pilih Gabung dengan kelas.
Akan muncul layar popup yang berisi bidang, bidang itu hanya dapat diisi dengan Kode Kelas yang benar. Jika ada Kode Kelas yang kamu masukkan terdaftar di Google Classroom, maka kamu berhasil masuk bergabung ke kelas tersebut tapi sebaliknya jika salah, maka kamu tidak bisa bergabung.
Bagaimana cara mendapatkan Kode Kelas ? Silahkan minta kepada pemilik kelas, dia mempunya akses untuk melihat, membuat, dan mengganti Kode Kelas kapanpun.



Sumber :

https://www.posciety.com/cara-membuat-google-classroom/



Maret 05, 2016

Gerhana Matahari dalam Sejarah Indonesia dan Mitos Gerhana di berbagai daerah


Gerhana matahari terjadi jika posisi bulan terletak antara bumi dan matahari,  Akibatnya bulan membentuk bayangan di bumi, sehingga orang yang tinggal di belahan bumi tersebut tidak dapat melihat matahari. Dalam kajian Astronomi hal tersebuat biasa terjadi dimana garis edar antara Bumi-Bulan-Matahari berada sejajar di satu garis sehingga menghasilkan fenomena alam tersebut.
Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang mempercayai bahwa terjadinya Gerhana adalah suatu pertanda buruk. Masyarakat Jawa dan Bali, percaya gerhana merupakan ulah Batara Kala (Batara Kala Rau), dimana sang Batara Kala yang hanya tinggal kepalnya saja menelan Dewi Ratih, hal tersebut menjadi kepercayaan turun-temurun dan menjadi cerita favorit kala gerhana.
” Dongeng Batara Kala dan asal muasal gerhana ; saat para Dewa diundang oleh Batara Guru untuk meminum Tirta Amartasari (Air Abadi), sang Bata Kala raksasa jahat suka membunuh manusia, diam-diam menyelinap untuk mencuri Tirta Amartasari, namun Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) mengetahui dan melaporkan ke Batara Guru,  Dan Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam/Pelindung) turun untuk merebut kembali Tirta Amartasari, ketika Batara Kala meminum Tirta Amartasari  dan baru sampai kekerongkongannya, Batara Wisnu keburu menebas batang leher Batara Kala dengan Chakra Batara Wisnu. Tubuh Batara Kala melayang jauh ke bumi menjalma menjadi lesung kayu, sementara kepalanya melayang di angkasa, tetap hidup abadi berkat Tirta Amartasari. Batara Kala dendam terhadap Batara Surya dan Batara Candra dan terus mengejar untuk memakan mereka, Batara Wisnu memerintahkan penduduk bumi agar memukul lesung kayu untuk membuat banyak suara saat terjadi gerhana, yang berarti sebagai pertanda munculnya Batara Kala dan agar Batara Surya dan Batara Candra dapat melarikan diri dari Batara Kala.”
Halmahera punya mitos serupa sebagaian masyarakat sana percaya gerhana terjadi akibat Suanggi atau Setan melahap matahari. Begitu juga masayarakat Palembang yang mempercayai ada Naga yang memakan matahari. Uniknya, masyarakat yang percaya mitos-mitos tersebut membuar reaksi yang sama ketika gerhana terjadi. Mereka baik di Jawa, Bali, Helmahera, maupun Palembang membuat bunyi-bunyian untuk mengusir roh jahat.
Batara Kala yang sedang melahap sang Surya
Diera Moderen saat ini fenomena gerhana mempunyai mitos lain, meraka percaya bahwa melihat gerhana matahari dapat menimbulkan kebutaan. Hal tersebut dapat di benarkan. Karena melihat cahaya matahari langsung sangat berbahaya karna intensitas cahaya dari pancaran matahari yang begitu besar dapat membahayakan mata terutama kornea mata yang terpapar sinar sebelum atau sesudah gerhana terjadi. Dalam kondisini gerhana matahari total kita memang biasa melihat dengan mata telanjang karena posisi matahari tertutup bulan dan menyisakan korona matahari namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Sehingga dibutuhkan alat bantu penglihatan semisal Teleskop ataupun kaca mata khusus yang dilengkapi filter khusus untuk melindungi mata dari paparan sinar matahari langsung.
Bagi Ummat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Karena gerhana mempunyai kekhususan bagi ummat Islam, maka saat gerhana terjadi dianjurkan menjalankan Shalat gerhana. Selain itu gerhana adalah momen yang tepat bagi para ahli hisab untuk mencocokan perhitungan waktu dalam kalender islam, karna proses gerhana merupakan ijtimak teramati (observable new moon), dalam keadaan biasa itjimak (segarisnya bulan dan matahari) tidak teramati. Salah satu tanda itjimak tidak teramati adalah munculnya hilal (bulan sabit pertama) pada saat magrib sebagai tanda awal bulan dalam kalender hijriah.

Gerhana Matahari 1983
11 Juni 1983 menjadi hari terburuk dalam catatan sejarah astronomi Indonesia, pada saat itu gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa. Para astronom maupun peminat astronomi berbondong-bondong datang ke Indonesia, untuk menyaksikan peristiwa langkah yang mungkin hanya sekali seumur hidup mereka alami. Sebaliknya, kita di Indonesia justru diam ketakutan dan mengurung diri kedalam rumah. Propaganda yang dilakukan  pemerintah saat itu seperti mematikan akal sehat masyarakat saat itu dengan juga kepercayaan sebagian masyarakat tentang bahaya gerhana bagi anak-anak maupun ibu hamil, membuat gerhana matahari total saat itu seperti suatu yang mengerikan.
  Entalah apa yang di pikirkan Pemerintah pada saat itu, minimnya informasi mengenai gerhana atau malah Pemerintah tidak mau ambil pusing mengenai gerhana. Namun dari kaca mata lain ini sebagai bergening untuk melihat posisi pemerintah saat itu sebagai uji kekuatan kekuasaan rezim Soeharto yang menujukan bagai mana superpowernya sang Presiden di mata rakyat. Pada gerhana matahari 1983 melalui Kementerian Penerangan dibawah komando Harmoko mewakili Presiden memerintahakan untuk masyarakat tetap di dalam rumah selama gerhana berlangsung dan tanpa perdebatan hal tersebut harus dijalankan oleh rakyat (rezim saat itu bersifat totaliter sihingga tidak ada yang berani mempertanyakan atau mengeluarkan pendapat mengapa Presiden bisa mengambil keputusan tersebut).
Presiden Soeharto dan Kebijakan terhadap
fenomena Gerhana Matahari di Indonesia
Pada Hari terjadi gerhana matahari total tersebut, kota-kota dan desa-desa di Indonesia menjadi sunyi senyap. Semua penduduk mengurung dirinya di rumah. Hingga salah satu majalah sain terkemuka memberitakan; “Sebuah ironi dan sungguh merupakan hal yang menyedihkan  ketika kalangan Internasional datang ke Indonesia untuk menyaksiakan proses gerhana terjadi, mala pemerintah Indonesia menyuruh rakyatnya untuk menjauh dan bersembunyi di kolong tempat tidur...” suatu yang terjadi hanya 300 tahun sekali di tempat yang sama.

Tanggal Lain Gerhana Matahari Total di Indonesia
Ramalan soal Kapan Terjadinya Gerhana matahari pertama kali tercatat pada era Babilonia. Mereka mengamati pergerakan bintang, bulan dan matahari untuk menemukan keberaturan fenomena alam gerhana matahari. Astronom asal Austria, Thomas Oppolzer, melanjutkan dengan membuat katalog gerhana matahari dan gerhana bulan sejak 1207 SM hingga 2162. Saat ini temuan temuan untuk meramal gerhana matahari dan bulan dapat ditemukan pada website NASA dan timeanddate. Berdasarkan data dari kedua sumber tersebut dapat dirangkum beberapa Gerhana Matahari Total pernah dan akan terjadi di Indonesia ;
Jalur Gerhana Matahari total
9 Maret 2016

18 MEI 1901
Lokasi ; Padang, Jambi, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Palu dan Ambon

14 JANUARI 1926
Lokasi ; Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dan Pontianak
9 MEI 1929
Lokasi ; Aceh dan Sumatera Utara

13 FEBRUARI 1934
Lokasi ; Manado dan Maluku Utara

4 FEBRUARI 1962
Lokasi ; Papua dan Palu

11 JUNI 1983
Lokasi ; Jawa , Makassar, Kendari, dan Papua

22 NOVEMBER 1984
Lokasi ; Papua

18 MARET 1988
Lokasi ; Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, dan Bangka Belitung

24 OKTOBER 1995
Lokasi ; Sangihe

9 MARET 2016
Lokasi ; Palembang, Palangkaraya, Balik Papan, Palu, dan Ternate

20 APRIL 2023
Lokasi ; Makassar dan Papua

19 APRIL 2042
Lokasi ; Jambi

24 NOVEMBER 2049
Lokasi ; Jakarta 

Maret 03, 2016

Tan Malaka ; Partai Murba dan Perjuangan Gerpolek


Tan Malaka dan Partai MURBA
Pembubaran Persatuan Perjuangan dan ditahannya pimpina-pimpinan oposisi dan tuduahan kudeta dalam peristiwa 3 Juli, tidak serta merta menghilangkan kekuatan oposisi. Kepemimpinan ideologis untuk sementara di mandatkan kepada Rustam Effendi, anggota PKI dari Belanda sekembalinya pada Januari 1947 ke Indonesia yang berbalik mendukung Tan Malaka. Bersama Dr. Muwardi membentuk Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) pada 6 Juni 1947 (Reid, 1996:227). Pembentukan GRR merupakan langkah awal menujuh terciptanya suatu partai kemurbaan.
Walau dalam Tahanan Tan Malaka tetap melakukan hubungan-hubungan dengan kelompok oposisi yang masih aktif seperti Partai Rakyat, Partai Rakyat Jelata, Partai Buruh Merdeka, Angkatan Komunis Muda, Barisan Banteng dan Laskar Rakyat Jawa Barat yang semuanya kemudian tergabung dalam GRR. Partai Rakyat adalah tulang punggung GRR sejak berdiri pada 25 Mei 1946, partai ini fokus meneruskan perjuangan Indonesia sebagaimana dilakukan orang-orang gerakan PKI 1920-1926 dan PARI (Tamim, 1957:97-98).
Pada 31 Juli 1948 Tan Malaka mengirimkan surat kepada Partai Rakyat yang berisikan anjuran dan arahan mengenai perjuangan murba dan organisasi murba. Banyaknya organisasi yang mengatasnamakan perjuangan murba hal tersebut di lakukan untuk menghindari perpecahan di dalamnya. Oleh karna itu harus dibuat demarkasi yang jelas mengenai tugas dan kewajiban masing-masing yang kemudian berfusi menjadi satu partai murba (Malaka 1987:18-20).
Namun kiprah GRR tidak mampu menandingi Front Demokrasi Rakyat (FDR) PKI yang dibentuk pada 26 Februari 1947, selain itu juga geliat PNI dan Masyumi yang merupakan kekutan politik besar pada saat itu (Reid, 1996:225). Terlebih lagi kedatangan Musso dengan jalan baru. Musso ingin mengembalikan kembali PKI yang sudah dianggap melenceng dari garis kerasnya dan mengembalikan PKI sebagai pelopor kelas buruh dalam gerakan revolusioner Indonesia.
Musso menginginkan PKI kembali memperjuangakan kemerdekaan seratus persen bagi Indonesia, supaya tidak diperjuangakan oleh kelompok Trotskis yakni kubu Tan Malaka, sehingga PKI juga melakukan fusi antara Partai Buruh Indonesia, dan Partai Sosialis, dibawah panji PKI. Bersama FDR baru dan lebih kuat, menciptakan konflik dengan pemerintah dan sikap GRR adalah mendukung pemerintah jika FDR menyerang pemerintah.
Sikap yang diambil GRR semakin mempertajam konflik yang terjadi antara PKI dan Tan Malaka yang sudah berlangsung sejak pemberontakan PKI 1926. Puncak ketegangan FDR dan pemerintah adalah Peristiwa Madiun 1948. Berhasil dilumpuhkannya FDR oleh pemerintah menjadi titik balik bagi GRR untuk melakukan ekspansi pengaruh.
Pada 7 November 1948 akhirnya peleburan semua organisasi dalam GRR menjadi Partai Murba bertepatan dengan peringatan revolusi Rusia. Dengan Sukarni diangkat sebagai Ketua, Maruto Nitimiharjo sebagai Wakil Ketua Sutan Dewanis sebagai Wakil Ketua II, Syamsul Harya Udaya sebagai Sekertaris Jenderal dan Pandu Kartawiguna sebagai Sekertaris dan berhasil menghimpun anggota mencapai 80.000 orang (Kahin, 1995:379). Terbentuknya Partai Murba menjadi penyeimbang setelah bubarnya FDR. Masyumi mewakili kelompok Islam, PNI mewakili kelompok nasionalis dan Partai Murba mewakili sosialisme kiri dan komunis.
Adapun nama Murba tersebut dalam tafsiran resmi Partai Murba yang dicetak dalam surat kabar Murba pada 20 Oktober 1948, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah murba adalah golongan rakyat terbanyak atau terbesar diantara golongan dalam masyarakt Indonesia dan tidak mempunyai apa-apa kecuali otak dan tenaga sendiri. Atau istilah murba lebih kurang sama dengan istilah proletar (Rambe, 2003:179).
Dalam anggaran dasar Partai Murba bertujuan untuk mempertahankan dan memperkokoh tegaknya kemerdekaan 100 persen bagi republik dan rakyat, sesuai dengan dasar dan tujuan proklamasi 17 Agustus 1945, menujuh masyarakat adil dan makmur menurut keperibadian bangsa Indonesia, ialah masyarakat Sosialis. Program yang digagas oleh Partai Murba tidak berbeda jauh dengan Minimum Program. Tidak diherankan bahwa Partai Murba dapat dianggap sebagai organisasi lanjutan Tan Malaka untuk mencapai Revolusi Indoensia yang dicita-citakan (Andiriadi, 2011:168-169).
Lahirnya Partai Murba tidak lepas dari dorongan-dorongan yang dilakukan oleh Tan Malaka, terutama pada landasan pemikirannya. Seperti yang disampaikan Tan Malaka (1987:56-57) mengenai tujuan Partai Murba, adalah menggalang rakyat murba, dengan tujuan menciptakan kader yang tidak terpisah dari murba, sehingga dapat memperjuangakan kehendak kaum murba.
Peranan Tan Malaka dalam Partai Murba seperti pada PP menjadi mastermind perbedaan hanya Tan Malaka tidak pernah mengambil satu jabatan formal dalam Partai Murba. Tan Malaka mendorong untuk membentuk suatu partai kemurbaan, seperti dorongan terhadapa partai rakyat menjembati GRR sebagi cikal bakal partai murba yang merupakan fusi dari beberapa partai. Keberadaan Tan Malaka juga dianggap sebagai bapak Ideologis dalam Partai Murba, walau Tan Malaka tidak sempat membesarkan Partai Murba karena setelah 3 bulan partai didirikan Tan Malaka ditembak mati di Kediri, Jawa Timur.

Perjuangan Gerilya Politik Ekonomi Tan Malaka

Tan Malaka bukanlah seoarang ahli militer, keterlibatan Tan Malaka pada dunia kemiliteran ketika ia berada di Belanda. Tan Malaka tertarik untuk menjadi perwira namun hal tersebut tidak memungkinkan dan beralih kearah litelatur kemiliteran. Litelatur kemiliteran Tan Malaka itu dinamakan Gerpolek kependekan dari kata Gerilya Politik  dan Ekonomi. Dalam gerpolek tidak hendak membahas masalah latihan dan teknik kemiliteran. Tapi berisikan pengetahuan tantang politik dan ekonomi militer untuk gerilya, sebagai pemimpin atau anggota kelaskaran (Poeze: 2014:29).  
Gerpolek adalah buku karangan Tan Malaka dalam masa penahannya di penjara Madiun. Buku yang selesai ditulis pada 17 Mei 1948 buku ini berisikan tentang konsep perang total dan perang griliya dalam mempertahankan Proklamasi 1945 pasca Renville. Bagi Tan Malaka Renville adalah buktinyata kejatuhan politik diplomasi (Reid, 1996:270).
Tujaun Gerpolek jelas didektis, Bagi Tan Malaka Gerpolek adalah jawaban dari masalah yang dihadapi bangsa Indonesia pada saat itu, seperti kiasan Tan Malaka mengenai Gerpolek “seperti sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinaskan Dasamuka (Rahwana), demikian pula sang gerilya percaya, bahwa Gerpolek akan sanggup memperoleh kemengan atas kapitalisme-imprialisme” (Malaka, 2000:18-20). Rujukan yang diambil Tan Malaka dari cerita pewayangan.
            Menurut Tan Malaka, hal pokok dalam perang adalah pertahanan dan penyerangan. Pertahanan adalah mengenai bagaimana melindungi diri. Penyerangan adalah bagaimana mengenai musuh secara total sehingga musuh dapat menyerah. Perbedaan sifat tersebut memunculkan perbedaan syarat bagi keduanya, pertahanan memerlukan tempat bersembunyi sebagai tempat perlindungan diri dari musuh. Sedangakan penyerangan butuh senjata yang dahsyat untuk menggempu dan membinasakan musuh dari jarak jauh maupun dekat.
Akan tetapi, pertahanan bukan berarti menunggu musuh dan hanya menyerah jika musuh menyerang.pertahanan yang baik adalah dilakukan dengan menyerang, dalam arti pertahanan itu tidak pasif menunggu, melainkan menunggu sambil mengadakan serangan-serangan kecil atau serangan besar sesekali. Penyerangan bukan juga berarti terus menerus menggempur musuh tanpa henti. Jadi dalam sifat betahan banyak mengandung corak penyerangan, sebaliknya pertahanan mengandung corak pertahanan.
Dalam situasi mengatur siasat perang terdapat empat unsur penting yaitu, Keadaan bumi, keadaan senjata, keadaan orang dan tempo (waktu) (Malaka. 2008:35). Perubahan keempat unsur tersebut sangat mempengarui karakteristik siasat perang yang akan digunakan, baik dalam pertahanan maupun penyerangan. Jadi tugas seorang ahli siasat perang adalah mempertimbangkan, menghubungkan dan mengendalikan keempat unsur tersebut satu sama lain.
Menurut Tan Malaka hukum menyerang yang paling efektif adalah gerakan yang terpusat, cepat dan sekonyong-konyong memecah gelang rantai pertahanan musuh yang lemah dengan maksud memecah belah hubungan organisatorisnya dan akhirnya menghancurkan musuh itu (Malaka, 2008:55). Dalam artian gerakan yang tersusun rapi dan serangat cepat tanpa terduga oleh musuh sama sekali, sehingga mereka tertekan dan tidak mampu membalikan serangan bahkan memutuskan koneksi terhadap pendukungnya untuk menghancurkan musuh atau menarik mundur musuh.

Untuk konteks Indonesia, Tan Malaka mengatakan bahwa siasat perang yang cocok untuk perang di Indonesia melihat dari unsur-unsur perang di Indonesia adalah perang gerilya. Gerilya adalah siasat maju untuk menghancurkan musuh, dan mundur supaya tidak dihancurkan musuh. Hal tersebut adalah dasar semua peperangan. Namun perang gerilya yang hanya terdiri dari sedikit prajurit dan persenjataan yang sederhana menekankan terhadap tingkat keefektifitas dan efisiensi dari siasat maju dan mundur itu sekaligus (Malaka, 2000: 86-87).
Gerilya adalah senjata tajam bagi rakyat miskin tertindas, bersenjata serba sederhana untuk menghalau musuh yang bersenjata modern, sabagai contoh Napoleon di Spanyol, Inggris di perang Boer, Jerman di Rusia dalam Perang Dunia II, mengalami kehancuran menghadapi perlawanan gerilya. Gerilya sebenernya buka startegi asing bagi bangsa Indonesia pada saat Belanda masih berkuasa di Indonesia mengalawai kesulitan melawan perlawanan gerilaya masyarakat Aceh.
Laskar gerilya merupakan bagian dari tentara rakyat. Tentara rakyat adalah tentara yang terdiri dari rakyat yang berjuang untuk kepentingan dan cita-cita rakyat. Dalam masa revolusi tentara rakyat berkewajiban melakukan revolusi. Tentara rakyat dalam konsep Tan Malaka adalah tertara yang berpolitik dan revolusioner, yang dipersiapkan oleh pemerintah rakyat. Sedangkan laskar gerilya bertugas membantu tentara rakyat dalam mengacaukan pos pertahanan musuh, konvoi, perlengkapan dan persiapan musuh dengan siasat geriliya. Laskar geriliya didirikan atas dasar inisiatif rakyat murba dengan tidak memandang kelas di dalamnya, serta dibiayai oleh rakyat. Ketika tentara rakyat tidak ada, maka laskar gerilya dapat mengambil alih pimpinan pertempuran (Malaka, 2000: 138-140).
Dalam revolusi Indonesia Tan Malaka membagi situasi sosial-politik Indonesa dalam dua musim yakni, musim jaya berjuang dan musim runtuh berunding, Musim jaya berjuang digambarkan ketika perpecahan di antara partai-partai dan disatukan dalam gerakan Persatuan Perjuangan yang disatukan dengan tujuan bersama. Musim runtuh berunding adalah masa perpecahan yang timbul baik Persatuan Perjuangan yang diganti dengan Konsentrasi Nasional maupun juga pro kontra yang timbul dalam pemerintahan yang mendukung dan menolak hasil perundingan Indonesia-Belanda yang mendukung konsesnsi bagi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.     
Setelah dibebasakan pada 16 September 1948, didesak Mayor Sabarudin yang merupakan pengikut setia Tan Malaka dan pimpinan pasukan dalam penangkapan pimpinan PKI pasca pemberontakan PKI Madiun, untuk segera pergi ke Kediri, Jawa Timur. Mengingkat akan terjadi serangan militer yang dilakukan Belanda di wilayah Malang, Mojokerto dan lainnya.
Kepergian Tan Malaka juga Kediri juga untuk mengkoordinir kekuatan gerilya. Tan Malaka memberikan pendidikan perang bagi golongan pemuda Kediri. Dan mendapat kabar serangan dari Belanda akan dilancarkan pada 19 Desember 1948, dengan dimulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Yogyakarta dan kemudian Jawa Timur.
Pada 13-14 Desember 1948 mengundang pimpinan pasukan dalam rapat di Gunung Kawi, Blitar Jawa Timur. Pertemuan tersebut menjadi awal terbentuknya GPP (Gerilya Pembela Proklamasi). Dan mengahasilkan perjanjian yang dikenal dengana nama Kawi Pact yang berhasil merangkul beberapa kelompok seperti : Brigade XVI dibawah pimpinan Kolonel Warrow, Batalyon Sabarudin yang berisi orang-orang hukuman di Kediri, Kompi Torpedo Berjiwa dan beberapa kesatuan lainnya. Koordinasi secara luas kekuatan gerilya tidak terbentuk, terlebih setelah Yogyakarta direbut Belanda pada 19 Desember 1948, perlawanan gerilya sebagian besar terjadi secara sporadis dan tidak terkoordinir (Jarvis, 1987:77)
 Pemberitaan mengenai pemindahan kekuasan RI menjadi Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi menimbulkan anggapan bahwa republik telah lenyap yang mengakibatkan keresahan akibat seimpang siurnya pemberitahan yang muncul (Nasution. 1979: 15), dalam kondisi tersebut Tan Malaka menyampaikan pidato di RRI pada 21 Desember 1948 sebelum Kediri diduduki Belanda. Dalam pidatonya Tan Malaka menyampaikan ;
Didudukinya sebagian besar wilaya RI dan terjadinya perang Kolonial I dan II adalah akibat politik diplomasi yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, ditengah kekosangan kekuasaan tersebut, peperangan total harus dilakukan melanjutkan perjuangan dengan didasarkan oleh Proklamsi 17 Agustus 1945. Tujuannya adalah memperjuangkan kembali RI seperti yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 (Jervis, 1987: 78-79).
Disatu sisi seruan Tan Malaka di RRI Kediri menimbulkan interpretasi yang negatif. Kata-kata Tan Malaka dianggap sebagai usaha melakukan kudeta, namun bagi kelompok pro Tan Malaka pidato itu menambah simpati rakyat terhadapnya. Dalam keadaan negara semakin genting, Rustam Effendi menawarkan Tan Malaka memproklamirkan mendirikan Republik Sosialis Indonesia dan Tan Malaka sebagai presidennya, tetapi Tan Malaka pada prinsip semula untuk tetap mejaga persatuan Indonesia walau harus berjuang dengan senjata (Rambe, 2003:52-53).
Kesimpang siuran berita yang terjadi, menjadikan Tan Malaka dianggap memproklamirkan pembentukan Republik Rakyat Indonesia dengan Tan Malaka sebagai kepala negaranya atau Presiden. Dan kelompok gerilya Tan Malaka dianggap sebagai pemberontak dan harus di hancurkan karena dianggap mengancap kedaulatan dan keamanan RI.
Pada Sabtu 19 Februari 1949, ketika sedangakan memimpin pasukan geriliya dipinggir sungai Brantas, desa Pethok, Kediri. Tan Malaka ditangkap dan ditembak oleh tentara regular macan merah Brigade S dibawah pimpinan Letkol Surachmad (Rambe, 2003:53). Sesungguhnya berita kematian Tan Malaka masih simpang siur, karena mayat Tan Malaka tidak ditemukan, terutama pendukung Tan Malaka yang belum dapat menerima kabar tewasnya Tan Malaka. Seperti anggapan Partai Murba sampai Agustus 1950, masih meyakini Tan Malaka masih hidup dalam persembunyian.
Salah satu penyelidikan tentang kematian Tan Malaka dilakukan oleh Jamaludin Tamim, rekan seperjuangan Tan Malaka bersama partai Murba. Berdasarkan hasil penyelidikan dipastikan Tan Malaka memang tertembak pada 19 Februari 1949. Kolonel Sungkono, Kepala Divisi I Brawijaya menjadi orang yang bertanggung jawab atas penangkapan dan kematian Tan Malaka (Tamim, 1965:20).
Setelah 60 tahun hilangnya Tan Malaka akhirnya dilakukan penggalian di makam yang diduga makam Tan Malaka, pada 12 November 2009 di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namun, hal tersebut belum bias dipastikan benar jenazah tokoh revolusi Indonesia, diperlukan penelitian ilmiah untuk memastikan kebenarannya (Ekspresnews, edisi 28 Januari 2014).
Sosok Tan Malaka dalam perjuangan Indonesia mencerminkan bagaimana pengorbanan seorang anak bangsa kepada tanah kelahirnaya. Konsistensi dan totalitas perjungan menjadi ciri khasnya, walau harus diseret dan dianggap sebagai pemberontak tidak menyurutkan semangatnya untuk memberikan terbaik untuk bangsanya. Semua dilakukan mempersatukan banyak organisasi perjaungan dalam satu bendera revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan hingga membentuk komando perang geriliya ketika perlawanan fisik dibutuhkan untuk menahan gempuran Belanda.
Tan Malaka adalah tokoh yang sulit untuk di ikuti oleh siapa pun. Hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus untuk diajak membungkuk. Sebagi contoh Adam Malik, misalnya, adalah kader Partai Republik Indonesia yang sangat mengagumu Tan Malaka. Namun, di tangannya persoalan bisa jadi fleksibel. Begitu juga Moh. Yamin adalah pengikut Tan Malaka yang juga ikut mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946. Sebagai organisasi antithesis politik berunding yang dirintis oleh pemerintah saat itu. Tapi belakangan Yamin menjadi anggota dalam Koferensi Meja Bundar pada 1949. Suatu prinsip yang ditentang dalam Minimum Program Persatuan perjuangan Tan Malaka.
Namun harus disadari gagasan Tan Malaka tidak ada yang bias dengan total mengikuti seperti Tan Malaka sendiri. Selain terlalu lurus, Tan Malaka pasti tidak bias lepas dari belenggu zamannya. Namun tidak ada salahnya menulis ulang semangat ditiap gagasan Tan Malaka, seperti kalimat yang Tan Malaka Sampaikan dalam Thesis, Tan Malaka meminta rakyat Indoensia tidak menghafal hasil berfikir seorang guru. Yang penting adalah cara dan semangat berfikirnya. Ibarat seorang guru matematika, tidak menuntut muridnya mengahafal hasil sebuah perhitungan, tapi  menguasai cara berfikir untuk bias memperoleh hasil hitungan yang benar.

PUSTAKA

C, M Rickefs. 2007. Sejarah Indonesia Moderen. Yogyakarta : Gajahmada University Press.
Dekker, Nyoman. 1989. SejarahRevolusi Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka
Fa’al, FM 2005, Negara danrevolusisosial: pokok-pokokpikiran Tan
Malaka,Resist Book, Yogyakarta.
Jarwadi, Bingar. 1995. Partai Murba: Perkembangan Ideologi menujuh terbentuknya organisasi. Jakarta: Skripsi Sarjana UI
Jervis, Halen. 1987. Tan Malaka: Pejuang Revolusi atau Manusia Murtad. Jakarta: Yayasan Massa.
Kahin, Gorge MC Turan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Jakarta: Pustaka Harapan.
Kansil, C.S.T &Julianto. 1988. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.Jakarta :Erlangga.
Malaka, Tan  2008, Dari Penjara Ke Penjara III (EdisiKhusus 63 Tahun RI), Jakarta : LPPM Tan Malaka
__________ 2000. Geriliya Politik Ekonomi, Yogyakarta :Jendela
__________ 1962, Menuju Republik Indonesia, di lihat tanggal 23 Januari 2014 http://www.marxist.org.
___________ 2010, Madilog: materialisme, dialektika, dan logikaPenerbit NARASI, Yogyakarta.
____________ 2005, Muslihat : Merdeka 100 persen. Tanggerang: Marjin Kiri.
_____________ 1987. Surat Kepada Rakyat. Jakarta: Yayasan Massa.
____________ 1987, Thesis. Jakarta: Yayasan Massa.
____________ 1987. Uraian Mendadak. Jakarta: Yayasan Massa
Nasution, A. H. 1979. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid III: Diplomasi sambil Bertempur. Bandung : DISJARAH-AD &Angkasa.
_______________ 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid IV: Agresi Militer II. Bandung : DISJARAH-AD &Angkasa.
Poeze, Harry A. 2000, Tan Malaka ;Pergulatan Menujuh Republik 1897-1925, Jakarta : PT Temprint
______________2008, Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.Jakarta :YayasanObor Indonesia
Tamim, Jamaludin. 1970. 21 Tahun Kematian Tan Malaka. Jakarta: Pustaka Murba.
_______________ 1957. Sejarah PKI. Jakarta: Pustaka Murba.








Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14