Maret 01, 2016

Tan Malaka ; Mengenal Bapak Bangsa Pencetus Konsep Republik Sebelum Indonesia Merdeka

Tan Malaka
Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897. Tan muda bernama Ibrahim, biasa dipanggil Ibra, anak yang bandel namun cerdas.  Terlahir dari orang tua golongan Kaum Bangsawan lokal. Namun dalam hal kepemilikan dan kedudukan tidak berbeda dengan penduduk desa lainnya. Berdasarkan garis Matriarkat, ia mewarisi gelar terhormat Datoek Tan Malaka kepada Ibrahim. Dalam suatu upacara khidmat pada tahun 1913 didudukan pada jenjang yang mulia (Poeze, 2008; xv).
Tan Malaka mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di asal kelahiranya, dan melanjutkan sekolah guru pribumi (Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers) di Bukit Tinggi, Setelah menyelesaikan pendidikan Kweekschool ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada 1913. Nilainya yang cukup memuaskan dan hubungannya yang bagus dengan gurunya menjadikan mereka bersimpati pada Tan Malaka. Mereka rela mengumpulkan Rp. 50 tiap bulan untuk membantu Tan Malaka dalam studi lanjutnya di Belanda (Tan Malaka,2008: 34).
Selama mengenyam pendidikan inilah Tan Malaka mulai berkenalan dengan buku-buku filsafat karya pemikaran Jerman, Nietzche dan buku-buku tentang revolusi Prancis dan Amerika. Tan Malaka juga sangat bersimpati dengan pergerakan yang dilakukan kaum buruh komunis Rusia yang terjadi pada bulan oktober 1917, dan mulai berkenalan dengan buku-buku yang berkaitkan dengan Revolusi Rusia, seperti Het Kapital karya Marx, Engels, dan Kautsky (Poeze, 2000:71).
Kemudian Tan Malaka kembali ke Indonesia dan menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh di perkebunan Sumatera, tepatnya di Deli dari Desember 1919 sampai Juni 1921. Pengalamannya bergaul dengan kaum proletar inilah yang makin memantapkan Tan bergerak dalam bidang pendidikan. Dari Deli ia menuju Semarang pada Juli 1921, tujuannya adalah untuk mendirikan perguruan yang sesuai dengan keperluan dan jiwa rakyat Murba masa itu. Rakyat Murba adalah sebutan Tan Malaka untuk kaum proletar. Di Semarang inilah Tan Malaka dekat dengan Vereniging van Spoorden Tram Personel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api yang waktu itu diketuai oleh Semaun, yang kemudian mengetuai Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebelumnya PKI bernama Indische Sociaal Democratische Partai (ISDP) yang didirikan kaum sosialis revolusioner Belanda pada 1914. Ketika di Semarang itulah Tan dekat dengan Sarekat Islam (SI) Tjokroaminoto. Setibanya Tan Malaka di Semarang, Semaun mengadakan rapat istimewa anggota SI Semarang untuk mengusulkan mendirikan perguruan yang dicita-citakan olehnya (Tan Malaka, 2008: 93-94).
Sekolah rakyat yang didirikan, biasanya juga disebut sekolah Tan Malaka, segera mendapat tempat dihati rakyat, disamping bayaran yang murah sekolah tersebut sesuai dengan keadaan jiwa rakyat jelata yang sedang tertindas. Sehingga dimana-mana didirikan sekolah model Tan Malaka, bersamaan dengan kemajuan sekolah rakyat tersebut, dalam wilaya politik sedang berkecamuk perbedaan dalam serikat Islam antara kelompok SI dan PKI.
Tan Malaka adalah orang yang tegas termasuk ketika ia berani menjukan sikapnya, Menurut sejarahwan Anhar Gonggong, Tan Malaka adalah tokoh yang dekat dengan Tjokroaminoto. Tan Malaka memiliki keyakinan yang sama bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan pembentukan SI-merah oleh Tan Malaka, karena ia tidak ingin Islam dipertentangkan dengan komunisme. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidak sepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926 menyebabkannya harus didepak dari PKI dan cap sebagai Trostky melekat pada dirinya.
Bagi Tan Malaka pemberontkan yang direncanakan PKI kelompok Prambana bukan saat yang tepat. Digambarkan oleh Tan Malaka dalam massa aksi, moment perubahan massa aksi menjadi pemberontakan bersenjata timbul dengan sendirinya, sebagai hasil dari berbagai maca keadaan, bukan direncanakan terlebih dahulu. Hal tersebut disebabkan oleh karena masa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi. Karena mereka ditinggal oleh masa, sebab dari awal mereka telah memisahkan diri dari masa (Malaka. 2000:95).
Penggalan pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional keempat pada tanggal 12 Nopember 1922 dapat menjelaskan bagaimana sikap Tan Malaka sebagai tokoh komunis terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia menentang thesis Lenin yang diadopsi pada kongres kedua, yang menekankan perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan Islamisme”. Di sini Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif.  Berikut penggalan pidato Tan Malaka:
“Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda di mana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.”
(https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm diunduh pada 24 Maret 2014 : Pkl. 17.41 WIB)
Dalam Pidatonya, Tan Malaka menyampaikan usulan pada komintren mengenai pentingnya kerjasama kaum komunis dengan gerakan Pan Islamisme di negara-negara jajahan. Menurutnya Pan Islamisme bukanlah sebuah gerakan keagamaan, melainkan sebuag gerakan perjuangan kemerdekaan melawan kekuasaan imprialisme. Tan Malaka mengingatkan bahwa kaum muslim yang berjumlah 250 juta orang (pada saat itu), dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat dirangkul dalam perjuangan melawan kekuasaan imperialism di dunia, terutama di tanah jajahan (Malaka, 2000:313-316).
Dilain kesempatan ketika terjadi konflik dalam tubuh serekat Islam, seorang bertanya pada Tan Malaka, apakah dia seorang komunis yang anti agama (atheis)? Tan Malaka menjawab dengan bahasa Belanda :
Als ik voor God sta, ben ik Moslim, maar als ik voor de mensen sta, ben ik geenn moelim, omdat heeft gezegd date er onder de mensen vele duivels zijn” (jika saya berdiri dihadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim, tetapi jika saya berhadapan di depan manusia, saya bukan muslim sebab bukankah Tuhan pernah mengatakan bahwa diantara manusia itu banyak setannya) (Poeze,2000:315).

Banyak petinggi Komintern yang kemudian memusuhinya. Perbedaaan pandangan Tan Malaka dan para petinggi komintern lain. Mayoritas tokoh Komintern menilai gerakan Islam sebagai pengehalang dan juga sisa-sisa feodalisme yang harus dibasmi, sedangkan Tan Malaka sangat tidak setujuh. Terlepas dari keyakinan yang dipegang oleh Tan Malaka, Menurut  Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya menyebutkan "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…." Hal ini diamini bila kita bandingkan ketika Tan Malaka dengan bukunya yang berjudul Near de Republiek Indonesia yang pertama kali menggagas berdirinya republik Indonesia pada April 1925 di Kowoloon Cina, mendahului karya Moh. Hatta dengan Mencapai Indonesia Merdeka pada 1930 di Belanda dan Soekarno di tahun 1932 dengan Kearah Indonesia Merdeka (Kutoyo, 2000:213).
Tan Malaka menghabiskan waktu 20 tahun dalam masa pelarian dan buronan internasional. Sejak ditangkap pada 13 Februari 1922 dengan tuduhan mengganggu Rest en Orde (keamanan dan ketertiban) bagi pemerintahan Belanda di Indonesia akibat gerakan buruh yang gencar ia lakukan. Tan Malaka tiba di Belanda pada Maret 1922, Politik Pembuangan adalah politik yang dilakukan pemerintahan Kolonial Belanda untuk memisahkan tokoh-tokoh pergerakan dengan masanya.

20 Tahun Dalam Pengasingan Tan Malaka (1922-1942)

Tan Malaka menjadi korban politik pembuangan yang dilakukan Belanda dengan tuduhan mengganggu keamanan dan ketertiban umum, di Belanda Tan Malaka di sambut Partai Komunis Belanda (CPH). Tan Malaka di jadikan juru kampanye sekaligus dicalonkan sebagai anggota Parlemen Belanda (Prabowo, 2002:17). Ditahun yang sama Tan Malaka menjadi duta Komintren wilaya Asia Tenggara pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV di Moskow. Selanjutnya pengembaraan dan pelarian Tan Malaka dari kejaran polisi rahasia kaum Kolonial dari satu negara ke negara lainnya. Ia pun sempat bertemu berbagai tokoh pergerakan di Asia seprti Dr. Sun Yat Sen yang dinilainya sebagai borjuis kecil dan Manuel Quezon, Presidan Pertama Republik Filipina yang membela Tan Malaka saat di tangkap Inggris, saat Tan Malaka bersembunyi di Filipina sebagai wartawan.
Walau menetap dinegeri orang totalitas perjuangan Tan Malaka pada masalah-masalah pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pada esensinya pemikiran-pemikaran dan perjuangan Tan Malaka terpusat kepada tujuan bagaimana memerdekaan bangsanya sekaligus merombak secara total seluruh tatanan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Jauh sebelum Sukarno menulis Indonesia menggugat pada tahun 1932 yang berisi arti penting kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ataupun Hatta dengan Kearah Indonesia Merdeka pada 1930, Tan Malaka sudah menulis pamplet berjudul Naar De Republik (Menujuh Republik Indonesia) sebagai konsepsi menujuh kemerdekaan Indonesia yang terbit pertama kali di Kowloon Cina, April 1925 semasa pengasinganya.
Pada Juni 1927 Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Thailand. Dan PARI menolak berkoordinasi dengan Komintren (Poeze, 1988:356).  Bersama Soebakat dan Djamaluddin Tamin mengumumkan PARI bahwa partai ini independen dari Kominter maupun PKI. Perjuangan PARI berdasarkan pamflat Near de Republiek Indonesia sebagai gerakan bawah tanah untuk memimpin jalanya Revolusi Indonesia menggantikan peran PKI. Namun PARI sebagai gerakan kiri di Indonesia dan sebagai grakan Revolusi tidak bias berkembang di Indonesia setelah dua tokoh kepercayaan Tan Malaka tertangkap.
 Keberadaan PARI yang di bentuk Tan Malaka dan sifat independen yang di ambil PARI, menjadikan Tan Malaka tidak hanya sebagai musuh dan ancaman bagi pemerintahan kolonian namun juga menjadi musuh utama PKI dibawah pimpinan Muso. Selanjutnya sejak  tahun 1927 sampai 1932 kegitan politik Tan Malaka semakin terhambat. Tan Malaka lebih sering berada dalam pengejaran intel Imprealisme Belanda, Inggris dan Amerika.
Setelah 20 tahun dalam pelarian di luar negeri Tan Malaka kembali ke Indonesia pada tahun 1942 pada masa Jepang mendaratkan diri dan berkuasa di Indonesia. Sekembali ke Indonesia Tan Malaka sempat menuliskan karya pentingnya di balik kehidupan serba kekurangan yang ia alami, yakni MADILOG (Materialisme Dialektika dan Logika) yang dimulai sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Buku yang mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berfikir ilmiah, dan meninggalkan cara hidup yang dogmatis. Selama pendudukan Jepang Tan Malaka sering menjalin kontak dengan tokoh pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Maruto, Pandu Kartawiguna dan lain-lain. 
Sampai menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, memang Tan Malaka tidak terlalu ambil bagian secara langsung dalam antusias medan euforia kemerdekaan dan ini diakuinya sebagai penyesalan terbesar dalam hidupnya (Fa’al 2005 :135-137). Perjuang Tan Malaka di mulai setelah kedatangan kembali Belanda dan sekutu yang ingin kembali merongrong kekuasaan di Indonesia.
Tan Malaka adalah satu dari sedikit anak bangsa yang konsisten memegang prinsip ideologis yang ia yakini hingga akhir hayatnya. Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh Orde Baru, termasuk karya-karyanya dilarang beredar, pada pascareformasi nama Tan Malaka bergaung kembali. Tan Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut-sebut dari mulut ke mulut, namun sulit untuk mengetahui persis keberadaannya, hingga relatif orang hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya. Hal itu karena Tan Malaka lebih banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan berpindah tempat, sebagai konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi dengan penjajah -padahal sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi juga konsekuensi dari gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia tuangkan dalam karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi (Tempo, 17 Agustus 2008: 26). Dalam otobiografi pendek yang ia tulis dalam Dari Penjara ke Penjara terlihat juga bahwa ia betul-betul membumi dan membaur dengan rakyat, buruh, kelas pekerja, dan mereka yang selama ini diperjuangkan oleh Tan Malaka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tan Malaka adalah potret intelektual organik, intelektual yang terlibat langsung dalam perjuangannya, tidak sekadar berwacana melalui tulisan saja. Ia betul-betul menyelami kehidupan kaum proletar yang diperjuangkannya, menjadi bagian darinya dengan menjadi buruh, pekerja keras, tukang ketik, dan lainnya.
Banyak ceita tentang sosok Tan Malaka dilukiskan lewat novel berjudul Patjar Merah Indonesia yang merupakan cerita saduran dari The Scarlet Pimpernet karangan Baroness Orczy yang menceritakan kisah Sir Percy Blakeny dan Revolusi Prancis. Novel setengah fiksi yang menceritakan perjalanan perjuangan revolusioner dalam kesederhanaan, tidak mabuk untuk menjadi terkenal, menjadi bintang pahlawan yang dielu-elukan kedatangannya.

Tan Malaka Dan Konsep MADILOG

            Ketika bicara soal Tan Malaka mungkin tidak bisa dilepaskan dengan ajaran Marxisme yang lekat oleh dirinya sehingga sampai sekarang di cap sebagai seorang komunis, namun kita tidak dapat mengabaikan sejauh mana jejak langkah dan konteks sosio-historis Tan Malaka yang terlahir dari tradisi Islam puritan di Pandan Gadang, Suliki Sumatera Barat pada 1897.
            Dalam wawancara majalah detik oleh keponakan Tan Malaka, Zulkifi Kamarudin (Majalah Detik, 2014: 99), mengenai keislaman Tan Malaka, menyatakan Tan Khatam dan hafal Al-Qur’an karena sejak kecil belajar mengaji di surau dari cerita Nenek-nenek mereka mengenai sosok Tan Malaka. Sebagaimana banyak litelatur, kebudayaan Minangkabau sangat kental dengan nuansa Islami. Hal ini dibuktikan dengan semboyan adat minang yaitu; “adat basandi syariat, syariat basandi kitabullah” (adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah). Tan Malaka menggambarkan keadaan keluarganya dengan menulis:
”sumber yang saya peroleh untuk pasal ini (agama Islam) adalah sumber hidup. Seperti sudah saya lintaskan dahulu, saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ketika sejarah Islam di Indonesia bisa dikatakan masih pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang alim ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat. Ibu-Bapak saya keduanya taat, takut pada Allah, dan menjalankan sabda Nabi. (Tan Malaka, 2010: 381-382).”
            Masa kecilnya, Tan Malaka adalah seorang anak yang pemberani, nakal dan keras kepala. Alam Minangkabau yang asri penuh pemandangan alam; gunung bebukitan dan sungai, menjadi guru bagi Tan Malaka untuk menempa mental dan fisiknya. Alam takambang jadi guru merupakan ungkapan filosofis Minangkabau yang bermakna dialektis bahwa seseorang harus dapat membaca alam sekitar, orang sekitar,dan  belajar dari apa yang mereka tampakkan, dimanapun berada kita dapat menjadikannya pelajaran dalam memaknai dan mejalankan kehidupan.
                Berkat kecemerlangan otaknya, dia menjadi salah satu dari sedikit kaum pribumi yang berhasil menimba pendidikan Barat. Tercatat sebagai mahasiswa Rijks Kweekschool, Harlem, Belanda pada 1913 hingga 1919 sekaligus menjadi awal perkenalannya dengan teori Marxisme lewat karya-karya Marx-Engels. Pematangan intelektualitasnya kemudian dibuktikan dalam masa kepulangannya sebagai guru di Tanjung Morawa dimana dia melihat realitas kehidupan kaum buruh perkebunan yang tertindas sebagai dampak kebijakan pemerintah jajahan pada waktu itu (Rambe, 2001: 20-24).
            Di sini lah pergulatan gagasan yang dihadapkan pada realitas sosial yang pada akhirnya membawa arti penting bagi penegasan perjuangan Tan Malaka menuju Republik Indonesia. Perjalanan karir politiknya kelak dan kekayaan gagasan dalam karya-karyanya sedikit banyak dilandasi atau paling tidak dipengaruhi oleh teori yang dia dapat dan realitas sosial-politik pada saat itu. Dalam latar sosio-historis itulah, Tan Malaka membangun tradisi kirinya.
                Pemikiran Tan Malaka secara konsisten, didasarkan pada filsafat dan pandangan hidup Madilog yang merupakan landasan dasar dan harus disadari oleh kaum proletar Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Madilog hadir, berangkat dari keprihatinan Tan Malaka kepada kaum proletarian yang terlalu tenggelam dengan dunia takhayul dan mistis yang menjadikan mereka tidak realistik dan tak punya nyali untuk bergerak melawan imperalisme. Kaum proletarian hanya bergantung, enggan berubah dan terkesan menunggu datangnya Ratu Adil yang akan membebaskan mereka pada keterpurukan, yang mana cerita itu belum tentu benar adanya (takhayul). Dalam filsafat pemikirannya, Tan Malaka menyebut masalah pelik ini sebagai logika mistika. Untuk mengatasi hal tersebut, Tan Malaka menyodorkan tiga hal sebagaisenjata penangkalnya, yakni Materialisme, Dialektika dan Logika (MADILOG).
                Materialisme, menekankan pada keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, bukan kepada khayalan dan takhayul. Logikanya sederhana, dari pada kita sibuk mencari penyebab tentang segala kejadian di alam gaib, lebih baik kita mencari kenyataan bendawi sendiri. Dalam mengkaji realitas, maka diperlukan ilmu pengetahuan yang berbasis pendekatan ilmiah. Dengan begitu, paraproletar Indonesia akan berpikiran maju dan dapat keluar dari keterpurukan. Namun, materialisme akan dapat optimal apabila disertai oleh dialektika.
            Dialektika menjelaskan bahwa realitas tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua hokum dialektika: hukum penyangkalan dari penyangkalan dan hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif dan kesatuan antara yang bertentangan.
            Logika oleh Tan Malaka secara eksplisit membandingkan dan menggantikan logika mistis menjadi logika realitas. Dari madilog, Tan Malaka menunjukkan betapa lebih mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan segala kenyataan penting yang kita hadapi. Seperti perkembangan alam raya, evolusi organisme, sejarah manusia dan lain sebagainya (Suseno, 2000).
                Menurut Tan Malaka, seorang pemimpin haruslah seorang yang cerdas dan mampu memimpin suatu pergerakan revolusioner. Ia dapat memberikan pertimbangan dan memperkirakan arah perjuangan yang akan berjalan. Di samping itu, seorang pemimpin haruslah dapat menyelami kemauan rakyat dan dapat mengubah kemauan masa menjadi perbuatan masa. Namun untuk menggerakkan suatu masa haruslah memiliki suatu partai revolusioner. Partai inilah yang nantinya akan mempertemukan orang-orang yang memiliki persamaan pandangan dalam revolusi. Untuk mencapai kemenangan revolusi, harus memperhatikan dua syarat berikut : pertama, kondisi objektif, yaitu suatu tingkatan sistemproduksi yang tertentu dari masyarakat dan taraf tertentu dari kesengsaraan rakyat. Sedangkan yang kedua adalah kondisi subjektif, yaitu kesediaan rakyat untuk membuat sebuah partai revolusioner yang berdisiplin dan mengakar dalam masa rakyat (Rambe, 2003: 201).
Tan Malaka adalah model seorang intelektual organik dalam istilahnya Gramsci, intelektual yang tidak sekadar piawai bermain teori, namun juga mampu membumi dan bergerak di akar rumput. Ia tidak sekadar menuangkan gagasannya dalam buku, pamflet, dan karya tulis lainnya sebagai media perjuangan, namun ia juga turut bergerak dan berjuang secara fisik dengan bergerilya, mengagitasi dan memimpin gerakan perlawanan melawan penjajah.
Di kala pemimpin perjuangan kemerdekaan lebih mengedepankan perjuangan fisik, ia tidak lupa dengan kondisi masyarakat yang masih belum memiliki kesadaran intelektual tinggi, yang tidak sekadar membutuhkan semangat perjuangan dari orasi pemimpin perjuangan, tapi juga membutuhkan acuan perjuangan, panduan perjuangan, penyemangat perjuangan dalam bentuk tertulis yang lebih tahan lama dan dapat diwariskan dari orang ke orang lain, dari generasi ke generasi.
Namun semua yang dilakukan Tan Malaka harus di bayar mahal, rezim berkuasa yang merasa terganggu dan khawatir dengan pikiran-pikiran Tan Malaka dapat mengganggu stabilitas nasional kemudian menenggelamkan dirinya dari pentas sejarah bangsa. Antipati pemerintah terdahulu (Orde Baru) terhadap Tan Malaka agaknya karena karya-karyanya banyak didasarkan pada paradigma berpikir Marxian, sedangkan gagasan-gagasan itu relatif dekat dan bahkan menginspirasi komunisme, stalinisme, leninisme.  Hal tersebut menjadikan rezim berkuasa melarang karya–karyanya dibaca kalangan umum dan menenggelamkan peranan dalam perjuangan kemerdekaan.

PUSTAKA

Alfian. Tan Malaka Ideologi Kesepian. Dalam buku “Manusia dalam Kemelut Sejarah”. Editor Syafii Maarif, Jakarta: LP3ES
Cribb, Robert., dan Audrey Kehin. 2012, Kamus Sejarah Indonesia. Komunitas Bambu, Jakarta
Jervis, Halen. 1987. Tan Malaka: Pejuang Revolusi atau Manusia Murtad. Jakarta: Yayasan Massa.
Kutoyo, Sutrisno. 2004, Prof. H. Muhammad Yamin SH. ; Cita–cita dan Perjuangan Seorang Bapak Bangsa. Jakarta : Mutiara Sumber Widya
Malaka, Tan  2008, Dari Penjara Ke Penjara III (EdisiKhusus 63 Tahun RI), Jakarta : LPPM Tan Malaka
__________ 2000. Geriliya Politik Ekonomi, Yogyakarta :Jendela
__________ 1962, Menuju Republik Indonesia, di lihat tanggal 23 Januari 2014 http://www.marxist.org.
___________ 2010, Madilog: materialisme, dialektika, dan logika, Penerbit NARASI, Yogyakarta.
____________ 2005, Muslihat : Merdeka 100 persen. Tanggerang: Marjin Kiri.
_____________ 1987. Surat Kepada Rakyat. Jakarta: Yayasan Massa.
____________ 1987, Thesis. Jakarta: Yayasan Massa.
____________ 1987. Uraian Mendadak. Jakarta: Yayasan Massa. 
Poeze, Harry A. 2000, Tan Malaka ;Pergulatan Menujuh Republik 1897-1925, Jakarta : PT Temprint

______________2008, Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.Jakarta :YayasanObor Indonesia



April 26, 2014

Harvest Moon Back to Nature : Spoiler Event

Mungkin dari judul diatas bagi generasi yang banyak nongkrong di di rental PS atau yang sekarang lagi candu-candunya dengan PS in PC atau Emulator dan sebagainya mungkin game ini bukan hal yang asing lagi. dan ini saya kasih bocoran beberapa gambar yang tak sengaja saya pungut bagi yang sampai sekarang belum merasa dewasa atau masa kecilnya kurang bahagia. semoga ini membantu perjalanan panjang bagi para Harvester di Moneral Town :

1. Power Barry

Powerberry adalah buah yg mirip dgn apel. kegunaan'a untuk meningkatkan stamina karakter. jumlah seluruh power berry ada 10. bisa di dapat dgn cara :

  • Tanam 90 bunga (99 bunga biar lebih yakin) sesuai musimnya secara bersamaan, tunggu sampai berbunga semuanya. Setelah berbunga semua, tunggulah beberapa hari maka Anna akan datang ke perkebunanmu. Dia meminta izin untuk memetik bunga-bunga tersebut, kamu jawab saja “petik semaumu”maka dia akan senang sekali dan akan memberimu Power Berry sebagai hadiah.Ia memberikanmu Power Berry karena baginya dianggap langka.


  • Memenangkan lomba renang saat festival di hari pertama musim summer.
  • Memberikan 5 hasil panenmu (5 butir telur untuk lebih mudahnya) kepada Harvest Goddess. Caranya berdiri di depan air terjun (di depan mulut gua) dan lempar hasil panenmu ke air terjun tersebut.


  • Cobalah menebang pohon cedar yg berdiri sendirian di Mother Hill. Saat kamu mengayunkan kapakmu sekali, layar akan berubah putih dan akan ada pertanyaan. Jawab "Don't want to cut" atau "Jangan tebang",Jika kau bersikeras untuk menabang pohon itu,Gotz akan dating dan memarahimu. 

  • Saat winter, menambang di gua di tengah danau yang membeku.

  • Pergilah ke danau yang membeku. Lalu saat berada di sebelah kanan mulut gua, tekan X 

  • Setelah membeli semua peralatan masak, TV Shopping akan menawarkan Power Berry seharga 5000G.

  • Menambang di Springmine.

  • Memperoleh 1001 medals saat pacuan kuda untuk dapat ditukarkan dengan Power Berry.

  • Mystic Berry.
    Pertama-tama, berilah Chef si kurcaci merah hadiah, nanti dia bakal komentar tentang Kappa ("Kappa yang menyukai timun yang masih mentah", kira-kira seperti itu katanya). Lalu sambil membawa 3 timun, pergilah ke Mother Lake (danau di gunung), berdirilah di tepi danau dimana kamu membelakangi 2 pohon yang berderet. Lempar dulu 1 timun, maka kepala Kappa akan muncul; lempar 2 timun sisanya maka dia akan merasa terganggu dan akan memberimu Mystic Berry dengan syarat kamu jangan mengganggunya lagi (seperti halnya dengan Harvest Goddess, Kappa tidak akan muncul pada hari festival). [(Kamu bisa saja langsung mencari Kappa tanpa harus berbicara dulu dengan Chef si kurcaci merah; namun apabila kamu sudah melempar timun tetapi Kappa tidak muncul juga, alangkah baiknya kalau kamu mengikuti petunjuk diatas dengan cermat)].
     



  • Memancing di laut.
2. Moon-Viewing
Festival melihat bulan purnama sempurna disana ada akan menemui gadis yang mingkin anda sukai.
With Popuri
With Mary
With Elli

With Karen
With Ann
3. Goddess Festival
Festival tari yang diadakan pada hari ke-8 musim Spring, anda dapat mengajak salah satu gadis desa sehari sebelumnya dan nanti dia akan menjemput anda datang ke Lapangan dan setelah festival berlangsung anda akan diajak ketempat khusus kesukaan gadis tersebut.
With Popuri
Popuri akan datang dengan gaun Goddess dan akan menunggumu selesai bekerja. Setelah semua pekerjaanmu di kebun selesai, bicaralah padanya untuk berangkat menuju Rose Square. Saat di Rose Square, bicaralah padanya maka dia akan berjanji setelah selesai akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah selesai, Popuri akan mengajakmu ke pantai. Sesampainya disana, dia bercerita saat ayahnya masih berada di Mineral Town, dia selalu diajak ayah ke festival. Saat itu, Popuri memakai gaun yang diberikan ibu padanya, saat itu rasanya dia menjadi seperti seorang dewi sungguhan.
With Mary
Mary akan datang dengan gaun Goddess dan akan menunggumu selesai bekerja. Setelah semua pekerjaanmu di kebun selesai, bicaralah padanya untuk berangkat menuju Rose Square. Saat di Rose Square, bicaralah padanya maka dia akan berjanji setelah selesai akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah selesai, Mary akan mengajakmu ke area padang bunga di Mother Hill. Dia bercerita kalau gaun yang dia pakai saat festival tadi adalah milik Aja dari Aja Winery, Manna memberikan gaun tersebut kepadanya karena Aja tidak mau memakainya. 
With Karen
Karen akan datang dengan gaun Goddess dan akan menunggumu selesai bekerja. Setelah semua pekerjaanmu di kebun selesai, bicaralah padanya untuk berangkat menuju Rose Square. Saat di Rose Square, bicaralah padanya maka dia akan berjanji setelah selesai akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah selesai, Karen akan mengajakmu ke Bar/Inn untuk minum-minum. Disana dia bercerita tentang ayahnya, Jeff, saat pertama kali mengajak Sasha menghadiri festival dimana setelah selesai, mereka minum-minum di Bar dan tertidur bersama.
With Elli
Elli akan datang dengan gaun Goddess dan akan menunggumu selesai bekerja. Setelah semua pekerjaanmu di kebun selesai, bicaralah padanya untuk berangkat menuju Rose Square. Saat di Rose Square, bicaralah padanya maka dia akan berjanji setelah selesai akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah selesai, Elli akan mengajakmu ke area danau di Mother Hill. Lalu dia bercerita saat dia masih kecil, ayahnya selalu mengajak ibu pergi ke festival dan pulangnya selalu mampir ke danau ini, tempat yang mengingatkan kenangan indah masa lalu.
With Ann
Ann akan datang dengan gaun Goddess dan akan menunggumu selesai bekerja. Setelah semua pekerjaanmu di kebun selesai, bicaralah padanya untuk berangkat menuju Rose Square. Saat di Rose Square, bicaralah padanya maka dia akan berjanji setelah selesai akan mengajakmu ke suatu tempat. Setelah selesai, Ann akan mengajakmu ke area kolam air panas. Dia bercerita kalau gaun yang dipakainya saat festival tadi adalah peninggalan dari ibunya. Jujur dia tidak terlalu suka memakai rok atau gaun dan jarang untuk memakainya, namun gaun tersebut berbeda dan terasa spesial karena merupakan peninggalan dari ibunya. 



4. Winter Thanksgiving

Kesempatan anda mendapatkan hadia berupa coklat dari gadis-gadis desa yang menyukai anda. saat Thanksgiving berlangsunh berusahalah tetap dikebun diwaktu - waktu tertentu untuk mendapatkan semua coklat dari gadis yang menyukai anda. di mulai pada pagi hari Popuri akan memberikan anda coklat  ( 06.00-06.10 AM ), lalu Ann ( 08.00-08.10 AM ), Elli ( 10.00-10.10 AM ), Keren ( 01.00-01.10 PM ), dan terakhir Mary ( 03.00-03.20 PM ).










5. Unlocked Room


biasanya ruangan yang dimaksud adalah kamar atau ruangan tertentu yang dimiliki tetangga anda, bila anda ingin dapat masuk kesana anda harus berteman dengan tetangga anda agar anda dapat kesana.


Kamar Saibara
 
Kamar Duke dan Manna

Kamar Aja
Kamar Basil
Ruang Sebelah Supermarket
Kamar Doctor
Kamar Elli ( Klinik )
Kamar Doug
Kamar Ann
Yodel Ranch Lantai 2
Poultry Farm lantai 2
Sumber :
HarvestMoon : Back to Nature (Indonesia)



Download iso Game PS1 on PC :
ISO PS1 FOR PC
Harvestmoon Back To Nature ( Bahasa Indonesia ) iso File

Januari 18, 2014

BESEMAH Dalam Lintasan Sejarah

Pendahuluan
Dari tinjauan kesejarahan, keberadaan Besemah (Sumber Belanda menyebutkanPasemah, merujuk bagian hikayat Pasemah Libagh) terutama dapat dilihat pada masa pra hingga masa kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa inilah dikenal istilah marga. Pada masa pemerintahan Sido Ing Kenayan yang nai tahta sekirtar tahun 1629, di buat semacam undang – undang yang mengatur hubungan antara Palembang dan daerah pedalaman. Selanjutnya hubungan ini makin efektif pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Khalipatul Mukminin Sayidul Iman (Sultan Pertama kesultanan Palembang), yang memerintah pada masa 1651 – 1706 M. setelah kesultanan Palembang dikalahkan oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal. De Kock, Sultan Mahmud Badaruddin II selaku penguasa kesultanan Palembang menyerah kalah. Kekalahan ini mempunyai arti penting dan merupakan babak baru bagi sejarah Besemah.

Asal Usul Suku Besemah
Besemah adalah suatu peradaban budaya yang sudah maju pada masa prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief yang terdapat pada monument nasional di Jakartaa. Besemah merupakan suku melayu, dalam kawi kuno memiliki arti : pelarian / pengungsian dari dataran tiongkok yang dikenal dengan mongolith dan Persia.
Mengenai asal usul suku besemah, hingga saat ini masih berupa legenda rakyat, yaitu atung bungsu, yang merupakan salah satu diantara 7 orang anak ratu (=Raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri suangai nusantara yang  berakhir disungai lematang, akhir memilih tempat bermukim di dusun Benua Keling. Atung Bungsu menikan dengan Putri Ratu Benua Keling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melaui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), Puyang Mandulike, Puyang Sakesemenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus, dan Sake Seketi yang menjadikan penduduk jagat Besemah (Lihat bagan Alir).
Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, tetapi unsure yang sangat penting dalam legenda adalah peran dan fungsinya sebagai pemersatu kehidupan suatu masyarakat (Jeme Besemah). Legenda ini dapat menjadi antisipasi Disenrtegrasi kesatuan dan persatuan jeme besemah kemana pun mereka berada. Hal ini sudah tampak dalam beberapa dekade, terutama setelah pemerintahan marga dihapuskan (UU No. 5 Tahun 1979). Perlu selalu ditanamkan perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah itu (termasuk jeme semende dan jeme kisam) berasala dari satu keturunan.

Berdirinya Dusun Jagat Besemah
Puyang Kunduran membuat dusun masam bulau (Ulu Manak) dan dikemuadian hari anak cucunya membuat dusun gunung kerte, termasuk sumbay besak (Sumbay Besar); Puyang Keriye Beraim membuat dusun Gunung Kaye, dan Sumur. Kemudian anak cucu keriye Beraim membuat dusun Talang Tinggi dan muara jauh ( Ulu Rurah ), Puyang Belirang membuat dusun Semahpure dan anak cucunya pindah pula membuat dusun di Ulu Manak. Puyang Raje Nyawe pindah juga membuat dusun perdipe, Petani, dan pajar Bulan. Anak cucunya pindah juga membuat dusun Alun Dua, Sandarangin, Selibar, Rambaai Kaca, Sukemerindu, Kutaraye, Babatan, Sadan, Nantigiri, Lubuk Saung, Serambi, Bandaraji, Ulu Lintang; Bangke, Singapure, Ulu Lebar, Gunung Liwat, Tanjung Beringin, Ayik Dingin, Muara Sindang, Tebat Benawa, Rempasai, Karang Anyar, Semua nya masuk sumbay besak. Puyang raje nyawe pindah ke semende, membuat dusun pajar bulan. Puyang raje nyawe kembali ke dusun Perdipe menyebarkan agama Islam dan adapt istiadat perkawinan secara Islami. Dari semende banyak penduduk yang pindah ke Kisam dan masih banyak cerita mengenai pendiria dusun – dusun di tanah Besemah ini.

Sistem Pemerintahan Tradisional
Sistem Pemeritahan tradisional di daerah Besemah disebut Lampik Empat Merdike Due yang dipimpin oleh kepala – kepala Sumbay. Besemah waktu itu merupakan suatu “REPUBLIK” yang paling demokratis. Tanggung jawab dan kesetiaan sangat ketat dibina oleh orang Besemah. Rasa Solidaritas dan Loyalitas yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan prajurit – prajurit Besemah dapat melakukan perlawanan terhadap kolonialisme hal yang mengiringi rasa solidaritas dan loyaalitas yang tinggi itu baik didalam keluarga batih, keluarga luas virilokal maupun pada suku besemah secara umum adalah konsep “dimak kepadunye” dan “dide beganti”.

Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas
Status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” dan system pemerintahan tradisional “Lampik Empat Merdike Dua”  menjadi terancam dan sirna setelah Kolonialis Belanda dapat melakukan perlawanan Sultan Mahmud Badarudin II. Pada perang Palembang pada tahun 1819 dan tahun 1821. Dalam hubugannya dengan  kesultanan Palembang, suku Besemah selalu menganggap dirinya sebagai orang yang bebas, orang merdsike. Hubungan Sultan Palembang dengan Suku Besemah lebih bersifat suzeverenitas(Hens, 1909 : 12 – 15) kewajiban “milir seba” Bukit Seguntang pada tiap tiga tahun sekali, lebih diartikan sebagai nggahi kelaway tue, Putri Sindang Biduk. Sultan Palembang yang cukup menghormati orang – orang besemah, terbukti dengan status yang diberikannya yaitu status “Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” (Grensbewakers).
Suku besemah sering melakukan (istilah belanda onlusten, woelingen, rustverstoring), yang berarti membuat “kerusuhan” membuat “huru-hara” atau mengganggu ketentraman. Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng – benteng pertahanan yang kuaat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya kute Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute Agung, Kute Munteralam, dan kute – kute lainnya. Pimpinan Militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang – orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866.

Belanda Mengalahkan Besemah
Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu per satu kute pertahanan prajurit – prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute-Agung, Kute Menteralam, dan lain – lain. Pada pertempuran di kute – kute tersebut terlihat bahwa prajurit – prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati dari pada mnyerah, terutama pada pertempuran di tebat seghut dan munteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Liagh (Besemah Lebar), pasukan belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh – tokoh pimpinan besemah yang bersembunyi di daerah ini.
Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah haarus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan dikeluarkan pemerintaah Belanda. Misalanya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peratuaan dan ketentuan – ketentuan ini merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang – orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” menjadi hilang. Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah di jajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ii berlangsung hamper selama 82 tahun.

Perang Pasifik dan Penjajahan Jepang
Kekuasaan Belanda yang tampak sangat kuat, dengan mudah dikalahkan oleh bala tentara Jepang pada perang Pasifik di bulan Februari 1942. pertahanan sekutu dilaut jawa dapat dipatahkana. Pasukan jepang mendaraat di beberapa tempat di kepulauan Indonesia. Menyerahnya Belanda kepada Jepaang pada tanggal 9 Maret 1942, menyebabkan Belanda kehilangan jajahannya di Indonesia.
Mulailah babak baru dalam sejarah Indonesia, yakni Indonesia di jajah oleh bangsa Jepang. Rakyat Indonesia semakin menderita di bawah kekuasaan jepang. Balatentara Jepang ternyata lebih kejam bila dibandingkan dengan kolonialis Belanda. Jepang yang pada awal perang Asia Timur Raya sangat opensif, berubah menjadi defensive dan tertekan oleh kekuatan sekutu, sehinggaa terdesak di berbagai front pertempuran, termasuk di wilayah Indonesia.

Ghuyun Kanbu
Untuk mengatasi kekurangan pasukan, Jepang membentuk satuan militer pribumi, yang disebut Ghuyun Kanbu (Infanteri Ghuyun). Angkatan pertama Ghuyun di latih di Kota Pagar Alam, tepatnya di Balai Istirahat, di Belakang rumah sakit Juliana (Juliana Hospital), di Jalan ke arah dusun Pematang bange. Dari pusat lathan Ghuyun di Pagar Alaam di hasilkan prajurit dan perwira – perwira yang cakap dan terampil menggunakan senjata, mengatur strategi perang serta teknik – teknik berperang yang kemudian sangat bermanfaat dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Faktor inilaha yang dapat dijadikan sebagai salah satu dasar kriteria untuk menyebut Pagar Alam sebagai “Kota Perjuangan”.

Proklamasi Kemerdekaan
Akhirnya jepang menyerah kepada ssekutu tanggal 14 Agustus 1945. kemerdekaan Indonesia di Proklamasikan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. tidak semua daerah mengetahuinya. Oleh karenanya upacara penaikan Benderaa Sang Merah-Putih, tidak sama waktunya antara satu daerah dengan daeraah lainnya, termasuk Kota Pagar Alam. Pada tanggal 21 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, pada pemuda pejuang mengibarkan bendera merah putih di Pagar Alam (Bastari 192 : 2005). Upacara penaikan Bendera dilaksanakan di halaman toko Datuk Seri Maharajo, rumah keluarga Sofjan Rasjad (Saat ini telaah menjadi Toko cuci cetak foto modern). Hadir dalam upacara penaikan bendera itu antara lain : Siddik Adiem, datuk Seri Maharajo, Depati M. Hasyim R, Kenasin, Agam, Almunir, Tjik Seman, Tjik Nunung, Djinal Genting, M. Sohan Sumur, M. Djahri, Ardjo Talang Kelape, dan beberapa anggota Hizbul Wathan
Pemerintah Indonesia kemudian membentuk pemerintahan hingga ke daerah – daerah. Terbentuklah kewedanaan Tanah Pasemah pada Oktober 1945. Kewedanaan ini membawakan empat kecamatan, yaitu Pagar Alam sebagai ibu kota kewedanaan Kecamatan Tanjung Sakti, Kecamatan Jarai, Kecamatan Kota Agung.

Pertemuan di Tebat Limau
Sebagai suatu Negara yang telah merdeka, Indonesia berusaha mengambil alih kekauasaan politik dan militer, terutama usaha untuk mengambil atau merebut senjata dari tangan jepang, Maayor Ruslan mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan di Tebatlimau, dekat dusun Pelang Kenidai yang dihadiri oleh semua unsure pemerintahan, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), Wedanaa, Polisi, Para Pesirah, Kepala – kepala Sumbay dan pimpinan tentara keanamanan rakyat (TKR) / lascar.
Terjadi pertempuran – pertempuran dengan tentara jepang di butai – butai jepang di Gununglilan, Bumi Agung, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Jerambah Beringin, dan Karang Dale. Pada pertempuraan – pertempuran di butai – butai Jepang tersebut telah gugur beberapa putera terbaik Besemah, antara lain mayor Ruslan, Sersan Ansori, Serma Wanar, Musalim, Zainal, Salam, Tulip, Dung, Marzuki, Zainawi, Jinal, Kamal, Abdullah, Siakip, dan beberapa orang lainnya yang tidak tercatat. Setelah balatentara menyelesaikan tugas yang diberikan sekutu dan mereka dikembalikan ketanah airnya. Perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Belanda (NICA) dating kembali ke Indonesia. Terjadi pertempuran dengan pihak sekutu / Belanda yang mencapat puncaknya pada pertempuran lima hari lima malam (PLHLM) tanggal (21 juli 1947) dan agrei  militer 11 (19 desember 1948).Rakyat sumatera latan melakukan per lawanan sengit,sangat heroik, dan semangat rela berkorban yang sangat tinggi baik harta maupun nyawa, demi unuk mempertahankan kemerdekaan .perlawanan yang demikian termasuk juga di kewedanan tanah pasemah.

Peran Rakyat Besemah dalam PLHLM DAN AM I
Pada Agresi Militer 1 Belanda,rakyat dikeweanan Tanah pasemah belum secara langsungt berperang karena Belanda  belum berhasil sampai ke Tanah Pasemah.namun Raktyat Besemah telah  ikut berperan pada pertempuran lima hari Lima malam  dan Agresi Militer 1,yaitu memberikan bantuan personil (prajurit) dan logistik (beras dan sayur-sayuran) .memang sudah ada usaha  Belanda untuk melakukan serangan ke pagaralam (ibukota kewedanaan Tanah Pasemah),tetapi niat ini tidak terealisasi Karena sudah persetujuan itu,ditetapkan  garis demarkasih pertempuran  di dusun  tanjung tebat.

Perlawanan Rakyat di tanah Besemah AM II
       Pada agresi militer II Belanda (Desember 1948), ada tiga daerah yang menjadi target sasaran yaitu, Muara Dau (Sekarang OKU Selatan) Tebing Tinggi, dan Pagar Alam. Pertahanan Kota Pagar Alam. Dibebankan kepada Balyon XVI STP (Sub Teritorium Palembang) yang berkekuatan enam kompi, yaitu kompi I kapten Satar, Kompi II Lettu Ichsan, Kompi III Lettu Yahya Bahar, Kompi IV Lettu Nahwi, Kompi V Lettu Adenan Ibrahim, dan Kompi VI H.S. Simanjutak. Untuk mempertahankan kota Pagar Alam ini, dibentuk tiga front yaitu front mingkik untuk menghadang pasukan belanda diluar ndikat, frony selangis untuk menghadapi belanda yang akan masuk simpang rantau-unji dan front padang kaghit (ordeming kopi yang dulu milik belanda) front padang kaghit di pimpin Lettu Yahya Bahar. Untuk menghambat pasukan belanda yang akan masuk lewat tanjung tebat, jeramba ndikat terpaksa dihancurkan. Penghancuran ini lakukan oleh prajurit agam dan kawan – kawan.
Pimpinan pasukan Belanda yang sejak awal memperkirakan bahwa luang ndikat sukar ditembus, juga melakukan pengiriman pasukan melalui jalan jepang yang bias tembus ke simpang rantau-unji, front selangis, front padang kaghit, kota Pagar Alam dan terus kedaerah impit Bukit. Pasukan TNI, lasakar pejuang dan rakyat melakukan perlawanan sengit di front selangis besar. Namun, karena persenjataan yang tidak seimbang, perlawanan ini dapat dipatahkan oleh belanda. Pasukan TNI, lascar dan rakyat pejuang terpaksa melakukan gerakan mundur ke hutan – hutan, untuk selanjutnya melakukan perang gurila (geriliya) melakukan penghadangan – penghadangan ditempat – tempat strategis dengan memasang landsmijn (ranjau darat).

Politik Bumi Hangus
Pihak TNI lascar dan rakyat pejuang melakukan politik bumi hangus, terutama pada bangunan – bangunan milik belanda, agar tidak dipergunakan lagi oleh pasukan Belanda. Misalnya Pembumihangusan bangunan dikompleks BPM Jeramba Beringin, Demporeokan, kantor wedana tangsi polisi dan bangunan – bangunan diperkebunan teh gunung dempo.

Peran Tanjung Sakti
Tanjung Sakti mempunyai peranan yang sangat besar terutama setelah pimpinan teras TNI yang sebelumnya bermarkas di Lubuk Linggau dipindahkan ke cughup, kemuara Aman, dan akhirnya ke Tanjung Sakti, pimpinan teras TNI ini di pimpin oleh Kolonel Bambang Otoyo dan kepala staf nya adalah Kapten M. Yunus. Tanjung Sakti juga menjadi pusat pemerintahan sipil keresidenan Palembang yang dipimpin residen Abdul Rozak. Demikian pula Bupati Amaluddin, Wedana Wangi, Wedana Ibrahim, Wedana Abdullah Sani, Siddiq Adem (Kepala penerangan) dan lain – lain berada di Tanjung Sakti. Dari kepolisian keresidenan palembang terdapat nama – nama Komisaris Polisi Sugondo, Inspekur Polisi Taslim Ibrahim, Inspektur Polisi Abdullah Amaludin. Inspektur Polisi palma, Yasin, dan Cek Umar. Kepala Penerangan dan Kepala Kesehatan juga berada di Tanjung Sakti, serta masih banyak tokoh pejuang lainnya, misalnya Rasyad Nawawi, Satar, Nurdin, Syamsul Bachri Umar (Tatung), Idham, Djarab, Nurdin Pandji Ibrahim, Bachrun Umar, Basri, Ali Syarief, Sahid, Munir, Cek Asim, dan lain – lainnya. Dari Tanjung Sakti dikendalikan pemerintahan, pengaturan taktik dan strategi melawan Belanda. Untuk mengatasi kesulitan alat tukar, dicetak uang kertas “OERIP” (Oeang Repoeblik Indonesia Perdjoeangan).
Pasukan Belanda mengetahui tentang keberadaan pemerintahan sipil dan kekuatan militer di Tanjung Sakti. Oleh karena itu, mereka melakukan serangan – serangan dengan menjatuhkan bom di beberapa tempat. Beberapa di antaranya meluluhlantakkan beberapa rumah. Tetapi banyak juga yang tidak meledak, yang kemudian digunakan oleh TNI sebagai bahan untuk merakit senjata guna melawan pasukan belanda. Dapat dikatakan, bahwa Tanjung Sakti tidak pernah di injak oleh kaki tentara Belanda yang ingin menjajah kembali dan Tanjung Sakti merupakan satu – satunya pertahanan di Kabupaten Lahat yang mampu bertahan sampai penyerahan kedaulatan bulan November 1949 (mendahului penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949).


Administratif dan Perjuangan
Seiring perkembangan pemerintahan pusat, system pemerintahan di daeraah – daerah juga mengalami perubahan. Presiden Soekarno mengeluarkan peraturan presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1963 tentang penghapusan keresidenan dan kewedanaan. Dengan demikian, tidak ada lagi pemerintahan kewedanaan tanah pasemah,sehingga mengubah posisi Pagar Alam sebagai Kecamatan Pagar Alam di bawah Kabupaten Lahat.
Awal tahun 1987, tokoh – tokoh masyarakat Pagar Alam berjuang mengusulkan agar kecamatan Pagar Alam menjadi Kota Administratif (Kotif). Terbentuklah panitia, yang kemudian mengajukan surat permohonan kepada Mendagri pada tanggal 15 April 1987. berkat dukungan semua pihak, akhirnya permohonan masyarakat Pagar Alam untuk menjadikan Pagar Alam sebagai kotif dikabulkan Pemerintah Pusat, dengan terbitnya peraturan pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang pembentukan kota Administratif Pagar Alam dan pemekaran wilayah Kecamatan Pagar Alam menjadi 4 kecamatan, yaitu kecamatan Pagar Alam Utara, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kecamatan Dempo Utara, dan Kecamatan Dempo Selatan. Mendagri yang saat itu adalah Rudini, meresmikan Pagar Alam sebagai kotif pada tanggal 15 januari 1992. Mendagri juga melantik Drs. Musrin Yasak sebagai Walikota Administratif Pagar Alam yang pertama dan menetapkan Kota Pagar Alam sebagai Kota Perjuangan.
Pagar Alam menjadi Kota Administratif melalui Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Pagar Alam dan peresmian dilakukan oleh Mendagri pada tanggal 17 Oktober 2001. Gubernur Sumatera Selatan H. Rosian Arsyad atas nama Mendagri melantik Pejabat Walikota Pagar Alam H. Djazuli Kuris pada tanggal 12 November 2001.
Demikianlah kilas balik perjuangan rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemaah, mulai dari zaman “Lampik Empat Merdike Due”, “Sindang Merdike”, dan “Si Penjaga Batas”hingga penyerahaan kedaulatan, yang karena perlawanan gigih, ulet, dan pantang menyerah dari TNI, lascar, Tentara Pelajar, Pemuda – Pemudi Besemah di Pagar Alam dan Sekitarnya, serta rakyat pejuang pada umumnya sehingga kita dapat menyebut kota Pagar Alam sebagai“Kota Perjuanagan”. Sejarah yang sangat heroic ini perlu selalu di kenang dan dijadikan pedoman dalam mengisi kemerdekaan, juga tidak lupa akan selalu menghormati jasa para pahlawan, khususnya yang gugur di Tanah Besemah.

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH SEMINAR NASIONAL PERADABAN BESEMAH KUNO SEBAGAI PENDAHULU KERAJAAN SRIWIJAYA

Arif, N. Permana, dkk. 2008. Kaleodoskop 5 Tahin Pembangunan Kota Pagar Alam.
Pemerintah Kota Pagar Alam. Palembang: Tavern Artwork

Bedur, Marzuki. Dkk. 2005. Sejarah BESEMAH dari Zaman Megalitikum, Lampik Empat Merdike Due, Sindang Merdike ke Kota Perjuangan. Pemerintah Kota Pagar Alam. Jakarta: KDT Perpustakaan Nasional RI.

Mahruf, Kamil, dkk. 1999. Pasemah Sindang Merdike 1821 – 1866. Jakarta: Pustaka Asri

Sumber Lain :
Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Pagar Alam (Lembaran Negara RI tahun 2001 Nomor 88, tambahan lembaran Negara Nomor 4115);

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif
Pagar Alam

Wawancara dengan :
Tumenggung Citra Mirwan (desa Pelajaran Jarai)
Satar (Beringin Jaya, Kota Pagar Alam).




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Blog Themes | Bloggerized by andri pradinata - Gold Blogger Themes | AP14